SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
32


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Kalau kamu jujur bicara sejak awal, aku pasti akan membantu ". Nia mendekati Bowo. "Tapi kamu lebih memilih sembunyi-sembunyikan, jadi tolong jaga bicaramu dan berhenti menyalahkan aku !" Jelas ada nada kesal terdengar dari intonasi suara Nia.


γ€€


"Kalau ada yang mau kalian bahas nanti saja, kalau mau perang pun saya tidak akan melarang tapi nanti ! Nanti saya kasih kalian waktu sepuasnya, tapi sekarang tolong fokus ". Dokter Zaky menatap ke arah Bowo dan Nia secara bergantian.


γ€€


"Kamu sudah berhasil membawanya, tentang segala usaha dia menolakmu untuk ikut, kalian bahas saja nanti. Saya tidak mau tahu masalah itu !" Doker Zaky meminta Bowo berdiri dari kursi yang di dudukinya saat ini.


γ€€


"Anda, duduk !" Perintah dokter Zaky pada Nia persis ke arah kursi di tepi ranjang tempat Bowo duduk tadi. "Lakukan segala yang anda bisa. Sekarang kami mengandalkan anda !" Nia menanguk cepat.


γ€€


Nia duduk memandangi sesaat tubuh tua lemah yang sepertinya sedang tertidur itu. Hatinya bergetar, rasanya Nia ingin menangis, dirinya terlalu iba. "Kamu panggil Ibumu dengan sebutan apa ?" Tanya Nia pada Bowo yang berdiri diam di sampingnya.


γ€€


"Bunda ", jawab Bowo cepat.


γ€€


"Tolong kalian semua mundur, beri ruang saya untuk berbicara pada Bunda !" Dokter Zaky mengiyakan permintaan Nia, pelan si dokter ini memberi instruksi agar Bowo dan si gadis kecil berkuncir tinggi, Lili. Untuk berdiri menjauh dari Nia. Berdiri di dekat dinding kamar yang di cat warna putih.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Suara dering telepon tidak juga berhenti, Edo mulai terlihat kesal. Tanpa melihat siapa si penelepon Edo memilih mematikan sepihak teleponnya, mati total.


γ€€


Suasana rapat mendadak canggung, muka kesal Edo mempengaruhi semua orang yang duduk di meja oval dalam ruangan sejuk ber-ac itu. Semua bisa merasakan suasana hati Edo mendadak berubah, rasanya energi positif sudah mulai lenyap dari wajah Edo, lengkap sudah. Di awali rapat yang harus di undur karena urusan pengecekan persiapan pernikahannya, sekarang terganggu lagi karena dering telepon yang tidak mengerti situasi sang pemiliknya.


γ€€


γ€€


***************

__ADS_1


γ€€


Kristo yakin tujuan Bowo membawa Nia pasti ke arah Rumah Sakit yang tadi di sebut oleh Damar. Tidak diragukan lagi, seluruh kesimpulannya bisa memastikan itulah tujuan Bowo. Kristo pernah mencari tahu latar belakang Bowo saat saang tuan dulu memerintahkannya. Jadi Kristo bisa dengan mudah menebak apa maksud Bowo sebenarnya.


γ€€


"Sudah ada hasil ". Aisakha memperhatikan Kristo telah menutup teleponnya.


γ€€


"Mereka belum yakin tuan, tapi mereka sudah hampir dekat ". Jawab Kristo mengambang.


γ€€


"Kau tahukan aku belum berencana mengampuni nyawamu. Jadi jangan coba menutupi apapun dariku saat ini !" Ancam Aisakha pada Kristo. Sekian tahun bekerja bersamanya tentu saja Aisakha bisa menebak dengan mudah arti gelakat Kristo, termasuk saat Kristo sedang menutupi sesuatu darinya, sedang tidak jujur.


γ€€


"Sepertinya Bowo membawa nona ke Rumah Sakit tempat Ibunya di rawat tuan ". Tahu tidak ada gunanya membohongi sang tuan, Kristo memilih untuk jujur memberitahukan hasil kesimpulannya dari laporan Damar terakhir.


γ€€


"Berani dia membawa Nia ke sana tanpa izinku ". Suara Aisakha terdengar penuh kebencian.


γ€€


***************


γ€€


γ€€


"Bunda, bukalah mata Bunda, lihat aku Bunda ". Sebentuk awan hitam membuat mata Nia berkaca-kaca. Pilu rasanya menyaksikan kondisi seorang Ibu, wanita berharga bagi anak-anaknya begitu tidak berdaya, tersakiti dan bersiap pergi meninggalkan semua karena duka dalam atas kehilangan buah hatinya.


γ€€


Entah kenapa harus sekejam itu mereka ? Kalau hanya untuk harta, bawa saja. Tapi kenapa harus melukai korban hingga menghabisi nyawanya ? Apa mereka tidak punya anak, adik, Ibu ? Apa mereka tidak tahu seberapa dalam sakitnya rasa kehilangan itu ? Aku benci mereka, aku benci kebiadaban mereka, semoga mereka membusuk di penjara agar tidak ada lagi seorang Ibu yang harus menanggung penderitaan seberat ini.


γ€€


Nia merasa ada getaran pelan dari jemari tangan yang di genggamnya.


γ€€


"Bunda..bunda...bukalah mata Bunda ". Nia mempererat gengamannya di jemari yang sangat kecil di dalam tangannya itu. Hanya tulang berbalut kulit saja yang tinggal, benar-benar sosok Ibu yang menangung penderitaan mendalam.


γ€€


Terlihat Bunda membuka mata perlahan, mengerjab beberapa kali menyesuaikan antara cara ruangan dengan retina matanya yang lama terpejam. Sedikit mengerakkan kepalanya, Bunda melihat ke sisi kiri ruangan, tanpa siapapun tahu air mata jatuh di sudut matanya. Ada luka di dalam sana, Bunda sedang merutuki kenyataan bahwa dirinya masih berada di dunia ini, belum pergi meninggalkan semua duka hidupnya dan bertemu Amanda, anak gadis kesayangannya.

__ADS_1


γ€€


"Bunda ". Suara Nia bergetar, susah payah dirinya menahan rasa sedih di dalam hati.Β Ingat Ibu....


γ€€


Bunda mengerakkan kepalanya ke sisi kanan ranjang, mencari tahu suara baru yang tadi memanggilnya.


γ€€


"Bunda ". Nia mengangkat tangan kurus itu dan mendekatkan ke arah bibir mungilnya. Nia mencium dalam pungung tangan wanita yang sedang tersenyum padanya. Senyum kerinduan yang sangat dalam, hingga membuat Bowo meneteskan air mata. Lili pun mulai sesegukan dan memilih menengelamkan wajah imutnya dalam pelukan sang kakak.


γ€€


"Aku sudah lupa kak, seperti apa cantiknya Bunda saat tersenyum ". Guman Lili pelan di dada Bowo.


γ€€


"Bunda...maafkan aku ". Akhirnya runtuh sudah pertahanan air mata Nia. Setetes butiran hangat jatuh menetes di punggung tangan renta itu. Bibir keriput yang terlihat sangat pucat bergerak pelan, Bunda mengucapkan sesuatu tapi sangat pelan, Nia tidak bisa mendengar jelas.


γ€€


Cepat Nia mendekatkan wajahnya ke arah Bunda, dia harus mendengar lebih dekat lagi. Bowo membesarkan bola matanya, gerakan cepat Nia membuat dirinya ingin segera berada di dekat Bunda mencari tahu apa ada sebenarnya.


γ€€


"Kalau Manda mau pergi lagi, tolong bawa Bunda. Jangan tinggalkan Bunda ". Nia mencium kening Bunda, air matanya jatuh sekali lagi. Entah kenapa ada rasa pedih teramat sangat mengiris hatinya mendengar semua ucapan Bunda. Betapa hancur hati seorang Ibu harus terpisah selamanya dengan cara begitu sadis dari anak kesayangannya. Tanpa tanda apa lagi pemberitahuan, tahu-tahu semua terjadi begitu saja.


γ€€


Hilang sudah kemampuan Nia berbicara, naluri sebagai anak yang telah lama di tinggal Ibu membuat dirinya sangat tahu apa arti cinta tulus sebuah hubungan darah. Tak kuasa rasanya, Nia hanya mengeleng pelan sambil membelai pipi pucat Bunda, lama Nia mengulang-ulang gerakan yang sama di pipi pucat itu. Nia ingin Bunda tahu, kalau dirinya tidak akan kemana-mana.


γ€€


"Maukah Bunda melakukan sesuatu buatku ". Di sela derai tangisnya Nia mencoba bersuara. "Maukah Bunda makan dari suapan tanganku ?"


γ€€


Bunda terus tersenyum, sepertinya rasa bahagia benar-benar memenuhi kalbunya. Hilang sudah kekecawaan yang tasi sempat di rutukinya, hilang sudah penyesalan mendapati nyawanya belum juga melayang dari raga tua itu.


γ€€


Bowo memperhatikan Nia mengambil piring yang persis berada di meja, di sebelah ranjang Bunda. Sangat telaten, dengan lembut dan penuh kasih Nia menyuapi sosok wanita yang sepertinya percaya kalau Nia adalah anak kandungnya, Amanda.


γ€€


Satu suapan satu kecupan satu ucapan. "Aku sayang Bunda ". Ucap Nia tepat di saat Bunda berhasil menelan sempurna makanannya.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2