
🌈🌈🌈🌈🌈
Sepanjang sisa perjalanan, Resya lebih banyak diam. Kalau tidak Kristo bertanya, maka Resya memilih berpura-pura melihat sisi lain di jendala mobil. Berusaha menghindari tatapan mata Kristo, sepertinya Resya belum bisa menguasai rasa malunya. Pikirannya masih campur aduk.
“Kita sudah sampai “. Resya menatap Kristo, sesaat mata mereka beradu pandang. Tetapi, Resya dengan cepatnya langsung menghindar. Mengalihkan matanya ke sisi lain dan hebatnya, wajahnya kembali memerah.
Ya ampun, imutnya. Buat aku gemes saja. Batin Kristo dengan senyum di wajahnya.
“Ayo “. Kristo membukakan pintu untuk Resya.
“Te, terima kasih Pak “. Gagap dengan wajah tersipu malu mendapati perlakuan manis Kristo. “Bapak enggak perlu bukakan pintu buat saya. Saya bisa sendiri pak “.
“Saya suka melakukannya. Bolehkan ?” dan Resya hanya menganggukkan kepalanya pelan. Terlihat tidak paham dengan sikap manis Kristo padanya.
“Masuk “. Kristo mempersilahkan Resya jalan.
Resya dan Kristo jalan beriringan. Pintu utama di buka, Resya masih berjalan di samping Kristo memasuki ruang tamu megah di istana Aisakha.
Hingga...
“Noa Resya “. Suara Bayu senang. Bayu yang awalnya terduduk di sofa, persisi di sebelah tangga ke lantai 2 langsung berdiri. Tidak bisa di pungkiri. Ada senyum terkembang di wajah Bayu saat melihat sosok Resya.
“Bayu “. Resya juga membalas sapaan Bayu dengan senang. Ada senyum tulus di wajah Resya. Senyum yang membuat mata lelaki yang sedang berjalan di sampingnya kesal tanpa sebab. Sibuk mengepal tangan kanan dengan rahang mengeras. Sungguh sikap yang sangat mengerikan, namun baik Bayu dan Resya tidak ada yang sadar dengan kobaran api marah di wajah Kristo.
“Wah..nona sudah sehat benar ya “. Mengulurkan tangan hendak bersalaman bersama Resya.
“Ayo “. Menggenggam tangan Resya yang terulur ke arah Bayu, Kristo menarik Resya menaiki lantai 2, mengacuhkan Bayu yang nampak tidak percaya dengan adegan yang sedang berlangsung.
“Bay..saya ke atas dulu ya. Nanti kita sambung “. Memberi kode pada Bayu dengan bibir bergerak tanpa suara. Bayu mengangguk cepat dan melambaikan tangan pada Resya.
“Sudah aku bilang, jangan dekat sama Bayu !” kesal tanpa alasan pada Resya. “Telinganya gak berfungsinya ?” ngomel sesuka hati.
“Ta, tapi..... “, tidak tahu harus bilang apa.
__ADS_1
“Awas kalau berani seperti tadi !” mengancam dengan sungguh-sungguh.
“Bayu, Bayu itu baik Pak. Saya suka....,”
“Aku bilang jangan ya jangan ! Dan tidak boleh suka ". memotong kalimat Resya dengan bentakkan keras. Hingga tanpa sadar, Kristo malah membuat Resya menjadi takut dalam kebingungan.
“Maaf Pak “. Memilih mengalah tanpa tahu di mana salah dirinya. Resya pasrah saat Kristo masih menggenggam tangannya hingga akhir lantai 2.
Salah saya apa ? Kok dimarahin ? Membatin tidak paham.
Kristo dan Resya berhenti di depan sebuah kamar. Masih dengan tangan tergenggam, Kristo mengetuk pintu kamar itu dengan tangan satu lagi
“Tuan, saya sudah datang bersama Resya “.
Ehhh, Pak Kristo menyebut nama aku ya. Seriuskan ? Aduh, kok kedengarannya sangat akrab. Membatin dengan diam-diam memandangi wajah Kristo.
“Tampan “. Bergumam tidak jelas, kelepasan begitu saja. Lupa dengan rasa takutnya tadi.
“Apa ?” Kristo menyadari suara pelan Resya.
Mati aku...gomong apa coba ? Langsung menunduk menutup mulut rapat, malu tiada tara. Boleh masuk ke dalam lobang semut nggak ya ?
“Terima kasih “. Kristo nampak sangat senang. Saking senangnya malah mendekati berbangga diri. Dan menguyel-uyel rambut Resya beberapa kali, membuat Resya malu sekali.
***************
“Aku bosan di rumah terus “. Merengek saat Aisakha telah meninggalkan Nia dan Resya berdua di dalam kamar.
“Aku kangen laboratorium “.
“Sabar..kan tinggal 2 minggu lagi. Nanti kalau sudah kontrol yang kedua, tuan Aisakha pasti izinkan kamu masuk kerja lagi “. Resya mengerakkan kedua alisnya, mencoba menyemangati Resya.
“Iya sih..kata suamiku, kalau semua baik-baik saja aku boleh aktivitas seperti biasa “. Mengangguk menatap Resya.
__ADS_1
“Nia..... “, Resya memegang kedua tangan Nia. “Aku senang sekali, kamu dan calon anakmu baik-baik saja “.
“Semua berkat kamu, Sya “. Tersenyum tulus. “Aku tahu, walaupun beribu kali aku bilang terima kasih, tetap tidak akan bisa membayar pertolonganmu padaku saat itu. Kamu dan Kristo sangat hebat, kerja sama kalian luar biasa. Kenekatanmu mendorong orang gila itu, membuat Kristo memiliki waktu untuk menarik pelatuk senjatanya. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada aku dan calon keponakanmu “.
“Itu, itu hanya kebetulan saja Nia “. Resya melepas tangannya, mendadak menatap ke sisi kanan kamar Nia. Berpura-pura sedang mengagumi isi kamar nan mewah itu.
“Hey...kok wajah kamu merah ?” memegang pipi Resya tanpa dosa.
“Kamu seperti gadis kecil yang lagi malu “. Mengejek Resya yang jelas memang sedang malu.
“Kamu ini, apaan coba “. Menepis tangan Nia.
“Sya.. “. Memaksa Resya menatap padanya. “Resyaaaaaaa “.
“Nia, tentang larutan yang terakhir kamu suruh aku ekstraksi “. Mengalihkan pembicaraan secepat yang dirinya bisa. “Itu sudah aku lakukan. Semua lancar, tinggal pengamatan akhir saja. Aku rasa.... “.
“Resyaaaaaaa “. Nia memaksa wajah Resya menatap padanya. Membuat Resya berhenti mendadak dengan kalimatnya.
“Apa ? Aku ini lagi jelasin kerjaan kantor loh “. Bicara tapi mata bukan ke mata Nia.
“Resyaaaaaaaaaa “. Masih mendesak Resya.
“Oke, oke “. Menghela nafas mengalah telak.
“Pak Kristo itu tampan. Dan aku keceplosan memujinya tadi. Puasssss “. Mengembungkan pipinya salah tingkah.
“Ya Tuhan... Resya “. Mencubit pipi Resya gemas.
“Jangan bilang kamu menaruh hati pada jomblo karatan itu ?” mulai bersiap tertawa.
“Kamu ini...apaan coba, bilang orang karatan “. Tanpa sadar kesal pada Nia.
Dan..... “buaaahahahahaha “. Tawa Nia lepas, bergema begitu saja. Tawa yang nampak jelas bakal sulit di hentikan, hingga membuat Resya yang kesal semakin kesal. Kesal pada kejujurannya terhadap Nia, kesal pada entah apa nama rasa di relung terdalam hatinya terhadap lelaki yang di bilang Nia jomblo berkarat. Resya diam, memasang wajah tidak ikhlas terhadap kebahagiaan sahabatnya itu menertawakan dirinya.
__ADS_1