
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Mama menerima ucapan selamat malam plus kecupan sayang di pipi kanan dan kirinya dari Aisakha dan calon menantunya, mata mama berkaca-kaca, rasanya hidupnya sangat sempurna. Malam ini Mama benar-benar bahagia, dirinya sangat ingin menangis untuk meluapkan kebahagiaannya. Semua berjalan lancar, semua orang di dalam keluarga besarnya menerima Nia sebaik dirinya menerima calon menantunya itu. Keelokan budi Nia, ketulusan hati Nia membuat semua langsung jatuh hati padanya. Nia memang sangat bersahaja, pandai menempatkan diri pada segala usia. Bahkan cucu dari saudara mendiang Papa Aisakha saja, bisa bergelayut manja dalam gendongan Nia, padahal ini baru pertemuan pertama mereka, tapi bayi yang belum genap berusia 2 tahun itu malah tertidur pulas dalam gendongan Nia.
 
Tuhan, jagalah Anak dan menantuku di saat aku tidak bisa bersama mereka nanti.
Berilah mereka kebahagiaan abadi, karena mereka berdua layak mendapatkannya, berbahagia selamanya.
Doa Mama sepenuh jiwa sebelum menutup mata, mengusir penat dan mengantinya dengan kebahagiaan. Malam ini Mama tertidur pulas dalam perasaan haru birunya.
 
 
***************
 
Aisakha melihat sikap Kristo agak beda semenjak dia mendapat perintah agar menemani sang Mama saat tadi ada yang memanggil Mamanya di dekat aula hotel, saat acara perkenalan Nia pada keluarga besarnya akan berlangsung. Jelas dari sudut pandang Aisakha, Kristo terlihat sedang menyimpan sesuatu yang penting. Penasaran sudah pasti, di tambah lagi malam ini Kristo terlihat sibuk mengekor padanya. Bahkan hingga kelantai 2 rumahnya. Sungguh bukan sifat seorang Kristo, kecuali memang sedang ada hal yang sangat penting, begitu kata hati Aisakha.
 
"Pergilah tunggu aku di ruang baca !" Perintah Aisakha pada kristo saat Aisakha sudah berdiri di depan pintu kamar Nia, Aisakha sedang mengantar Nia ke dalam kamar tidur sementara kekasihnya itu sampai mereka resmi menikah nanti.
 
Kristo mengangguk hormat, tidak lupa mengucapkan selamat malam pada calon nyonya mudanya dan tersenyum ramah, hingga sesaat kemudian Kristo sudah menghilang dari pandangan Aiskha dan Nia.
 
"Ada apa sayang ?" Tanya Nia heran melihat sikap Kristo pada Aisakha.
 
"Apa ?" Tanya Aisakha seperti orang yang salah dengar.
 
"Itu, Kristo. Ada apa dengannya sayang ?" Nia memperbaiki pertanyaannya.
 
"Nia, kamu memanggilku apa ?" Tanya Aisakha tidak percaya.
 
"Sa, sayang ". Jawab Nia terbata-bata. Kalau di awal spontanitasnya terasa sangat gampang untuk mengucap kata sayang. Tetapi tidak sekarang, mendadak bibir Nia kaku memanggil Aisakha dengan kata sayang saat Aisakha memandang antusia padanya. "Kan Mas, milikku. Kesayanganku ", wajah Nia bersemu merah, dia sedang sibuk mengigit bibir bawahnya.
 
Ini bukan kali pertama Nia memanggil Aisakha dengan kata Sayang, selama ini meskipun belum terbiasa, tetapi Nia telah mencoba. Namun malam ini tentu saja berbeda bagi Nia, malam ini Nia benar-benar sudah selesai dengan masa lalunya dan dirinya sudah jujur pada Aisakha, bahwa dia sangat mencintai Aisakha. Nia telah memberikan segenap hatinya pada calon suaminya itu. Jadi wajar saja bukan ? Kalau bagi Nia, kata sayang yang terucap dari bibirnya malam ini terasa sangat berbeda. Malam ini terasa spesial, Nia sedang berusaha membiasakan diri memanggil kekasihnya itu dengan kata yang selalu diharapkan Aisakha akan terucap tulus dari hatinya.
 
"Ya Tuhan...apa kamu tahu Nia, aku merasa sangat, sangat bahagia malam ini. Entah apa kebaikan yang aku lakukan semalam, hingga malam ini Tuhan membalasnya dengan begitu luar biasa. Kamu adalah sumber kebahagiaanku Nia, mengetahui kamu telah menjadikan aku satu-satunya pemilik hatimu, aku sangat berbangga diri. Lebih-lebih mendengarmu memanggilku sayang dengan bibir mungilmu itu ". Aisakha menatap dalam kedua mata Nia.
 
"Terima kasih Syania, terima kasih telah melabuhkan hatimu hanya padaku ". Aisakha memeluk erat Nia dan mengecup dalam puncak kepala wanita cantik itu. Rasanya Aisakha ingin terus seperti ini, dia terlalu bersemangat malam ini.
 
__ADS_1
"Terima kasih juga sayang, kamu tidak pernah menyerah untuk sabar menunggu aku menyudahi kepahitan masa laluku. Mas, jangan tinggalkan aku ya ". Pinta Nia bersungguh-sungguh.
 
 
***************
 
"Tuan...", Kristo langsung berdiri dan menyapa Aisakha hormat, saat tahu Aisakha telah membuka pintu ruang baca dan berjalan masuk kedalamnya.
 
Setelah memastikan Nia telah nyaman di dalam selimut hangat di ranjang kamar tidur Nia, Aisakha pun meninggalkan kekasihnya itu dengan wajah semeringah. Hatinya sedang bernyanyi senang sambil berjalan ke ruang baca.
 
"Duduklah !" Perintah Aisakha pada Kristo sambil memposisikan dirinya juga duduk di sofa singel persis di sebelah Kristo.
 
"Di dalam laporanmu dulu, kenapa tidak ada tentang kehebatan Nia bermain piano dan kemampuannya beryanyi ?" Tanya Aisakha sambil memperbaiki posisi duduknya.
 
"Maaf tuan, untuk poin itu saya memang baru tahu tadi. Saat saya melihat kehebatan nona dengan piano, maka saya menelusuri ulang profil nona ". Sekarang Kristo menyerahkan handphonenya pada Aisakha. Aisakha menerima itu dan membacanya perlahan di dalam hati.
 
"Oooo, jadi dulu keluarga Nia memiliki sebuah piano ?" Guman Aisakha saat selesai membaca hasil penelurusan Kristo tentang Nia.
 
Kristo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas gumaman Aisakha barusan. Sebenarnya Kristo ragu, suara gumaman Aisakha itu di tujukan untuk dirinya atau tidak, tetapi Kristo tetap memilih merespon juga dengan caranya.
 
 
"Benar tuan ", Kristo pun masih setia mengiyakan penuturan Aisakha barusan.
 
"Karena itu, Nia tidak pernah bermain piano lagi ?" Aisakha memandang Kristo.
 
"Tidak pernah tuan, itulah penyebab saya tidak menemukan tentang kemampuan nona memainkan alat musik waktu pencarian informasi tentang nona kamaren dulu ". Jawab Kristo cepat.
 
"Kalau begitu, kirimkan gambar piano ini pada Pakde. Pastikan Pakde juga mempersiapkan piano ini sebagai salah satu hadiah spesialku untuk kado pernikahan kami nanti ! Aku ingin Nia selalu bebas bisa bermain pianonya seperti masa kecilnya dulu !" Cepat, Kristo langsung menyanggupi permintaan sang tuan padanya.
 
"Lantas, penyebabmu sangat ingat berbicara denganku bukan karena hal itu saja bukan ?" Sekarang Aisakha dapat melihat raut wajah Kristo berubah serius.
 
"Bukan tuan, ada sesuatu yang sangat penting ". Jawab Kristo sambil memainkan jarinya di layar handphone, Kristo sedang mencari sesuatu di sana.
 
"Ini tuan ". Kristo kembali menyerahkan handphonenya pada sang tuan.
__ADS_1
 
Wajah Aisakha langsung berkerut tidak senang saat melihat isi layar handphone Kristo yang di tunjukkan padanya.
 
"Sebaiknya kau punya alasan bagus tentang ini ! Kalau tidak aku tidak akan segan menghancurkan hapemu hingga menjadi serpihan terkecil ". Kristo tahu sang tuan sedang cemburu, sedang marah dengan gambar di layar handphonenya.
 
"Tuan ". Kristo mencoba menyampaikan sebuah berita penting dengan sangat tenang. "Tuan lihat kedua lelaki ini ". Tunjuk Kristo ke arah kanan dan kiri layar handphonenya. Kristo sedang menunjuk wajah 2 wajah lelaki di sana.
 
"Hemmm", jawab Aisakha malas.
 
"Yang berdiri di sebelah kanan lelaki dari masa lalu nona itu adalah Toni. Dia sahabat Edo sejak mereka SMP ". Aisakha mengembalikan handphone Toni dengan kasar saat mendengar nama Edo di sebut.
 
"Tuan, Toni dan nyonya saling kenal ". Sekarang Kristo melihat ekspresi tidak percaya dari Aisakha.
 
"Tuan ingat, tadi saat tuan dan rombongan hendak masuk ke dalam aula tadi, ada suara lelaki muda memanggil nyonya ?" Kristo melihat Aisakha hanya mengangguk pelan merespon pertanyaannya.
 
"Jadi yang memanggil nyonya tadi adalah Toni. Ternyata Toni adalah anak dari nyonya Miranda, teman nyonya sesama pendiri dan pengurus panti asuhan di Jaya Lana. Toni mengenal baik nyonya karena seringnya dia mengantar Ibunya di setiap kegiatan panti asuhan tersebut ". Terlihat oleh Kristo, Aisakha sedang menarik nafas panjang.
 
"Dan saat nona bernyanyi sambil bermain piano tadi, Edo dan Toni sedang mencoba masuk ke aula tempat tuan dan lainnya di dalam ". Aisakha sedang menahan amarahnya, rahangnya terlihat mengeras oleh Kristo.
 
"Apa maksudmu ? Bagaimana ada lelaki itu juga ?" Tanya Aiskha tidak percaya.
 
"Awalnya saya juga tidak tahu tuan, tiba-tiba saja saya mendengar suara ribut di luar pintu aula. Ternyata menurut pengawal, yang bernama Edo itu sedang berusaha masuk ke dalam, dia ingin menemui tuan. Ingin sekedar berbaik-baik bersama tuan, dengan harapan bisa menjalin hubungan kerja sama antar perusahaan nantinya. Tetapi pengawal melarangnya dan mengusirnya pergi, hingga tanpa sengaja dia mendengar suara nona saat nona hampir selesai bernyanyi. Si Edo itu terlihat rusuh, dia ingin tahu siapakah wanita yang sedang beryanyi di dalam aula ". Sampai di sini, Kristo melihat wajah Aisakha sudah sangat murka. Kristo menarik nafas panjang, ada rasa takut di dalam hatiny melihat kemarahan Aisakha.
 
"Saya mengusirnya tuan dan mereka di kawal pergi meninggalkan hotel ". Aisakha mendadak berdiri berjalan ke arah meja baca di dekat posisinya duduk tadi.
 
"Bagaimana dia biasa ada di hotelku ?" Tanya Aisakha heran.
 
"Dia sedang glady tuan. Terakhir saya mendapatkan informasi kalau dia sedang glady untuk acara pernikahannya senen besok ". Jawab Kristo pelan.
 
"Apa arti semua ini ? Nia baru saja sepenuhnya membuka hati untukku, kenapa di saat itu lelaki ini muncul ?" Suara Aisakha terdengar bingung. Dan Kristo tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan sang tuan barusan.
 
"Kris, perlihatkan foto lelaki itu pada semua pengawal dan seisi orang di rumah ini ! Kalau mereka melihat dia berada dekat Nia, walaupun dalam radius 500 meter, segera jauhkan Nia darinya. Nia hanya milikku, aku tidak ingin lelaki itu muncul lagi di kehidupannya !" Kali ini Aisakha sangat serius dengan ucapannya, tangannya terkepal kuat di atas meja baca, Asakha siap mengamuk hebat saking marahnya.
 
__ADS_1