SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
179


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


“Selamat datang tuan Kristo “. Manajer toko menyambut kedatangan Kristo dengan sopan. “Mari, mari “.


“Permintaan tuan sudah siap “. Berbicara sambil memberi kode pada pelayan wanita yang tadi mengantarkan Kristo dan Resya.


“Semua persis seperti permintaan tuan “. Memberi keyakinan. Kristo hanya diam mendengar celotehan manajer, sedangkan Resya sama sekali tidak tertarik dengan bahasan orang di sekitarnya. Dia tidak mengerti.


“Ini, tuan “. Pelayan wanita telah menyerahkan satu kotak kecil berwarna cokelat tua dengan ukiran ukuran berbantuk daun di sekeliling kotak.


Kristo menerima kotak itu, mengamati bagian luar kotak dengan seksama. Bagus, Kristo menarik kesimpulan untuk keseluruhan tampilan kotak.


Kemudian, Kristo membuka perlahan tutup kotak itu. Si Manajer menahan nafas, ada perasaan khawatir dengan hasil akhir pendapat Kristo nanti. Sedang Resya, lagi-lagi diam. Merasa tidak mengerti dan merasa bukan urusannya tentang kegiatan Kristo bersama kotak cokelat itu.


Kristo mengamati isi kotak, satu cincin emas bertahta permata berkilau. Sisi kiri dan kanan permata itu ada lekukan kecil yang membentuk bunga, abstrak mememang. Tetapi, jelas itu adalah bunga.


Cantik sekali, Kristo nampak puas.


“Bagaimana tuan ?” Si Manajer bertanya sangat antusia.


“Entahlah “. Kristo memberi jawaban mengambang.


“Resya “. Melirik ke arah Resya yang hanya diam. “Kamu coba ini “. Menyodorkan kotak.

__ADS_1


“Hah, aku Pak ?” Merasa salah dengar.


“Iya, kamu “. Mengeluarkan cinci dari kotak dan mendekatkan ke jari manis kanan Resya.


“Kenapa aku, Pak ?” Protes, tetapi jari manisnya pasrah menerima cincin dari Kristo.


“Cantik “. Memuji Resya. Tetapi, entah pada wajah Resya atau cincin di jari manis Resya. Karena mata Kristo sibuk menatap dalam wajah Resya.


“Iya sih “. Resya mengelus cincin yang melingkar pas di jari manisnya. “Sangat indah “.


“Iya, indah “. Membeo ucapan Resya, mata masih menatap dalam pada Resya.


“Ini buat siapa Pak ?” Bertanya dengan ibu jari masih mengelus cincin yang di yakini Resya pasti sangat mahal.


Ah, buat orang spesial ya ? Pasti cewekkan ? Membatin dengan perasaan sakit yang entah berasal dari mana. Kok rasanya enggak enak sih dengar jawaban seperti itu.


“Menurut kamu, apa dia akan senang menerima cincin ini ?” Bertanya sambil menerima cincin yang telah di lepaskan Resya dari jarinya. Perasaan Resya sedang kacau dan Kristo seperti tidak tahu itu. Kristo masih saja lancar bertanya tanpa beban.


“Pasti Pak, apa lagi Bapak telah mempersiapkan cincin ini dengan sebaik mungkin “. Menjawab sambil menyembunyikan perasaan kecewa yang mendalam.


“Benar nona, tuan Kristo merancang sendiri desain cincin. Kemudian, untuk permatanya tuan Kristo langsung mengimpor dari Kanada. Itu permata langka nona “. Manajer memberi penjelasan yang semakin membuat perasaan Resya teraduk-aduk.


“Kalau untuk orang yang spesial, pasti perlakuannya spesial jugakan tuan ?” Manajer begitu yakin, Kristo mengangguk mengiyakan, dan Resya. Dirinya mulai merasa pengap di dalam ruangan itu.

__ADS_1


“Bapak lanjut dulu ya. Aku izin ke toilet bentar “. Resya segera berlalu, meninggalkan Kristo yang sepertinya memang tidak sadar dengan suasana hati Resya saat ini.


Resya akhirnya menemukan toilet wanita yang telah di jelaskan oleh seorang pelayan lelaki padanya.


Resya berdiam di sana, bingung dengan suasana hatinya yang mendadak berubah.


“Kenapa juga aku harus baper saat cincin seindah itu melingkar di jari aku coba ?” Bergumam sambil menatap wajahnya di cermin.


“Terus, kenapa juga bilang cincin itu buat orang yang spesial dalam hidupnya ? Dia itu gak mikir apa, gimana perasaan aku mendengar kejujurannya tadi ?” Iba pada diri sendiri.


“Itu, itu yang Nia bilang sama dengan tuan Aisakha ?” Kecewa.


“Itu yang Nia suruh aku menurut gimana perlakuan dia sama aku ?” Tambah kecewa.


“Aku bodoh, sempat menaruh perasaan akan jadi yang istimewa di hatinya. Aku bodoh berharap ada arti di balik pertemanan manis kami “. Mata mulai berkaca-kaca. “Jelas dia sudah memiliki seseorang, jelas aku hanya teman baginya “.


Resya membasuh wajahnya dengan air mengalir. Menarik nafas dalam, mencegah air matanya jatuh. Resya sedang berjuang menelan kepahitan hatinya saat ini.


“Sudah Resya, sudah. Kamu yang salah, siapa suruh punya perasaan lain atas perhatiannya “. Memandangi wajahnya sendiri di cermin. Mengenaskan, wajahnya berhias kekecewaan dengan mata sibuk menahan tetas gelombang kabut hitam.


“Aku gak sanggup “. Menempelkan kening di kaca, persisi di depannya.


Resya melangkah keluar toilet, berjalan cepat menuju pintu keluar toko. Bukan berjalan menuju ruangan Manajer tempat Kristo menunggunya.

__ADS_1


Resya pergi, berlalu begitu saja tanpa pamit. Hanya meninggalkan pesan singkat pada pelayan lelaki yang sangat ramah padanya. Meninggalkan pesan singkat untuk Kristo.


__ADS_2