
Semua Baik-Baik Saja
πππππ
γ
"Tuan". Refleks Kristo berdiri dari tempat duduknya dan langsung membungkuk memberi hormat, saat menyadari bahwa Aisakha dan Nia telah berada di akhir anak tangga, turun ke lantai satu.
γ
Wah, wajah tuan berseri-seri, banyak bintang dimatanya. Apa yang sudah aku ya lewatkan semalam? Kristo.
γ
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Aisakha pada Kristo.
γ
"Sudah tuan". Jawab Kristo cepat.
γ
"Ya sudah, nonton saja dulu". Dengan menggunakan matanya Aisakha menunjuk televisi yang jaraknya beberapa meter di depan tempat duduk Kristo.
γ
"Pagi Kristo". Sapa Nia sebelum mengikuti langka Aisakha menuruni tangga terakhir apartemennya.
γ
"Pagi Nona". Jawab Kristo sambil menunduk hormat. "Nona sudah sehat?" Tanya Kristo kemudian.
γ
"Iya. Seperti yang kamu lihat". Nia tersenyum sambil sedikit mengangkat kedua tanganya sebagai bukti semua perkataannya tadi.
γ
"Sukurlah nona..sukurlah". Kristo tersenyum untuk kebahagian Nia.Β Ternyata mata nona juga banyak bintangnya. Aku ikut bahagia untuk nona dan tuan. Sukurlah.
γ
"Ayo". Aisakha mengandeng Nia dan berjalan menuju meja makan.
γ
"Pak, Pak". Bibi sibuk menyikut pelan lengan sang suami saat melihat Aisakha dan majikan kecil mereka berjalan sambil bergandeng tangan ke arah meja makan. "Aura kebahagiaannya terasa banget Pak, Ibu sampe mau nangis lihat kemesraan tuan dan si non".
γ
"Bapak sudah liat pagi tadi Bu". Jawab Pakde setengan berbisik pada sang isteri.
γ
"Owallah..Ibu dong yang telat". Bibi menepuk pelan jidadnya sendiri. "Tapi enggak apa telat Pak, yang penting Ibu jadi salah satu saksi". Bibi terlihat antusia, walaupun terdengar suaranya setengah berbisik.
γ
"Saksi apa ya Bu?" Pakde terlihat tidak mengerti.
γ
"Saksi kalau hari ini tuan sama si non sudah jadian, hehehe". Bibi tertawa pelan sambil menutup mulutnya dengan tangan.
γ
"Semoga badai ini segera berlalu ya Bu, nyonya Ros cepet sehat. Biar tuan sama si non cepet nikah". Doa Pakde tulus.
γ
"Dan kita cepet punya cucu Pak". Tanpa sengaja Bibi mengutarakan ucapannya dengan suara lantang.
γ
"Cucu siapa Bi?" Tanya Nia saat hendak duduk di kursi yang telah di siapkan Aisakha untuknya. Rupanya Nia mendengar suara Bibi tadi.
γ
Waduh. Denger toh. Owallah, keceplosan aku.
γ
Bibi menatap sang suami, jujur enggak. Kira-kira itu arti tatapannya? Memohon pendapat Pakde untuk jawaban terbaik dari pertanyaan Nia.
__ADS_1
γ
Pakde yang seakan mengerti arti tatapan sang isteri hanya tersenyum memandangi isterinya yang merasa tertangkap basah sedang membicarakan majikan mereka. Kemudian Bibi menatap Aisakha yang terlihat santai saja dengan ucapan yang dilontarkannya tadi. Apa mungkin tuan gak denger aku bilang apa.
γ
"Heheheh". Bibi sibuk cengegesan. "Ituloh non, cucu...". Bibi sekali lagi memandangi Pakde, memberi tatapan bertanya dan yang di pandangi hanya bertahan dengan senyumannya saja. Tanpa jawaban pasti.
γ
"Cu-cucu buat Bibi dan Pakde". Lanjut Bibi sambil tersenyum malu sendiri.
γ
"Siapa yang kasih Bibi sama Pakde cucu?" Tanya Nia dengan lugunya sambil bersiap memasukkan suapan pertama pecal sayur dan telor rebus kedalam mulutnya.
γ
"Ehemmm". Aisakha terlihat sedikit berdehem, sejujurnya Aisakha sedang berusaha menahan tawa saat mendengar pertanyaan polos Nia. Walaupun di awal dia tidak mengerti arti ucapan Bibi yang menyatakan segera memiliki cucu. Tetapi kemudian setelah dijelaskan Bibi bahwa yang di maksud dirinya adalah cucu untuk mereka, untuk Bi Kartik dan Pakde. Aisakha bisa langsung memahami kemana arah pembicaraan Bibi.
γ
Wehhhh...tuan ngerti rupanya maksud perkataanku. Hehehehe.
γ
Berbeda dengan sang kekasi, Nia terlihat tanpa dosa malah balik bertanya. Dari mana asal cucu yang di maksud oleh asisten rumah tangganya itu.
γ
Si non kok nanyanya santai banget? Apa iya si non enggak ngerti kalau aku menyindirnya? Bibi malah memberi tatapan bingung pada Pakde, sang suami.
γ
"Ya dari non dan tuanlah". Pakde memutuskan mewakili sang isteri untuk menjawab pertanyaan Nia barusan.
γ
Nia berhenti mengunyah, menatap malu pada Bibi dan Pakde bergantian, wajahnya bersemu merah. "A-apa sih Pakde sama Bibi ini". Nia sangat malu.
γ
Aisakha memasang sikap biasa saja, santai tanpa merasa terbebani dengan jawaban asisten rumah tangga dan sopir Nia. Aisakha terlihat tetap tenang sambil menikmati sarapannya, meskipun dia tahu kalau saat ini wajah Nia sedang merona.
γ
γ
"Gimana?" Setengah berbisik di telinga Nia, Aisakha mengajukan pertanyaan. Setelah tahu Bi Kartik dan Pakde telah meninggalkan mereka sarapan berdua di meja makan.
γ
"Apa ya Mas?" Nia malah balik bertanya.
γ
"Ya tentang buat anaknya, gimana?" Aisakha meletakkan sendoknya makannya dan sambil menopang kepalanya dengan tangan, dia menatap serius ke arah Nia.
γ
"Hahaha". Nia tertawa canggung. "Jangan aneh-aneh Masnya". Nia terlihat meneguk air putih dari gelas di dekat tangan kanannya. Nia grogi sendiri.
γ
"Kamu tuh sayang, aku serius di bilang aneh". Aisakha pura- pura memasang wajah kecewa.
γ
Kok gituh ekspresinya ya? Nia merasa bersalah.
γ
"Mas, habis ini aku ke Rumah Sakit ya". Nia langsung mencari topik lain untuk mereka bicarakan. Sengaja, dirinya ingin mengalihkan fokus pikiran Aisakha dari pembahasan tentang anak.
γ
"Kamu yakin udah sehat benar?" Aisakha menjawab pertanyaan Nia dengan pertanyaan balik.
γ
"Sudah sayang". Spontan kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Nia, bahkan lengkap dengan senyum manisnya sebagai bukti ucapannya.
γ
__ADS_1
Sayang? Serius sudah bisa bilang sayang. Bahagianya aku Tuhan, sudah dua kali dia memanggilku sayang sepagi ini.
γ
"Bisa ulangi?" Aisakha bersikap seakan-akan tidak terlalu jelas mendengar jawaba Nia tadi.
γ
Waduh, keceplosan bilang sayang. Masa iya aku ulangi? Malu ah Mas. Lagi Nia memilih meneguk air putih di dekat tangan kanannya demi mengurangi efek grogi dan malunya dia atas jawaban spontannya tadi.
γ
"Mas enggak usah kawatir, aku baik-baik saja. Udah sehat, udah enggak papah". Nia terlihat bersemangat.
γ
Kok beda? hahaha, pasti baru nyadar ya. Mengemaskan sekali. Aisakha tersenyum simpul dengan cara Nia mengulang kata-katanya. Salah, lebih tepatnya menganti kata-katanya.
γ
"Baiklah, kalau kamu memang sudah merasa sehat. Kamu boleh lihat Bibi. Tapi Mas temani".
γ
"Mas gak pulang?" Nia terlihat ragu. "Mungkin Mamanya Mas sudah menunggu kepulangan Mas".
γ
Aisakha diam, sedang berpikir apa yang diutarakan oleh Nia.
γ
"Okeh, kita kerumah. Lihat Mama dulu, setelah itu baru ke Rumah Sakit". Aisakha memberi solusi pada Nia.
γ
"Mas yakin sekarang waktu yang tepat buat ngenalin aku sama Mama?" Nia terlihat masih ragu.
γ
"Sangat". Jawab Aisakha cepat sambil meletakkan tangan kanan Nia di atas tangan kanannya.
γ
Tapi............. Nia.
γ
"Bagaimana kalau Mama Mas menolak aku?" Nia masih belum bisa menghilangkan keraguannya.
γ
"Nia, jawab Masmu ini. Apa yang buat kamu ragu!" Aisakha meletakkan tangan kirinya di atas pungung tangan Nia yang masih bertahan di atas tangan kanannya tadi.
γ
"Aku takut Mas, Mamanya Mas akan menolakku". Mata Nia mulai berkaca-kaca. Sepertinya dia jujur mengungkapkan betapa takut dirinya saat ini.
γ
"Sayang, Mama tipe Ibu yang sangat menyayangi anaknya. Beliau tidak suka membedakan orang, siapapun itu. Semua sama bagi Mama. Mama itu sangat lembut, sangat sabar. Bukan jenis wanita yang perlu kamu takutkan. Percaya sama Mas, kamu akan suka sama Mama". Jelas Aisakha sambil memperbaiki rambut Nia kembali kebelakang telinganya.
γ
"Kok aku masih ragu Mas". Tangan Nia mulai teras dingin.
γ
"Loh, kok sampe dingin tangannya?" Aisakha mengosok punggung tangan kanan Nia.
γ
"Takut Mas". Jawab Nia jujur.
γ
"Sudah, sudah. Kalau kamu belum siap, Mas enggak akan maksa. Kalau memang belum sekarang tidak masalah. Suatu hari nanti pasti akan waktu yang tepat kamu mas kenalkan sama Mama. Sudah ya, jangan kamu jadikan beban pikiranmu". Aisakha pun mendekatkan tangan Nia ke arah bibirnya, walaupun dirinya sangat ingin Nia segera bertemu sang Mama. Tetapi dia tidak ingin memaksa Nia, Aisakha ingin bila saat itu tiba. Nia benar-benar sudah siap, tanpa paksaan, tanpa beban, tanpa ketakutan.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ