SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
128


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Seminggu berlalu dari peristiwa suatu pagi saat Nia menangis dengan tangan menggenggam bungkusan kecil plastik, plastik yang menjadi pembungkus sesuatu.


γ€€


Sudah 2 hari ini, Aisakha tidak menemukan jenis benda yang sama di dalam tempat sampah di kamar mandi mereka. Dalam diam, Aisakha memperhatikan kebiasaan sang isteri. Sepertinya Aisakha tahu kalau Nia sengaja meletakkan benda itu begitu saja di dalam tempat sampah, agar dirinya bisa melihat ke sana dan mengetahui perkembangan hari-hari Nia saat dia sedang datang tamu bulanan.


γ€€


Malam ini, setelah selesai membersihkan diri, Aisakha naik ke atas ranjang besar tempat Nia sudah tertidur lelap. Hari ini pekerjaannya sangat banyak, hingga Nia sengaja di mintanya pulang duluan sore tadi. Kalau biasanya pasangan suami isteri ini akan pulang sama-sama dari gedung utama Sunjaya Company, tetapi tidak untuk tadi.


γ€€


Pekerjaan yang menumpuk, jadwal ke Gorontalo untuk pengecekan cabang perusahaannya di sana yang semakin dekat. Alhasil, sore hingga malam Nia hari ini di habiskan bersama sang Mama mertua, Mamanya Aisakha. Dan sepertinya Nia cukup lelah, Aisakha telah naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Nia. Tetapi Nia hanya diam saja dan terlihat tetap pulas tanpa sadar kalau sang suami sedang menatap wajah teduhnya.


γ€€


Jadi, datang bulannya sudah selesai ya sayang ? Batin Aisakha. Berarti kita bisa memulai kegiatan olah raga seperti biasa lagi ya ?


γ€€


Aisakha memperbaiki rambut panjang Nia yang terhimpit kepalanya, Aisakha takut kulit kepala Nia akan terasa sakit karena hal itu.


γ€€


Ehh, tunggu. Kalau memang sudah selesai. Seharusnya tanggal aku ke Gorontalo, itu adalah saat Nia..... Batin Aisakha seperti menemukan sesuatu yang berharga. Bagus, kenapa aku tidak manfaatkan moment itu sebagai bulan madu kami saja ? Toh aku hanya sebentar mengurusi cabang di sana, selebihnya aku bisa minta Kristo turun tangan mewakili aku dan aku bisa fokus buat anak. Aisakha tersenyum senang mensetujui ide yang baru di lontarkan batinnya.


γ€€


β€œBaiklah nyonya Aisakha, istirahatlah sebaik mungkin. Karena beberapa hari lagi, aku akan membuat kamu selalu meneriakkan namaku setiap menit β€œ. Aisakha mengecup lama kening Nia, memperbaiki selimut yang menutupi pelukan mereka, barulah setelah itu terpejam. Larut dalam mimpi dan harapan untuk mentari pagi hari.


γ€€


***************


γ€€


Sama-sama di waktu Indonesia bagian barat, sama telah menikmati putaran hari


Maka, percaya atau tidak, langit di Kota Bengkulu juga sudah malam.


γ€€


Sepasang suami isteri juga sedang berusaha tertidur, mengistirahatkan badan dari berbagai perasaan yang menggelayut dalam hati masing-masing.

__ADS_1


γ€€


Kemala sudah berbaring di ranjang ekstra, yang di khususkan untuk penjaga pasien. Dengan wajah di palingkan dari Edo, Kemala berpura-pura tidur.


γ€€


Seminggu ini Kemala selalu melaksanakan tugasnya sebagai isteri dengan sangat tulus, menjaga Edo dan memastikan segala keperluan Edo terpenuhi dengan baik. Bahkan untuk mengelap wajah Edo yang biasa di lakukannya pagi hari, tetap di laksanakan Kemala dengan suka cita. Dengan senyum dan dengan ikhlas, wujud cinta Kemala pada sang suami.


γ€€


Sepenuh jiwa, Kemala melakukan semua hal tersebut. Berusaha berbakti kepada sang suami, wujud bakti sebelum dirinya akan berpisah dari Edo. Sedih, tetapi semua sudah menjadi keputusannya. Semua sudah final, Kemala sudah sangat berlapang hati. Edo layak bahagia, itulah sekarang yang menjadi prioritas Kemala. Semua demi Edo, cinta Kemala mengharuskan agar dirinya untuk melupakan harapan dan cita-citanya menjadi isteri sepenuhnya di kasihi oleh Edo.


γ€€


Saat Kemala sedang berusaha berpura-pura tidur, Edo justru sedang gelisah di ranjangnya. Berkali-kali dirinya mengganti posisi tidurnya, kadang ke kiri kadang ke kanan. Tetapi tetap saja posisi favoritnya ke arah kanan, di mana Edo bisa melihat punggung wanita yang sedang mengandung anaknya, wanita yang hampir 2 bulan ini menyandang status sebagai isteri sahnya.


γ€€


Sudah seminggu ini proses pemulihannya berjalan baik. Kalau perkembangan kesehatannya semakin meningkat, 2 hari lagi dokter mengizinkan Edo untuk keluar Rumah Sakit.


γ€€


Selama seminggu ini, Kemala benar-benar mengurusi dirinya dengan sangat lembut, tetapi di dalam diamnya. Penuh perhatian dan penuh cinta, tetapi tidak banyak bicara. Hingga membuat Edo terheran-heran, bagaimana bisa Kemala begitu bersabar padanya. Dalam kondisi hamil muda, malah terkadang masih harus berjalan cepat ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Tetapi, tetap saja selalu memprioritaskan dirinya. Sosok suami yang tidak mencintai dia, yang menyiksa Kemala dengan sangat kejam di malam pertama mereka.


γ€€


γ€€


Ah, apa dia sengaja membelakangiku ? Apa dia sengaja membiarkan dirinya tidak tertidur nyaman demi menghindari mukaku ? Batin Edo.


γ€€


Selama seminggu ini, Edo berpikir keras. Pergolakan batin terjadi di hatinya. Memandangi Kemala setiap hari, melihat ketulusan isterinya itu. Edo bertanya-tanya, apa yang sebenarnya hatinya mau ? Jelas Edo bisa merasakan keteguhan hati Kemala untuk bercerai saat dirinya telah benar-benar sembuh nanti. Kemala tanpa di paksa, secara sadar mengatakan mengajukan cerai, akan membebaskan dirinya dari kehidupan rumah tangga yang tidak diharapkan oleh Edo. Bahkan Kemala sangat baik padanya, berjanji akan menghilang bersama anak mereka dari kehidupan dirinya. Akan membesarkan buah hati mereka tanpa perlu Edo bertanggung jawab apa-apa.


γ€€


Seharusnya hati Edo bersorak bukan ? Lepas dari Kemala, lepas dari belenggu rumah tangga, bahkan lepas dari tanggung jawab sebagai seorang Ayah. Tetapi entah kenapa, perasaan Edo tidak bisa merasakan setitik saja rasa senang. Peluang dirinya mencari cinta yang baru terbuka lebar, tetapi kata hatinya mengatakan bukan itu yang di inginkan.


γ€€


Edo kembali memiringkan badannya ke sisi kiri ranjang, kegelisahannya semakin dalam. Padahal jam sudah hampir berputar di waktu tengah malam, matanya masih saja enggan terpejam.


γ€€


Tiba-tiba...


Kemala bangun, berjalan cepat menuju kamar mandi. Edo spontan terduduk, memperhatikan Kemala yang pasti sedang memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


γ€€


Beberapa saat berlalu, Kemala berjalan kembali ke ranjangnya dengan wajah lelah.


γ€€


β€œApa kamu muntah lagi ?” Tanya Edo bersimpati. Dan, Kemala hanya mengangguk untuk menjawab Edo dan kembali berjalan ke arah ranjangnya.


γ€€


β€œApa ada cara untuk membuat muntahmu sedikit berkurang ?” Edo kembali bertanya hingga membuat Kemala berhenti melangkah. Dan kali ini, Kemala memilih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Edo.


γ€€


Edo menatap wajah Kemala, wajah cantik yang terlihat lelah.


Kenapa sulit sekali berbicara dengan kamu, Mala ? Batin Edo bingung menghadapi sikap diam Kemala.


γ€€


β€œBoleh aku minta tolong sesuatu ?” Tanya Edo yang lagi-lagi membuat Kemala berhenti melangkah. Dan seperti biasa, gerakan leher dan kepala yang akan di pakai Kemala sebagai jawaban untuk pertanyaan Edo, Kemala menganggukkan kepalanya.


γ€€


β€œTolong tidur di sini β€œ, Edo menepuk sisi ranjangnya. β€œAku tidak bisa tidur β€œ. Edo menatap mata Kemala. Ada rasa kaget di sana, sesaat mata mereka saling berpandangan.


γ€€


Kemala tampak ragu, mengalihkan matanya dari tatapan Edo. Kemala diam mematung, tidak melanjutkan langkahnya kembali ke ranjangnya dan tidak pula berjalan ke arah ranjang Edo, memenuhi permintaan Edo.


γ€€


β€œAku tidak akan menyakiti kamu, Mala. Aku hanya ingin kamu ada di sini bersamaku ! Aku benar-benar tidak bisa tidur β€œ. Ucap Edo jujur. Sedang Kemala, terlihat mengelus perut ratanya.


γ€€


β€œAku juga tidak akan menyakiti dia β€œ, ucap Edo mengarah ke perut Kemala.


γ€€


Tarikan nafas dalam dan hembusan nafas dalam pula, Kemala sedang menimbang-nimbang. Akhirnya Kemala memulai langkahnya, dalam diam dirinya memilih memenuhi permintaan Edo. Naik perlahan ke sisi ranjang kosong di samping Edo. Berbagi ruang untuk merebahkan tubuh lelahnya.


γ€€


Edo tersenyum, mengecup pipi Kemala dan meletakkan tangannya di atas perut Kemala. Tidak butuh waktu lama, Edo sudah larut dalam tidur nyenyak dan mimpi indah. Meninggalkan Kemala yang diam memperhatikan wajah sang suami yang sekarang sudah tampan seperti ingatannya selama ini.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2