
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Sudah 2 minggu usia pernikahan Nia dan Aisakha, sepasang suami isteri ini benar-benar sedang di mabuk manisnya madu pernikahan. Terlebih Aisakha, lelaki tampan yang sangat bucin terhadap sang isteri, setiap ada kesempatan dirinya selalu mencuri-curi waktu terbaik untuk menempel pada Nia, seperti anak kucing pada induknya. Padahal jangan di tanya seperti apa merajuknya Nia dengan ulah sang suami, tetapi Aisakha memang sangat tergila-gila pada Nia. Aisakha sangat suka membuat Nia meneriakan namanya, hingga wanita cantik ini akan kelelahan dan tertidur pulas.
 
Seperti pagi tadi, jelas hari ini adalah hari dimana Nia akan melalukan grand opening untuk laboratorium baru yang dibuatkan Aisakha khusus untuk dirinya. Tapi apa yang terjadi ? Nia malah terkurung di dalam pelukan suami tercinta di atas ranjang mereka. Aisakha benar-benar membuat Nia meneriakan namanya dalam, untung saja sang Mama sedang tidak berencana memanggil mereka ke kamar atas. Kalau tidak entah apa yang akan di dengarkan wanita paruh baya itu di sana.
 
"Kamu luar biasa Nia ", kecupan hangat mendarat di kening Nia dari Aisakha.
 
"Aku tergila-gila padamu isteriku ", Aisakha memeluk tubuh Nia yang penuh peluh dengan nafas terengah-enggah.
 
"Dan aku kelelahan sayang ", aku Nia yang sedang berusaha mengatur nafasnya kembali normal.
 
"Padahal hari ini aku sudah menjabat sebagai Kepala Laboratorium loh. Eh, aku malah terlambat ". Nia mencubit lengan Aisakha. Alih-alih mencubit, karena rasa lelah yang mendera. Yang ada malah sebentuk usapan yang terasa oleh Aisakha. Lelaki tampan ini hanya tersenyum.
 
"Sebentar, aku akan telepon Krsito ". Aisakha berusaha mengapai handphonenya.
 
"Mau ngapain ?" Nia heran.
 
"Mau bilang kalau acara pembukaan laboratorium di undur, minggu jadinya !" Jawab Aisakha acuh.
 
"Apa ? Mana bisa seperti itu sayang ", Nia berusaha bangun dari pelukan Aisakha, dengan selimut melilit tubuhnya.
 
"Biasa dong nyonya Aisakha ! Apa kamu lupa kalau aku adalah pemilik Sunjaya Company ?" Lagi-lagi Aisakha terdengar acuh.
 
"Iya tapi enggak gituh juga. Gimana aku sama para penelitiku, apa kata mereka ?" Nia berhasil berdiri. Hingga...
 
"Aaaaa....sayang ", Aisakha tanpa dosa menarik selimut yang menutupi tubuh polos Nia. Nia terjatuh tepat di dalam pelukan Aisakha kembali.
 
__ADS_1
"Isteriku, kenapa kamu mengoda aku lagi ?" Aisakha menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya tadi kamu bilang mau ke laboratorium ?" Aisakha melihat wajah Nia merona merah, antara malu dan kesal.
 
"Sayang....sudah ". Sekuat tenang Nia berusaha menjauhkan bibir sang suami dari tubuhnya.
 
"Aku mau saja sudah, tetapi kamu berhentilah mengodaku Nia !" Jawab Aisakha sambil benar-benar sibuk dengan bibirnya masih di tempat favoritnya di tubuh Nia.
 
"Aisakhaaaaaa...", kali ini Nia berhasil membuat sang suami berhenti sibuk dengan bibirnya.
 
"Oooo, berani memanggil suamimu hanya dengan menyebut namanya saja ya. Jadi kamu benar-benar berencana membuat kita seharian di sini ?" Aisakha menangkup Nia di bawah kungkungan tubuh kekarnya. "Ingat...kamu yang sudah mengodaku ya !" Kali ini Aisakha membuat bibir mereka menyatu lama.
 
"Bagaimana nyonya Aisakha ?" Tanya Aisakha saat dirinya memberi jedah penyatuan bibir mereka, agar Nia bisa menarik nafas dalam. Kembali memenuhi paru-parunya dengan oksigen.
 
"Sudah, sudah...ampun ", Nia menatap iba pada Aisakha, matanya di buat sedemikian hingga untuk menyakinkan sang suami tercinta. "Yaaa..sudah ya, ampun ".
 
Aisakha diam, tahu Nia sudah bisa bernafas baik.
 
 
"Nanti lagi, ya. Sekarang kita ke kantor ya. Nanti kita lanjutkan ". Nia tersenyum seindah mentari pagi.
 
"Janji ". Aisakha menjauhkan bibirnya dari bibir Nia.
 
"Iya sayangku, suamiku, cintaku ", Nia mengecup pipi kanan Aisakha.
 
"Jangan coba menghindar ya ? Ingat Nia, kamu sudah janji !" Nia langsung mengangguk cepat.
 
"Kalau kamu berani pura-pura lupa, aku akan mengendongmu, Nia. Di depan semua orang ". Aisakha menyuarakan ancamannya. Nia bergidik ngeri.
 
"Janji suamiku ", lagi-lagi Nia tersenyum secerah mentari. Ternyata tidak semudah dugaannya dalam hal merayu sang suami yang seperti bocah lima tahun ini, begitu gemar menempel padanya, tergila-gila pada tubuhnya.
__ADS_1
 
"Kalau begitu ayo kita mandi ", tanpa menunggu jawaban sang isteri, Aisakha langsung mengendong Nia masuk ke kamar mandi.
 
*******************
 
Kristo duduk di bagian depan mobil sedan mewah sang tuan. Seperti biasa, si sekretaris Aisakha ini akan duduk tenang di samping sopir yang melajukan kendaraan memecah lalu lintas Kota Jakarta.
 
Seharusnya jam 10 pagi ini Aisakha sudah selesai dengan peresmian gedung baru di belakang bagian bangunan utama Sunjaya Company. Gedung yang di buat menjadi laboratorium baru untuk sang nyonya muda. Tidak hanya itu, seharusnya sang majikan di jam 10 lewat sekarang ini sudah memimpin rapat di ruang meetingnya untuk membahas grafik saham perusahan. Tetapi apa realitanya ? Kristo hanya bisa mengelengkan kepala. Kalau sudah begini, Kristo harus sangat bersabar. Jadwal di susun ulang, tamu di minta menunggu dan dirinyalah yang harus memastikan semua tetap berjalan baik, meskipun tertunda berjam-jam lamanya.
 
Kristo memandang sekali lagi jam di pergelangan tangannya, kepalanya membuat gerakan mengeleng pelan.
Sabar........
 
*******************
 
"Siapa yang minum susu itu ?" Suara sang nyonya membuat si pelayan wanita Kemala sedikit terkejut.
 
"Untuk nona, nya ", si pelayan menunduk hormat.
 
"Susu dengan rasa ?" Si nyonya mengangkat kotak susu, membolak balik sambil membaca.
 
"Ini bukan susu biasa bi ?" Wajah sanga nyonya kaget.
 
"Benar nyonya ". Bibi masih mengangguk hormat.
 
"Astaga.....Kemala ?" Wajah sang nyonya lebih kaget lagi di bandingkan tadi.
 
"Cepat panggil dokter !" Suara keras sang nyonya membuat seisi dapur terlihat menciut.
 
__ADS_1