SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
167


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


“Kenapa di telepon gak di angkat ?” Bertanya dengan wajah berada di dekat sisi kanan tangan Resya.


“Astaga Bapak “. Merapatkan kedua tangan di dada. “ Bapak mau buat saya kena penyakit jantung “. Resya nampak memang sangat terkejut dengan kehadiran Kristo.


“Enak saja “. Menunjuk kening Resya. “Kamu itu, aku sudah panggil kamu tapi kamunya diam saja “.


“Serius ?” tidak percaya.


“Mau nuduh aku bohong ?” Memasang tampang tidak terima. Dan telunjuk kembali di arahkan ke kening Resya.


“Ya..bukan gituh Pak “. Cengegesan sambil memegang jari telunjuk Kristo. “Soalnya saya memang enggak dengar Bapak datang “.


Kristo diam, genggaman jemari resya di telunjuknya terasa beda. Entah apa, yang jelas Kristo menatap ke sana.


Aduhhhh !!!! Resya...kenapa juga itu jari si Bapak pake di pegang. Membatin, sadar kemana arah mata Kristo menatap.


“Maaf Pak “. Melepaskan begitu cepat genggamannya, terlalu cepat hingga lebih terkesan menghempaskan tangan Kristo.

__ADS_1


“Heh, mau matahin jari aku ya ?” suara keras hingga membuat Resya terlonjak, dan rekan kerja Resya yang lainnya menjadi takut.


“Bu..bukan Pak “. Sangat takut. “Maaf Pak...Maaf “.


“Kamu itu, sudah di panggil enggak dengar. Nuduh aku bohong, sekarang main hempaskan jari aku “. Memarahi Resya. “Kamu kenapa sebenarnya hah ?”


“Maaf “. Hanya mampu menunduk. Merutuki diri sendiri dengan ulah tidak sengajanya tadi.


“Kalau enggak suka sama aku ya sudah “. Berbalik badan.


“Bu, bukan..bukan Pak “. Menggeleng cepat. “Aku suka kok sama Bapak “. Suara keras membuat semua rekan sekerjanya terpelonggo tidak percaya.


“Sumpah “. Mengangkat tinggi jari tengah dan telunjuk ke udara, sangat berharap Kristo percaya.


“Kamu bilang apa tadi ?” Berbalik menghadap Resya, membuang senyum di wajahnya dan berganti tatapan malas.


“Aku, aku minta maaf Pak “. Terbata-bata.


“Bagus..harus tahu diri kamu “. Sok-sok marah demi jaga pencitraan.


“Jadi, saya di maafkan ?” memasang tampang polos.

__ADS_1


“Emmmm, boleh “. Berpura-pura berpikir. “Tapi ada syaratnya “.


“Apa Pak “. Tersenyum senang, terbayang akan selamat dari masalah besar kalau sampai seorang sekretaris sekalibar Kristo marah padanya.


“Bantuin aku memenuhi keinginan nona muda “. Menatap serius.


“Kenapa Ibu Kepala ?” Cemas.


“Nona ngidam aneh dan tuan bingung memenuhinya. Tetapi kata nona, kamu tahu solusinya. Aku terlibat dalam hal ini, tuan meminta aku bisa melaksakan semuanya dan sama persis. Jadi, kamu harus bantu aku !” Kristo melihat Resya hanya diam. Sepertinya dia tidak mengerti.


“Kamu ngerti ?”


“Enggak “. Jawab polos.


“Nona pengen makan mie celor yang dulu pernah kalian makan bareng di Bengkulu. Kata tuan, mantanmu itu yang membawa kalian makan ke sana “. Memberi penjelasan dengan ekspresi tidak senang.


“Ooooo, iya, iya. Dulu Resky memang pernah membawa aku dan Nia makan mie celor di Prapto “. Tersenyum senang. Seakan tidak terpengaruh dengan perkataan kesal Kristo barusan. “Di sana mie celornya memang enak “.


Kristo tidak senang, entah kenapa. Senyum di wajah Resya membuat hatinya merasakan sesuatu yang tidak enak.


Jelas aku menunjukkan rasa tidak suka dalam penyebutan kata mantannya, tetapi dia malah tersenyum senang. Apa dia masih memikirkan lelaki itu ? Belum bisa melupakannya ? Ah, kenapa aku kembali memikirkan tentang dia. Seperti kurang kerjaan saja, mikiran permintaan tuan tentang ngidam nona saja sulit. Apa lagi ini. Membatin sambil menatap Resya yang mendadak sekarang menjadi terdiam, senyum terkembangnya hilang, wajahnya berubah sendu.

__ADS_1


“Kalau kamu tahu tentang makanan yang sedang di pengenin sama nona, sekarang ikut aku ! Kita pergi untuk membuatnya !” Berusaha mengacuhkan perubahan cuaca di wajah Resya. “Aku tunggu di mobil, segeralah !” Berbalik badan, berjalan menuju pintu laboratorium.


“Ba, baiklah “. Menangguk pelan.


__ADS_2