SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 91


__ADS_3

Sahabat


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Aisakha mengangkat jemari Nia yang tengah mencengkram erat tangannya, tepat ke arah bibirnya. Dengan penuh kasih, Aisakha mengecup jemari belahan jiwanya itu. "Luapkan kesedihanmu sayang, jangan bersembunyi di balik tameng ketegaran yang kamu buat. Dihadapanku, jadilah sosok Syania seutuhnya, Syania yang aku cintai. Dan aku juga mencintai kelemahanmu".


 


"Aku sangat takut". Aku Nia pada Aisakha.


 


"Aku tahu, aku pun begitu. Tetapi dokter tengah berusaha keras menolong Bibi di dalam sana. Dan kita semua di sini harus saling bahu-membahu untuk saling menguatkan, saling mendoakan Bibi". Aisakha mencoba mengurangi rasa takut Nia.


 


"Dan, dan kamu jangan tinggalkan aku". Pinta Nia pada Aisakha dengan mata yang mulai berkaca-kaca kembali.


 


"Hanya maut yang akan memisahkan kita, hanya itulah yang menjadi penyebab, aku suatu saat nanti tidak akan ada di sisimu". Janji Aisakha pada Nia.


 


Dan aku akan memohon pada Tuhan agar mengambil nyawaku terlebih dahulu sesaat sebelum kamu, karena aku tidak akan sanggup melalui hari esok tanpa kamu, Aisakha.


 


Nia mendekatkan kepalanya dan menempelkannya pada kepala Aisakha, "terima kasih". Ucap Nia dengan tulus.


 


Aisakha bisa merasaka hangatnya hembusan nafas Nia diwajahnya. Dia tersenyum, dia sangat yakin kalau saat ini Nia telah benar-benar membuka diri padanya. Walaupun dengan cara yang pelik dan penuh derai air mata yang disiapkan Tuhan untuk mereka. Tetapi Aisakha akan selalu teguh memegang janjinya pada Nia, selamanya dirinya hanyalah milik Nia seorang. Hatinya, Jiwanya, raganya, telah tertulis sebagai milik Syania Fira Sujoko.


 


Sekarang apa yang harus dia lakukan untuk Bibi Ros? Aisakha mulai berpikir.


 


Aisakha kemudian memilih duduk di samping Nia, membawa Nia kedalam pelukkannya. Dan berusaha mencari keberadaan Kristo.


 

__ADS_1


Merasa sang tuan sedang membutuhkannya, sigap Kristo mendekat ke arah Aisakha. "Tuan". Ucap Kristo pada Aisakha.


 


Nia mendengar suara Kristo, tanpa melepaskan pelukkannya dari Aisakha, Nia pun menganggukkan kepalanya pelan kepada Kristo.


 


"Nona". Balas Kristo hormat pada Nia.


 


"Segera cari tau apa sebenarnya yang terjadi pada Bibi Ros dengan meminta penjelasan dari pihak Rumah Sakit. Lalu, hubungi pihak Kepolisian. Cari tau perkembangan kasus Bibi ini!" Perintah Aisakha pada Kristo.


 


"Baik tuan". Kristo pun berencana akan segera melaksanakan perintah Aisakha.


 


"Satu lagi". Suara Aisakha pun menghentikan langkah Kristo. "Minta Rumah Sakit Bunga Raff agar menyiapkan kamar kusus untuk Bibi nanti". Lagi Aisakha memberi perintah pada Kristo.


 


Rumah Sakit milik tuan, untuk apa? Kristo tidak bisa memahami makna perintah Aisakha yang terakhir.


 


 


**********


 


Wulan, Resya dan Anita meminta izin pada Profesor Yandi untuk mendekat ke arah Nia. Mereka sangat ingin memeluk sahabatnya itu, saling berbagi duka bersama. Sedari awal mereka sampai pun, mereka sudah berusaha melakukannya. Tetapi saat mereka melihat sang Presdir telah terlebih dahulu menghampiri Nia, semua keinginan itu pun langsung mereka batalkan.


 


"Pergilah". Kata Profesor Yandi pada ketiga sahabat Nia itu. "Tetapi jangan membuat Presdir merasa terganggu". Profesor Yandi memperingatkan Wulan, Resya dan Anita.


 


"Baik Prof". Jawab Resya mewakili kedua temannya.


 

__ADS_1


"Ayo". Resya mengandeng lengan Wulan dan Anita.


 


Saat mereka melewati Bowo, Anita sempat memandangi Bowo yang sedang bermain handphonenya. Terlihat sedang mengetik sesuatu.


 


"Presdir". Wulan memberi hormat pada Aisakha. Wulan sebagai yang di daulat oleh Resya dan Anita maju satu langkah di depan kedua temannya, bertugas sebagai penyapa Nia yang pertama. Tetapi tentu saja sebelum menyapa Nia yang terlihat sangat nyaman dalam pelukan Aisakha. Maka mereka harus menyapa dan memberi hormat kepada Aisakha terlebih dahulu.


 


"Hemmm", jawab Aisakha singkat.


 


Nia langsung mengangkat kepalanya, menata ke arah tiga sahabat wanitanya itu. "Wulan, Resya, Anita, kalian di sini". Nia berdiri dan memeluk satu persatu sahabatnya itu.


 


"Iya, kami datang tidak lama setelah Presdir sampai". Ucap Wulan saat melepas pelukannya pada Nia.


 


Benarkah? Berarti mereka melihat semua?


 


"Kami pasti datang Nia, sahabat selalu ada dalam suka dan duka". Ucap Resya sambil memeluk Nia.


 


"Terima kasih ya Sya. Kalian memang sahabat terbaikku". Balas Nia saat memeluk Resya.


 


"Semoga Bibi Ros segera pulih". Dan Anita mendoakan Bibi Ros saat dirinya berpelukan dengan Nia.


 


Aisakha hanya memperhatikan ketiga sahabat Nia yang dengan tulus memberi semangat pada Nia. Ada rasa senang di dalam hatinya, tahu bahwa Nia dikelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya.


 


Berbahagialah sayang...

__ADS_1


 


 


__ADS_2