SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
24


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Damar sudah mewawancari semua orang yang mungkin ada di sekitar pantry dan toilet di sana di kisaran waktu 40 menit yang lalu. Satu persatu di temui Damar, dengan setengah bersabar Damar terus meminta semua orang yang ditanyainya untuk mencoba mengingat kembali sosok sang nona. Damar berharap akan ada yang bisa memberi jawaban padanya, sedikit petunjuk saja tentang hilangnya majikan barunya itu. Tapi lagi-lagi Damar mengurut dada, Nia seakan memang hilang begitu saja. Tidak ada satu pun yang melihat keberadaannya sedari tadi.


 


Dengan sisa tenaga, Damar mencoba berlari menuju tempat Satriyo dan Pakde sekarang, percuma bagi Damar bertahan di pantry, dia tidak mendapatkan petunjuk apapun.


 


"Dimana ?" Damar mendekatkan handphonenya ke arah telinga saat menerima panggilan masuk dari Satriyo.


 


"Sebentar lagi aku sampai di tempatmu ". Damar semakin mempercepat langkahnya.


 


"Segerlah. Aku tahu siapa pelakunya !" Damar berhenti, ada rasa senang sesaat mendengar Satriyo memberi kabar begitu berharga padanya. "Cepat !"


 


"Iya ". Tanpa berpikir lagi, Damar segera melanjutkan gerakan larinya menuju ruang cctv tempat Satriyo sekarang.


 


***************


 


Nia masih berusaha bertahan di dalam mobil Bowo, dia masih menolak semua bujuk rayu Bowo agar dirinya segera turun. Sepertinya kesabaran Bowo benar-benar di uji saat ini.


 


"Ayolah ". Bowo melembutkan suaranya.


 


"Tidak ". Nia mulai mencari cara untuk menjauh dari Bowo


 

__ADS_1


"Nia, jangan paksa aku. Kamu sendiri yang bersedia ikut. Kamu sendiri yang janji mau nolong aku ".


 


"I, iya. Tapi kenapa ke sini ? Mau ngapain ?"


 


"Karena di sini tempatnya. Ada yang ingin aku tunjukkan, aku mohon. Kamu mau tahu rahasiakukan ? Maka ikutlah denganku !"


 


"Tidak perlu ke sana, kamu ceritakan saja di sini !"


 


"Cerita tanpa bukti apa gunanya ". Bowo memegang bahu Nia. "Lihatlah sendiri setelah itu bantu aku !"


 


Nia berpikir sesaat, aku iyakan saja. Saat di lengah aku akan kabur.


 


***************


 


 


"Dia ". Tunjuk Satriyo pada layar televisi yang telah di berhentikan sesaat. "Sekitar toilet di pantry tidak dipasangi kamera-kamera pengawas. Tapi parkiran selatan ada kameranya. Nampak jelaskan kalau nona ada di dalam mobil itu ?"


 


"Tapi nona ?" Damar terlihat bingung. "Nona terlihat naik mobil itu tanpa paksaan ". Damar menatap Satriyo ".


 


"Satu lagi, toilet di ruang kerja nona tidaklah rusak. Lelaki itu yang memasang merek bertuliskan kata rusak ". Sekarang Satriyo menunjuk kotak kecil di sudut layar rekaman cctv. "Kau lihat, dia sengaja memasangnya ".


 


Damar menatap lekat gambar hitam putih di sudut kecil layar televisi tempat yang Satriyo tunjukkan tadi, Damar mencoba mengingat kemungkinan dirinya mengenali sosok lelaki yang sengaja membelakangi kamera.

__ADS_1


 


"Aku rasa aku kenal dia ". Guman Damar pelan. Damar sedang berpikir.


 


"Benarkah ?" Satriyo terlihat antusia. "Cepat ingat, berusahalah !".


 


"Den Bowo, itu den Bowo ". Ternyata Pakde berhasil mengenali sosok Bowo yang tampak belakang di kamera. Damar kalah cepat.


 


"Astaga, benar fillingku selama ini !" Damar mengeleng tidak berdaya.


 


"Apa, ada kejadian apa sebelumnya ? Kalau kita mau segera menemukan nona, maka kita harus segera merunut segala kemungkinan yang ada !" Kepala Keamanan cabang Perusahaan sudah berdiri berjalan ke arah Damar.


 


"Lelaki itu memang Bowo. Apa yang di katakan Pakde benar, dia rekan seprofesi nona di laboratorium. Beberapa hari ini gelagatnya terlihat aneh, di secara terang-terangan berani menyentuh nona. Saat aku memintanya menjauh dari nona, dia seakan marah padaku. Aku sudah coba memperingati nona tentang keanehan sikapnya, tapi aku enggak pernah menyangkan akan kecolongan seperti ini ".


 


"Coba hubungi Profesor Yandi. Mungkin dia tahu ada apa sebenarnya antara Bowo dan nona !" Perintah Satriyo pada Damar.


 


***************


 


"Baiklah, setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh pengacara terdakwa. Maka dengan ini sidang di tunda selama 2 hari. Silahkan bagi pihak pembela mempersiapkan materi banding sesuai dengan peraturan perundang-undangan ". Tok, tok, tok. Suara keras palu yang mulia Hakim mengema di setiap sudut ruang sidang.


 


"Kalian harus tolong aku, apapun caranya !" Bagas masih sempat mengucapkan permohonan sebelum petugas penjaga penjara di Kantor Pengadilan membawa Bagas kembali ke sel tahanannya.


 


"Pasti, dan anda sendiri tolong jaga sikap. Dengarkanlah saya kali ini, anda benar-benar harus jaga sikap ". Bagas menganguk pelan sambil terus berjalan di bawah kawalan para petugas.

__ADS_1


 


 


__ADS_2