SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 120


__ADS_3

Cerita Aisakha (1)


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Mas, maukah kamu menceritakan siapa dirimu?" Dengan mata yang sengaja di pejamkan, Nia mengajukan sebuah permintaan kepada Aisakha. Jauh di dalam hatinya, Nia sangat ingin mengenal seperti apa sosok lelaki yang telah berhasil meenjadi pemiliki seluruh jiwanya. Lelaki yang telah memenangkan cintanya, membuat seorang Syania berani memprokramirkan perasaan terdalamnya tanpa ragu, tentu saja Nia sangat ingin mengenal kekasih tercintanya itu.


γ€€


Setelah memastikan Nia telah meminum obatnya, Kristo kembali meninggalkan sang tuan dan Nia di dalam ruang periksa, agar dapat beristirahat sambil menunggu proses operasi Bibi Ros selesai. Sedang Kristo sendiri memilih kembali duduk berjaga di kursi tepat di ruang periksa Nia.


γ€€


Aisakha terlihat masih setia membelai rambut Nia yang tengah berbaring dengan kepala di pangkuannya. Begitu banyak kebahagiaan yang di dapat Aisakha hari ini, setelah semua usahanya untuk membuka hati Nia padanya dan berjuang untuk mendapatkan cinta sang kekasih. Akhirnya hari itu tiba juga, Nia sekarang benar-benar membalas cintanya. Nia bahkan dengan terang-terangan jujur mengungkap isi hatinya kepada Aisakha pagi tadi. Lelaki mana yang tidak berbahagia, harapan untuk bersama belahan jiwa sudah di depan mata. Tinggal selangkah lagi, niat mulia Aisakha untuk mengikat Nia dalam tali suci pernikahan akan terlaksana. Di depan Tuhan, dirinya akan memiliki Nia seutuhnya, semua yang ada pada Nia. Dan begitu pula sebaliknya, Nialah satu-satunya wanita halal yang akan menjadi pemilik dirinya.


γ€€


Aisakha adalah milik Nia, lelaki seorang Syania. Aisakha tersenyum sendiri dengan kaliamat yang baru di patri hatinya di dalam kalbu.


γ€€


"Mas". Nia telah lama membuka matanya, terlihat jelas sesaat tadi Aisakha sedang begitu asyik berada dalam alam pikirannya sendiri, hingga sekarang terlihat oleh Nia, kekasih hatinya itu sedang tersenyum. Senyum yang begitu indah, seakan pancaran dari jiwa terdalam di tubuh Aisakha. Nia sampai ingin menyentuh wajah Aisakha dan mendekatkan wajah yang terlihat super tampan dalam senyum bahagianya itu, tepat ke arah bibirnya.Β Astaga apa yang sudah aku pikirkan. Nia...Nia....Nia...kenapa bisa berpikir tentang bibir tuan tampan ini.


γ€€


"Kenapa wajahmu merona sayang?" Aisakha membelai pipi Nia dengan ibu jarinya. "Apa yang sedang kamu hayalkan, ha?"


γ€€


"Bu-bukan apa-apa". Nia berusaha tenang. Walaupun sebenarnya jatungnya berdegub kencang karena perasaan malunya, seakan dia merasa tengah tertangkap basah sedang melakukan perbuatan tercela terhadap bibir Aisakha yang tadi sempat membuat dirinya tergoda.


γ€€


"Jangan boong, inget...boong itu dosaloh". Aisakha mengingatkan Nia.


γ€€


"Hahaha". Nia tertawa canggung. "Sungguh Mas. Aku tadi memanggil Mas, ada yang mau aku tanyakan, tapi Masnya diam saja".


γ€€


"Trus...?"


γ€€


"Trus, aku buka mata lihat Masnya lagi senyum. Jantungku berdebar, Mas sangat tampan". Mendadak suara Nia menjadi pelan.


γ€€


Aisakha tersenyum di dalam hatinya, betapa bersyukurnya dia saat ini. Memiliki kekasih yang begitu bisa membuat dirinya bahagia. Hanya dengan melihat dan mendengar sebuah pengakuan yang terucap dari bibir Nia saja, walaupun di utarakan dengan suara sangat pelan. Tetapi efeknya luar biasa bagi Aisakha, dia merasa berbangga diri telah menjadi satu-satunya lelaki yang bisa membuat Nia merona.Β Tuhan memang menciptakanmu dari tulang rusukku sayang.


γ€€

__ADS_1


"Hanya tampan sajakah?" Aisakha masih membelai pipi Nia yang merona dengan ibu jarinya.


γ€€


"Jujur, Mas sangat tampan". Ucap Nia sambil menutup wajahnya.


γ€€


"Dirimu juga sangat cantik sayang". Aisakha membuka pelan kedua tangan Nia yang di pakai untuk menutup wajahnya. Perlahan Aisakha menundukkan badannya dan mulai mengecup dalam kening Nia. Kecupan sayang yang bersalah dari rasa sayangnya hanya kepada Nia. Aisakha ingin Nia tahu, bagaimana dirinya memuja kekasihnya itu.


γ€€


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Aisakha mulai kembali duduk seperti awal.


γ€€


"Tentang diri Mas. Maukah Mas ceritakan diri Mas?" Nia mengulang permintaannya pada Aisakha.


γ€€


"Kamu mau aku mulai dari mana?" Aisakha terlihat serius menanggapi permintaan Nia.


γ€€


"Masa kecilmu bersama kedua orang tuamu".


γ€€


γ€€


"Aku anak tunggal, untuk bagian itu kamu sudah taukan". Aisakha masih menatap lurus ke depan. "Papa dan Mama harus menunggu dua tahun pernikahan hingga aku hadir di rahim Mama. Kata Mama, itu masa yang cukup lama, tetapi Mama benar-benar bersukur akhirnya aku hadir menyempurnakan kehidupan Papa dan Mama".Β  Nia mulai memejamkan matanya, dia ingin menerawang memasuki dunia Aisakha.


γ€€


"Sebenarnya, Mama pernah cerita. Setelah aku berumur dua tahun Mama pernah hamil kembali, tapi semua tidak berjalan dengan seharusnya, Mama mengalami pendarahan saat usia kandungannya dua bulan. Dan...", Aisakha memejamkan mata menarik nafas panjang.


γ€€


Suaranya terdengar bergetar, apakah dia sangat bersedih kehilangan calon adiknya ?


γ€€


"Papa dan Mama melimpahkan aku begitu banyak kasih sayang. Rasanya aku tidak pernah kekurangan cinta mereka. Bagaimana pun sulitnya, Papa dan Mama selalu ada". Aisakha kembali melanjutkan ceritanya.


γ€€


"Seingatku Papa adalah lelaki yang sangat sibuk. Di saat aku mulai bisa mengingat, Papa adalah sosok ayah paling bertanggung jawab. Beliau pekerja keras, selalu berusaha memberi yang terbaik untuk aku dan Mama. Tapi, sesibuk apapun Papa, dirinya selalu ada untukku". Aisakha tersenyum membayangkan wajah sang ayah.


γ€€


"Apakah sangat berat bagimu saat Papamu pergi?" Ternyata Nia telah membuka matanya, memandangi Aisakha yang sedang tersenyum di akhir cerita tentang sang ayah.


γ€€

__ADS_1


Aisakha hanya diam, pikirannya menerawang ke masa duka kelam yang sangat menyakitkan itu. Kehilangan sosok lelaki hebat yang selalu ada untuknya, sosok lelaki hebat yang mengajarkan cara menjadi lelaki bermartabat dan pelindung keluarga, sosok lelaki hebat yang mengajarkan ketegasan dan kemanusiaan pada dirinya, sosok ayah yang benar-benar sempurna di matanya. Tiba-tiba sosok lelaki hebat itu pergi selamanya, menutup mata di saat Aisakha muda masih sangat memerlukannya, masih sangat bergantung pada sang Ayah, tentu semua terasa sangat menyakitkan, sangat berat. Aisakha tengelam dalam rasa kehilangan yang sangat dalam, serasa semua sudah tiada arti lagi.


γ€€


"Sangat, aku sangat kehilangan Papa. Itu masa berat dalam hidupku, sangat kelam". Aisakha jujur pada Nia. "Aku sempat berusaha membohongi diri sendiri, kalau Papa masih hidup, Papa hanya terlambat pulang kerja. Jadi aku menunggu dan menunggu setiap malam. Hingga aku sadar, Papa tidak akan pernah kembali".


γ€€


Nia, memegang tangan Aisakha yang dipakainya untuk membelai pipi Nia. Nia mendekatkan tangan tersebut ke bibirnya. Nia mengecup dalam telapak tangan sang kekasih. "Maafkan aku". Ucap Nia lirih.


γ€€


"Tidak masalah, semua sudah berlalu". Aisakha memperhatikan Nia masih mempertahankan telapak tangannya di bibir tipis Nia.


γ€€


"Bagaimana caramu menerima kenyataan tentang Papa?" Nia sekarang malah sedikit memiringkan badannya kearah kanan, membelakangi Aisakha.


γ€€


"Suatu malam, di saat aku masih bertahan dengan harapanku kalau Papa akan kembali. Di malam itu aku mendapati Mama menangis sambil memeluk foto Papa. Mama begitu tak berdaya, begitu rapuh". Aisakha merapikan rambut Nia kebelakang punggung wanita cantik itu. "Mama terlihat berkali-kali lipat lebih hancur dariku". Aisakha terdengar menghembuskan nafas panjangnya sekali lagi. "Melihat kondisi Mama, aku sadar. Aku telah melakukan kesalahan besar, aku harusnya ada di samping Mama. Menyemangatinya, membantunya melalui semua duka kami. Bagaimana pun Mamalah sosok yang paling kehilangan Papa, Mamalah sosok yang telah mengarungi puluhan tahun hidupnya bersama belahan jiwanya itu. Hingga Akhirnya Papa meninggal, itu pasti duka yang teramat sangat".


γ€€


"Dan setelah itu, kamu bangkit?"


γ€€


"Iya, kejadian itu serasa tamparan berat bagiku. Aku harus bangkit, masih ada Mama yang memerlukanku. Kamu tau Nia. Aku memlih keluar dari sekolah formal dan beralih home schooling agar bisa membagi waktu, antara menjalankan perusahaan Papa dan menamatkan sekolah".


γ€€


"Dan kamu berhasil Mas". Puji Nia tulus. Saat ini Nia telah berbalik badan kesebelah kiri, sehingga dia bisa bebas menatap Aisakha.


γ€€


"Awalnya sulit, tapi akhirnya iya, aku bahkan punya gelar S2 dari Universitas ternama di London".


γ€€


"Kamu beruntung Mas. Pernah merasakan hidup berlimpah kasih sayang dan perhatian dari sosok ayah, tidak seperti aku". Terlihat ada mendung di wajah Nia. "Aku tidak pernah bisa membayangkan wajah Ayah, apa lagi mengenang caranya menyayangiku.


γ€€


"Dan kamu juga berhasil melalui masa sulit itu, kamu tumbuh menjadi gadis remaja yang kuat dan sangat di sukai semua orang. Kamu cerdas dan selalu membuat Ibu dan nenekmu bangga. Aku yakin, ayahmu juga sangat bangga padamu". Aisakha menatap dalam mata coklat Nia.


γ€€


"Mas, siapakah wanita pertama yang mengisi hatimu?" Tiba-tiba Nia menganti pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang sangat pribadi dari kehidupan Aisakha. Tetapi jujur, Nia ingin tahu. Dia sangat penasaran dengan kisah percintaan sanga kekasih jauh sebelum mereka bertemu. Seperti apa sosok wanita yang pernah menjadi pemilik hati kekasihnya itu, sebelum Nia hadir dalam hidup seorang Aisakha.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2