SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 57


__ADS_3

Mimpi Buruk (1)


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Dua stel baju di tambah satu sex taxido, serta 4 jenis mainan berbeda adalah hasil akhir dari perburun Nia untuk si tampan Alex. Nia masih tersenyum membayangkan betapa hebohnya besok saat dia membawa semua hadiah kecilnya itu ke rumah Bibi. Terbayang tingkah Alex dengan gaya jalannya yang seperti robot akan berusaha mengejar Nia yang membawa hadiah untuknya dan Alika, pasti akan berteriak marah pada Nia karena selalu saja memanjakan Alex.


 


Ah, jadi enggak sabar ke rumah Bibi besok.


 


Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang, Nia belum berkeinginan untuk tidur. Mungkin karena Aisakha sudah berjanji akan meneleponnya tepat jam sepuluh nanti, jadi Nia merasa belum mengantuk hingga saat ini.


 


Sambil memainkan hendphonennya, Nia teringat pada Ibu yang tadi di tolongnya di Mall. Sesaat Nia terlihat sedang berpikir. Wajah Ibu tadi rasanya tidak asing, apa benar ya? Atau hanya perasaan aku saja? Tapi rasanya muka si Ibu mirip sama siapa gituh? Emmm, sama siapa ya?


 


Nia masih berusaha mengingat, berusaha keras agar bisa segera mengingat. Detik berlalu, menit berlalu dan Nia belum juga bisa menjawab pertanyaannya sendiri.


 


Gagal mengingat, Nia pun memilih memandangi langit-langit kamarnya setelah dirinya berbaring nyaman di ranjang empuknya. Pikirannya melayang entah kemana, semua berputar seperti mengulang pelan berbagai hal yang dilaluinya hari ini. Memorinya sedang berputar membawanya pada kecemasan Aisakha yang tidak bisa menghubunginya saat dia tengah bekerja di laboratorium, sehingga Profesor Yandi harus menjemputnya dan meminjamkan telepon miliknya untuk Nia. Demi bisa membuat Aisakha berhenti mengkhawatirkan dirinya.


 


Tidak cuma itu, Bowo yang berusaha mengintrogasi dirinya. Dengan semangatnya Bowo bertanya siapakah Nia sebenarnya? Nia menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak pernah menyangka Bowo akan bertanya sedemikian rupa padanya.


 


Peka sekali perasaan Bowo, dia selalu bisa membaca gerak-gerikku melebihi Wulan, Resya dan Anita.


 


Saat sedang tengelam dalam putaran memorinya atas apa yang dialaminya hari ini, kemudian Nia mendengar nada panggil di handphonenya berbunyi. Akhirnya.


 


Cepat Nia menerima panggilan di handphonenya. Sepertinya Nia mulai tidak sabar ingin segera mendengar suara si penelepon yang sudah ditunggu-tunggunya sedari tadi.


 


"Hallo", jawab Nia bersemangat.

__ADS_1


 


"Rindu ya?", tanya Aisakha yang mendengar suara riang Nia menerima telepon darinya.


 


"Gak, gak. Biasa aja". Nia mencoba berkilah.


 


"Boong dosa loh". Ujar Aisakha menyakinkan Nia.


 


"Mas, jahilin aku, aku gambek nih". Nia memberi ancaman pada Aisakha.


 


"Loh yang jahilin kamu siapa? Aku kan cuma bilang, kalau boong dosa. Salah?" Aisakha pura-pura tidak mengerti.


 


"Ya udah, aku matiin deh". Nia mengganti ancamannya sekarang.


 


 


"Tuhkan, masih godain aku". Nia mulai merajuk.


 


"Yang goda kamu siapa, kamu pikir aku lelaki pengoda? Tega kamu sayang". Ucap Aisakha dengan suara di buat sesedih mungkin.


 


"Ya udah, aku matiin lagi ya". Nia sudah salah tingkah sedari tadi karena selalu di goda oleh Aisakha.


 


"Hahahaha", tawa Aisakha bahagia. "Aku kangen kamu". Ucap Aisakha penuh perasaan.


 


"Benarkah?" Nia pura-pura tidak percaya.


 

__ADS_1


"Sangat", jawab Aisakha cepat.


 


"Senangnya", jawab Nia penuh perasaan suka cita.


 


"Hanya senang, tidak ada perasaan yang sama untukku?" Tanya Aisakha tidak percaya.


 


"Jangan mengodaku lagi". Ucap Nia kemudian.


 


"Baiklah, jika kamu belum mau mengucapkan kata yang sama, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti, tetapi dikemudian hari belajarlah untuk mengemukakan isi hatimu padaku, apa pun itu. Jujurlah mengungkapkannya!" Permintaan Aisakha kemudian.


 


"Terima kasih Mas, kamu begitu baik memperlakukan aku. Semoga semua ini bukan mimpi belaka". Doa Nia.


 


"Aku sangat mencintaimu, belajarlah menerima cintaku Nia. Kamu akan lihat kalau semua ini nyata, cobalah sayang". Aisakha membujuk Nia.


 


"Iya Mas, bersabarlah pada diriku. Aku mohon". Ujar Nia pelan.


 


"Sekarang tidurlah lagi, hari sudah malam. Besok aku akan meneleponmu lagi, tidur yang nyenyak ya dan mimpikan aku". Ucap Aisakha sebelum memutuskan teleponnya pada Nia.


 


Nia memandang handphonenya, semua nyata tetapi terasa tidak nyata. Mungkin saat ini hatinya sudah mulai mencintai Aisakha, menerima cinta tulus lelaki tampan itu. Tetapi pahitnya kisah cinta yang dibungkusnya dari kisah pengalamannya di masa lalu, terkadang membuat Nia mulai meragu. Benarkah dia berani mencintai Aisakha, presdir super kaya, raja bisnis yang sukses, tampan tanpa celah.


 


Entah pada jam dan detik keberapa pastinya hingga akhirnya Nia tertidur lelap, mulai masuk ke alam mimpinya. Nia terlihat tenang dalam tidurnya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2