
🌈🌈🌈🌈🌈
“Pak..bangun !” Bibi menggoyang-goyang pundak Pakde. “Pak..itu ada ribut-ribut apa ?”
“Pakkkkkkk “, Bibi membuat pundak Pakde lebih keras lagi bergoyangnya.
“Apa, kenapa Bu ?” Pakde kaget langsung terduduk.
“Ada suara ribut di luar. Di halaman belakang “. Bibi setengah berbisik.
“Hah ?” kaget. “Tunggu di sini, Bapak lihat ke belakang dulu !” Pakde segera berjalan cepat ke arah halaman belakang.
Benar kata sang istri. Pakde menjumpai pengawal yang sudah ramai berkumpul, 6 orang siaga dan 4 orang sedang mengambil posisi melindungi sesuatu.
Ada apa ini ? Pakde membatin sambil terus mendekat ke sumber keributan.
“Bagus, Pakde sudah bangun “. Pengawal satu menyadari kedatangan Pakde.
“Cepat bantu kami membawa nyonya masuk !” perintah pengawal satu yang membuat Pakde melongo tidak percaya.
“Si non, mana si non ?” teriak Pakde.
“Ya..Tuhan “. Pakde berhasil mencapai posisi Nia berdiri.
“Non nggak papahkan ? Bilang Pakde, non diapain orang ?” Pakde panik.
“Sudah, bicaranya di dalam saja !” pengawal satu bersuara keras. “Cepat bawa nyonya masuk ! Kami masih belum menemukan pelaku kejahatannya “.
Ma, mati aku. Batin Nia penuh kecemasan. Karena mangga belum mateng, semua malah jadi salah paham.
“Ayo !” Pakde menarik tangan Nia.
Nia diam, cemas dan ragu. Mau jujurpun takutnya bukan main. Nia hanya memilih diam, berjalan mengikuti langkah kaki Pakde dengan 4 pengawal mengekor di belakang mereka.
__ADS_1
“Tunggu !” Nia membuat semua di sekitarnya berhenti melangkah.
“Ada, ada sesuatu yang harus aku luruskan “. Pakde melepaskan tangan Nia, menatap wajah majikan kecilnya itu dengan seksama.
“Ada apa non ? Siapa yang mau jahatin non ?” Pakde masih yakin dengan perasaannya sendiri atas situasi Nia tengah malam ini.
“Bu, bukan..bukan seperti itu. Ini, ini “. Nia terbata-bata. “Pakde dan yang lainnya salah mengartikan situasi.
“Maksud non ?”
“Semuanya, tolong maafkan saya “. Suara Nia membuat semua orang heran.
“Itu tadi, suara yang kalian dengar adalah kerjaan saya “. Para pengawal mengerutkan kening. “Saya, saya tadi itu melempar buah mangga pake potongan kayu yang saya dapat di bawah pohon. Terus, terus “. Nia sadar, semua kening di sekelilingnya semakin berkerut.
“Saya melemparnya tidak bagus, bukan kena mangga malah kena atap seng di sebelah “. Nia tertunduk malu. “Ma, maaf ya “.
“Non nggak bohong ?” Pakde masih ragu.
“Astaga non “. Pakde menghembuskan nafas lega luar biasa. Bahkah, semua pengawalpun tanpa sadar juga menghela nafas lega.
“Ma, maaf “. Nia nampak sangat berdosa.
“Kalau mau mangga kenapa gak bilang sama Pakde, atau sama para pengawal ini ?” tanya Pakde sambil tersenyum.
Sedang Nia hanya tertunduk malu.
“Sudah, sekarang si non kembali ke dalam !” Suara Pakde lembut. “Yang lain, maaf ya atas kesalah pahaman ini. Dan tolong kembali ke tempat masing-masing !”
“Mangganya biar Pakde yang ambilkan, non tunggu saja ya. Tahu beres aja “. Pakde mengedipkan sebelah matanya pada Nia. Nia berlonjak senang, melangkah riang kembali ke dalam rumah. Sementara para pengawal Nia nampak mengaruk kepala mereka, bingung, takjub dan salah tingkah. Ulah sang nyonya muda sukses membuat adrenalin mereka terpacut keras sesaat tadi.
***************
__ADS_1
“Wihhh, weeeenakkknya “. Nia menyatukan ibu jari dan telunjuknya di depan bibir. Satu buah mangga yang masih jauh dari kata masak sempurna sudah habis di lahapnya, tengah malam ini.
“Pakde sama Bibi yakin nih, nggak mau ?” Nia manatap wajah Pakde dan Bibi silih berganti.
“Tidak non, makasih “, jawab Pakde yang bisa membayangkan apa rasa buah yang sedang di nikmati Nia itu.
“Iya, buat non saja. Bibi gak usah “. Jawab bibi sambil menelan ludah, membayangkan seberapa asam rasa buah mangga di piring, di depan Nia.
“Ya udah, jangan salahkan aku ya karena gak bakal bagi “. Nia tanpa dosa melahap potongan buah mangga yang kedua.
Nia menggunyah santai, menikmati setiap gigitan yang membuat dirinya tersenyum puas.
“Ibu rasa ada yang aneh deh, Pak ?” Bibi berbisik kepada Pakde.
“Sama Bu, Bapak juga merasakan begitu “. Suara bisikan Pakde di sertai anggukan pelan.
“Pak...apa jangan-jangan ?” Bibi membesarkan bola matanya penuh harap pada Pakde.
“Tapi Bu ?” Pakde ragu. “Inikah belum awal bulan, belum bisa di pastikan !”
“Lah, memang harus tunggu awal bulan apa ?” suara bisikan bibi tidak terima. “Kalau iya, ngapain sampe awal bulan segala Bapak ? Bapak pikir nunggu gajian seperti orang kantoran ?"
“Masalahnya Bu, apa iya ?” suara bisikan Pakde penuh harap.
“Semoga ya Pak. Ahhh, Ibu ngarapnya iya Pak “. Suara Bibi penuh harap sambil memandang takjub pada Nia. Takjub dengan kehebatan Nia yang terlihat nyaris menghabiskan buah mangga keduanya kurang dari 5 menit.
“Habis loh Pak “.
“Mau lagi non ?” tanya Pakde.
“Enggak Pakde, sudah kenyang dan sudah enggak pengen lagi “. Nia tersenyum. Sedang Pakde dan Bibi saling berpandangan, dalam diam mereka sedang menyimpulkan.
“Terima kasih ya Pakde, bibi. Maaf ya aku sudah buat keributan malam ini “. Nia berdiri. “Sekarang kita tidur lagi yuk “. Nia melihat Pakde dan bibi mengangguk. “Baiklah, selamat malam Pakde, Bibi “. Suara senang Nia melangkah ke arah kamar tidurnya.
__ADS_1