
Kesehatan Nia
πππππ
γ
"Maafkan keegoisan Paman ya". Ucap Paman sambil melepas pelukannya bersama Aisakha.
γ
"Tidak apa-apa Paman. Saya bisa mengerti sikap Paman". Jawab Aisakha tulus.
γ
"Kamu memang pantang menyerah ya. Hahaha". Paman tertawa sambil menepuk pelan pundak Aisakha.
γ
"Saya sangat mencintai Nia, Paman. Saya sudah berjanji akan selalu ada di sisinya". Aisakha tersenyum malu.
γ
"Jadi, setelah Paman suruh pergi. Kamu tidak pergi juga?" Tanya Paman kemudian.
γ
"Tidak Paman, saya menunggu di luar. Di depan pintu". Aisakha menunjuk ke arah pintu kamar perawatan Bibi.
γ
Paman mengeleng, tidak percaya sekaligus kagum dengan kegigihan hati Aisakha. "Ya, ya...". Angguk Paman paham.
γ
"Boleh saya lihat Nia, Paman". Aisakha sedikit ragu menatap Paman.
γ
"Boleh, tentu saja. Kan sudah Paman bilang, dia tanggung jawabmu sekarang". Paman menyilahkan Aisakha.
γ
"Terima kasih Paman". Aisakha langsung berjalan ke arah Nia. Melihat betapa raputnya belahan jiwanya itu tertidur dalam kesedihan.
γ
Pelan Aisakha melepas bantal yang di pakai Nia untuk menutupi wajahnya. Terlihat sejumlah rambut Panjang Nia menutup asal kulit mulus wajahnya. Sangat hati-hati, tidak ingin membuat Nia tersentak bangun, Aisakha menjauhkan rambut itu. Benar dugaanku, kamu menangis sampai tertidur. Ahhhh.. sayang, maafkan aku. Aisakha membelai lembut pipi Nia dengan punggung tangannya.
γ
"Loh". Aisakha malah terkejut saat punggung tangannya menyentuh pipi Nia. "Panas". Gumanya pelan merasakan hawa panas yang berasal dari kulit Nia.
γ
"Sayang. Nia". Aisakha mulai memegang kening Nia.
γ
"Sayangggggg...". Sekali lagi Aisakha memanggil Nia sambil memperbaiki tubuh Nia agar tertidur lurus, tidak meringkuk seperti di awal. Pelan Aisakha kembali memegang kening Nia, kemudian turun ke tangan, mencoba merasakan. Mencoba memastikan dan benar saja, suhu tubuh Nia memang panas. Sepertinya Nia tengah demam.
γ
__ADS_1
"Paman, badan Nia panas". Aisakha langsung mendekati Paman yang duduk di ruangan tempat Bibi masih tertidur panjang, memberitahukan kondisi Nia.
γ
Kemudian Aisakha membuka pintu kamar dan memanggil Kristo. "Kris, Kristo... bangun!" Suara Aisakha setengah berteriak dan segera kembali ke dalam.
γ
Spontan Kristo berdiri melihat ke arah kursi dan mencari suara sang tuan yang tadi memanggilnya. "Lah, tuan mana?" Sambil mengusap wajahnya, "Apa tuan di dalam?" Kristo sedikit ragu.
γ
Pelan Kristo mencoba mengintip dari sela pintu kamar yang tidak tertutup baik, "itu tuan". Guman kecilnya saat mendapati sang tuan ada di dalam kamar.
γ
Kristo pun masuk dan segera berdiri sejajar dengan Aisakha, terlihat Paman pun ada di sebelah mereka sedang memegang kening Nia. Ahhh, orang tua itu lagi. Sekarang apa lagi ulahnya?Β Kristo melirik kesal ke arah Paman.
γ
"Tolong Nia, Nak. Dia Panas sekali". Paman memegang tangan Aisakha.
γ
Haaaaa, Kristo melolot melihat adegan barusan. Nak, orang tua itu panggil tuan dengan kata nak? Kristo pun mencubit tangannya sendiri. Aduh, dan dirinya bisa merasakan sakit dari cubitannya sendiri. Enggak mimpi kok, berarti memang orang tua itu bilang nak tadi. Aneh?
γ
"Kenapa kamu benggong? Cepat telepon dokter!" Aisakha memberi perintah pada kristo yang hanya diam termenung memperhatikan Paman.
γ
"Eh, maaf tuan. Maaf, nyawa saya belum kumpul semua". Alasan asal Kristo atas kediamannya tadi. Akhirnya, tanpa mengerti apa yang telah terjadi antara sang tuan dan Paman Nia. Kristo cepat menghubungi dokter dan memintanya naik ke kamar rawatan Bibi.
γ
γ
"Jangan tinggalkan aku". Nia mengigau. "Jangan pergi". Suara sedih Nia sangat menyanyat hati.
γ
"Sayang, Nia..". Aisakha memegang erat jemari Nia.
γ
"Jangan tinggalkan aku". Nia bermohon dalam ceracaunya yang tidak dipahami Aisakha.
γ
Pintu kamar rawatan di dorong kuat, seorang dokter wanita segera masuk. Semua mata beralih fokus ke arah dokter yang dengan sigap meminta ruang untuk memeriksa Nia.
γ
"Siapa yang bisa saya ajak bicara?" Tanya dokter memandang satu persatu ke arah Kristo, Aisakha dan Paman. Dokter telah selesai memeriksa Nia.
γ
"Saya dok". Aisakha langsung mengacungkan jarinya.
γ
__ADS_1
"Baik, bisa kita kesana sebentar tuan". Ajak dokter pada Aisakha agar sedikit menjauh dari Paman dan Kristo.
γ
"Tuan, siapa dia?" Tanya dokter penasaran.
γ
"Calon isteri saya". Jawab Aisakha tegas.
γ
"Baiklah, tuan. Apa tuan tau yang telah di alami nyonya hari ini?" Dokter mulai mengajukan pertanyaan pada Aisakha.
γ
"Dia", Pagi, di awalinya dengan sedikit cemas. Dia kepikiran mimpi buruknya, siang dia menjadi sok kuat. Membuat tameng ketegarannya sendiri untuk menghibur keluarganya karena musibah Bibi. Padahal dia sendiri sangat sedih dan cemas Dan malam....dia menangis karena takut pada saya. "Banyak yang dialaminya dok". Akhirnya hanya itu yang bisa dijadikan jawaban oleh Aisakha.
γ
"Emmm..begitu rupanya". Dokter terlihat mulai seperti memahami sesuatu.
γ
"Ada apa dok, kenapa dengan calon isteri saya?" Aisakha butuh penjelasan segara.
γ
"Tuan, apa di masa lalunya nyonya mengalami peristiwa yang....". Dokter terlihat sedang berpikir mencari padanan kata yang pas untuk diungkapkannya.
γ
"Apa?" Desak Aisakha.
γ
"Yang..ya, peristiwa yang cukup membekas di dalam kehidupannya?" Tanya dokter ragu.
γ
"Maksud anda?" Aisakha tidak paham.
γ
"Begini tuan. Dari hasil diagnosa awal saya, demam nyonya ini akibat perasaan yang amat sangat sedih. Bisa di bilang tertekan. Sehingga sistem imunnya menurun. Ini bisa terjadi karena tanpa sengaja memori nyonya membawa dia pada masa sangat tidak sukai. Emm, atau mungkin masa yang cukup sulit baginya. Dan sepertinya nyonya belum selesai dengan masa tersebut, hingga refleks. Saat alam bawah sadarnya mengulang apa pun kejadian di masa yang tidak dia sukai itu. Yah, inilah akibatnya. Sepertu yang tuan lihat" . Dokter menunjuk kearah Nia.
γ
"Apa itu kira-kira?" Aisakha malah balik bertanya.
γ
"Begini saja. Saya akan beri obat untuk saat ini, tapi setelah nyonya sehat saya minta tuan bawa nyonya ke.....", dokter mengeluarkan kertas kecil pada Aisakha. "Sini tuan. Dia psikiater di Rumah Sakit tuan ini juga. Tapi kalau boleh saya sarankan, ke rumahnya saja tuan. Biar nyonya bisa lebih santai".
γ
Jelas ini bukan hal sepelekan? Ah, kenapa aku jadi sangat cemas sekarang. Informasi apa tentang Nia dan masa lalunya yang tidak di dapat Kristo?Β Lantas, setelah Paman menyuruhku pergi tadi. Nia kenapa? Aisakha terus memandangi Nia dengan begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa di jawabnya.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ