SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
57


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Nia menyudahi alunan pianonya dengan apik, gemuruh tepuk tangan mengema seisi aula itu, semua terpana, tidak pernah menduga kalau calon isteri seorang Aisakha ternyata memiliki kemampuan dalam bermain alat musik, sangat hebat dalam memainkan jemari lentiknya di atas tuts piano. Tidak hanya itu, di luar dugaan rupanya Nia memiliki suara yang cukup merdu, terdengar enak di telinga para hadirin malam itu, mereka bersorak puas.


 


Aisakha berjalan ke arah Nia yang sudah berdiri dari bangku piano, wajahnya bersemu merah. Dia bahagia, tetapi dia juga malu atas sorak-sorai dari keluarga besar calon suaminya.


 


Semoga aku tidak membuat Mas malu dengan suara ala kadarku tadi.


Nia menarik nafas pelan dan menghembuskannya, sekarang dia mencoba tersenyum menatap puluhan mata yang terlihat sangat menyukai dirinya.


 


"Terima kasih untuk lagunya sayang ", ucap Aisakha sambil menyerahkan sekuntum bunga mawar putih pada Nia saat dirinya sudah berdiri di depan Nia. "Cintamu memang luar biasa Nia, aku tahu itu sejak pertama kita bertemu 3 tahun yang lalu. Kamu begitu menawan hatiku, kamu membuat aku merindu dan selalu mencari kamu. Nia aku sangat mencintaimu ". Nia merasa melambung saat mendengar semua kata-kata romantis Aisakha untuknya. Nia suka itu, Aisakha membuat dirinya serasa spesial, serasa paling istimewa di dunia ini.


 


"Sejak kamu melimpahkan aku dengan cintamu, sejak saat itu aku tahu kamu sangat berharga bagiku. Kamu membuat aku utuh, membuat aku berarti dan membuat aku sempurna. Mas, sayang...aku jatuh cinta padamu, pada keelokan hatimu saat memujaku. Sayang, kamu tahu aku bukan siapa-siapa, kamu tahu latar kehidupanku yang biasa saja. Tapi aku harap kamu juga tahu, kalau aku memiliki hati yang tulus hanya padamu, mencintaimu seorang. Sayang, tuan Aisakha, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah berhenti mencintaiku !" Nia menatap kedua mata Aisakha, meskipun Nia merasa kedua pipinya menjadi panas dan bisa di tebak kalau warna pipi Nia sudah mendekati warna merah buah tomat yang matang, tetapi Nia tidak mau berhenti. Nia ingin memberitahu Aisakha kalau malam ini, malam ini dirinya sudah menghenyahkan semua perasaan takutnya di masa lalu. Nia sudah memutuskan, dirinya akan mencintai Aisakha sebesar lelaki itu mencintainya, dan Nia sangat berharap hanya ada Aisakha saja dalam dunia percintaanya nanti, hingga akhir hayatnya.


 


Akhirnya...


Terima masih Tuhan, terima kasih telah membuat hatinya hanya menjadi milikku, terima kasih karena telah membuat dia yakin sepenuhnya padaku...


Terima kasih Tuhan, Engkau membuat kesabaraku berbuah manis.


Aisakha memegang tangan Nia mencium punggung tangannya dalam. Rasanya dia sangat bahagia dan sedikit berbangga, impiannya menjadi satu-satunya lelaki pemilik hati Syania terkabul sudah. Malam ini, Nia tanpa paksaan tanpa di duga, dengan lantangnya berani mengungkapkan perasaannya pada Aisakha, memberi tahu Aisakha tentang cinta dan keinginannya, serta impiannya. Semua terasa indah karena semua berisi pengharapan hidup bersama-sama.


 


"Peluk, peluk, peluk ", terdengar suara riuh semua mata yang memandang ke arah mereka sambil bertepuk tangan. Sebenarnya bisa di tebak, siapa pelaku awal keriuhan tersebut, siapa lagi kalau bukan Mamanya Aisakha. Wanita yang sangat menyayangi Nia dan paling antusias untuk memperkenalkan Nia pada seluruh keluarga besarnya dan keluarga besar mendiang suaminya ini, sukses memprokasi semua orang. Mama berdiri dan bertepuk tangan, lalu bersorak..."peluk, peluk, pelukkkk...", jadilah yang lain juga ikut terbawa suasanan dan mereka ikut serta meminta Aisakha agar memeluk Nia.


 


Dengan penuh kasih Aisakha membuka lebar kedua tangannya, kalau selama ini Aisakhalah yang harus mengajarkan Nia cara mencintainya, tetapi malam ini Nia begitu berani memperlihatkan cintanya. Di depan semua orang, Nia langsung menyurukkan wajahnya di dada Aisakha. Memeluk erat lelaki itu, seakan ingin memberitahukan pada semuanya, Aisakha adalah miliknya, hanya milik seorang Nia.


 


Aisakha mengangkat tubuh Nia dan memuatnya, sepasang kekasih ini sedang terbang dalam kebersamaan cinta mereka. Gemuruh tepuk tangan terdengar jelas, sorak sorai bahagia mengema. "Nah, itu, itu....itu baru namanya lelaki keturunan Britana ", suara salah seorang Paman Aisakha dengan bangganya berteriak senang, saat melihat cara Aisakha memperlakukan Nia dengan baik.


 


Malam ini berjalan begitu sempurna bagi Nia, dia di cintai kekasihnya, dia disayangi oleh calon Mama mertuannya dan dia di terima oleh keluarga besar Aisakha. Rasanya Nia tidak berani meminta apa-apa lagi pada Sang Maha Kuasa, semua keinginannya telah tercapai, bahkan sesuatu yang tidak pernah berani di impikannya pun dilimpahkan-NYA pada Nia dengan gampangnya. Nia bersyukur, di dalam hatinya Nia terus mengucap kata syukur.


 


 


***************


 

__ADS_1


Sementara itu...


 


Edo sibuk bolak-balik, mondar mandir ke sana kemari di parkiran bawah hotel berbintang tempat resepsi pernikahannya senin besok akan dilaksanakan.


 


Edo ragu, tetapi hatinya berani menegaskan padanya kalau itu adalah benar. Pendengarannya tidak salah, suara itu adalah benar milik sosok wanita yang telah menyakiti hatinya, mengiris jiwanya dan membuang dia di saat terendah hidupnya. Sungguh, Edo sangat membenci wanita itu, dia sangat ingin menampar keras wajah wanita sialan itu, Edo ingin membuat perhitungan untuk rasa sakit yang harus di tanggungnya 3 tahun ini.


 


Tapi, apa benar suara itu adalah miliknya ? Setelah sekian lama tidak menentu rimbanya, bagaimana mungkin suara itu muncul di dalam aula megah sebuah hotel berbintang mewah milik milyader terkenal ? Itulah kira-kira isi kepala Edo sekarang, dia ragu, tetapi dia yakin. Entahlah, bagaimana cara menjelaskan isi perasaannya.


 


Ooooo...aku tahu, dia pasti menjadi simpanan lelaki tua yang kaya raya. Iya benar, wanita penggila harta dan tidak punya malu itu pasti sedang merayu lelaki tua bangkotan dan bau tanah yang kaya raya. Cih, benar-benar khas dirinya, seorang wanita sialan.


Maki Edo dalam hatinya.


 


Lain Edo, lain pula Toni. Toni bersikap lebih tenang. Toni sedang diam memilah semua pendengaran dan ingatannya.


 


Seberapa besar peluang kemiripan suara seseoarang dengan orang lain ?


Tapi ini benar-benar sangat mirip, aku cukup mengenal suara Nia, yang tadi itu pasti Nia.


Toni merasa yakin dengan dirinya.


 


Apa sekarang Nia berprofesi sebagai penyanyi untuk acara-acara keluarga ?


Apa iya begitu?


Kalau memang iya, seharusnya selama 3 tahun ini aku bisa tahu itukan?


Bukan hal sulit hanya untuk mencari Nia kalau benar Nia sekarang bekerja sebagai penyanyi untuk acara keluarga.


Tetapi kenyataannya, baik Edo dan aku, kami sama-sama kehilangan jejak Nia bertahun-tahun.


Lantas, apa benar itu Nia ?


 


Dan sekarang, Toni meragukan kesimpulannya di awal.


 


"Aarrgggghhhh ". Toni mendengar suara keras rasa marah Edo. Sesaat dia memandanggi Edo yang sedang berdiri di depan pintu mobilnya sambil memukul keras atap mobil mewahnya sendiri.


 


"Hey...apa yang kau lakukan ?" Teriak Toni pada Edo sambil berjalan kearahnya.

__ADS_1


 


"Kau dengar tadikan ? Itu suara wanita sial itu !" Edo terlihat sangat kacau, rambutnya sudah acak-acakkan, wajahnya memerah menahan marah.


 


"Nia maksudmu ?" Tanya Toni tanpa rasa bersalah.


 


"Kau sendiri yakinkan ? Sama seperti aku ?" Edo terlihat masih menolak keras menyebut nama Nia.


 


"Iya...aku memang mendengarnya ", jawab Toni mengiyakan. "Tapi aku tidak terlalu yakin kalau itu Nia, aku rasa itu hanya kemiripan suara saja ".


 


"Jangan bodoh Ton !" Edo terlihat tidak terima.


 


"Kau atau aku yang bodoh ?" Sekarang Toni balik bertanya pada Edo. "Do, coba pikir ! Kalau itu memang benar Nia, kenapa dia baru muncul sekarang ? Apa lagi di sebuah hotel semewah ini. Kamu tahukan ini bukan hotel sembarangan ?"


 


"Karena dia wanita matre, wanita murahan, ya gampang saja baginya keluar masuk hotel ". Jawab Edo seenaknya saja. Toni tidak mengambil hati kata-kata Edo barusan, dia berpura-pura tidak mendengar semua kata-kata kasar Edo tenrang Nia.


 


"Kalau dia bekerja sebagai penyanyi untuk ivent keluarga, pasti kita sudah menemukannya dari dulu lagi. Ini Jakarta Do, gampang bagi kita menelusuri keberadaan Nia. Tapi realitannya apa ? Kita sudah mencari kemana-mana dan hasilnya nihil. Jadi, itu pasti bukan Nia ", jelas Toni tegas.


 


"Kecuali kalau dia berprofesi sebagai wanita simpanan. Toh wanita bejat akan memperlihatkan aslinya juga, mana bisa dia menyembunyikan tabiat sebenarnya terlalu lama ". Edo terlihat sangat senang bisa menarik kesimpulan seburuk itu tentang Nia.


 


"CUKUP DO !" Kali ini Toni tidak bisa berpura-pura tidak mendengar kata-kata Edo yang selalu saja merendahkan Nia. Toni mulai habis kesabarannya, tanpa sadar tangannya mulai terkepal.


 


"Tidak, tidak akan pernah cukup ". Teriak Edo marah tidak terima atas bentakan keras Toni padanya. "Sampai matipun, aku tidak akan pernah cukup memaki wanita sial itu, kau dengar Ton ? TIDAK AKAN PERNAH CUKUP ". Suara teriakan Edo mengema di dalam parkir bawah tanah itu.


 


"Sudah, sekarang masuk mobilmu dan pulang !" Toni menarik paksa Edo, membukakan pintu mobil Edo dan mendorongnya ke dalam.


 


"Pulang !" Perintah Toni tegas. "Hentikan kemarahanmu itu, karena kau benar-benar akan menyesal seumur hidupmu. Sekarang pulanglah, 2 hari lagi kau akan menikah. Itu lebih penting bagimu sekarang calon mempelai pria yang sangat berbahagia ". Ucap Toni dengan wajah sinisnya. Toni menutup pintu mobil Edo keras, membuat Edo menatapnya sesaat.


 


"Pulanglah !" Sekali lagi Toni menyuruh Edo pergi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2