
Bicara Berdua Saja
๐๐๐๐๐
ใ
ใ
Acara makan siangpun selesai dalam suasana penuh canggung. Saat Bowo kembali kemeja makannya, kembali bergabung bersama Aisakha, Nia dan para sahabat wanitanya yang lain, jelas terlihat sikap berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa sesaat tadi. Walaupun sejujurnya sangat sulit rasanya untuk mengabaikan kerahasian Bowo pada Mereka. Tetapi Nia bersama para sahabatnya mencoba menghargai penyebab Bowo yang ternyata selama ini cukup tertutup. Itu adalah pilihan Bowo, begitu kira-kira pikir mereka, terlebih-lebih bagi Nia. Walaupun Nia menyadari kalau hanya segelumit hal kecil yang dia tahu tentang Bowo, tetapi itu tidak mengurangi pandangan baik Nia terhadap sahabat lelakinya itu. Bowo sangat baik pada dirinya, sangat perhatian, bahkan sangat peka pada segala perubahan gerak-geriknya. Jadi, apapun alasan sikap Bowo menyembunyikan berbagai hal dalam pertemanan mereka, Nia tidak mau ambil pusing, selama Bowo tetap menjadi Bowo sebagaimana salah satu sahabat terbaiknya, itu sudah cukup bagi Nia. Ya, hanya sesederhana itu pemikiran Nia terhadap Bowo tanpa terselip kemungkinan buruk. Bagaimana dengan Bowo sendiri ? Entahlah, sepertinya hanya Bowo yang tahu.
ใ
Sekarang Wulan, Resya, Anita dan Bowo sudah mohon diri untuk kembali ke kantor duluan, jam makan siang sudah selesai dan mereka ingin segera melanjutkan pekerjaan. Awalnya Nia juga ingin cepat-cepat mengikuti jejak para sahabatnya itu untuk segera balik ke rutinitas pekerjaan yang tertunda tadi, tetapi Aisakha menghentikannya. Dengan alasan masih sangat kangen sama Nia, Aisakha menahan kekasihnya itu untuk kembali duduk bersamanya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakannya bersama Nia.
ใ
Meja tempat mereka makan telah dibersihkan, berbagai menu camkohaa pilihan Nia tadi telah berganti piring yang berisi berbagai macam jenis potongan buah dan 2 gelas teh hijau hangat. Sesaat Nia memperhatikan sekitarnya, sepertinya Nia baru sadar kalau sedari mereka datang hingga saat ini, ternyata restoran berkonsep lesehan tempat mereka makan siang tidak ada pengunjung satupun. Hanya dirinya bersama Aisakha dan para sahabatnya di tambah Kristo dan Damar yang duduk di meja lain.ย Emm, tumben ya hanya kami yang makan di sini. Padahal seingatku dulu rame banget deh waktu aku sama yang lain makan di sini.
ใ
"Nia". Aisakha menyentuh tangan Nia
ใ
"Iya". Jawab Nia cepat.
ใ
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu ". Raut wajah Aisakha terlihat serius.
ใ
"Iya, apa Mas ?"ย Kok mendadak serius ya?
ใ
"Aku sudah berjanji pada Bibi Ros akan menunggu sampai beliau sehat baru setelah itu bersiap untuk menikahimu. Walaupun itu sangat berat, tapi aku akan menghargai permintaan Bibi". Nia menyimak kata demi kata yang diungkapkan Aisakha.
ใ
"Kalau menuruti kata hatiku, aku ingin membawamu kabur dan menikahimu diam-diam. Perduli apa dengan Bibi, toh aku mencintaimu dan aku takut kehilangan kamu lagi". Nia menatap Aisakha dengan bola mata yang mendadak melotot besar.
ใ
"Tapi aku tidak mau melakukan keegoisan seperti itu, aku ingin pernikahan yang hanya sekali seumur hidup ini bisa menjadi perwujudan impianmu. Aku ingin memulai semua dengan baik, dengan restu dan doa tulus keluarga. Jadi, aku akan berusaha menahan diri dan bersabar. Karena itu, kamupun harus percaya padaku, Nia. Pada cintaku !" Nia tidak tahu harus menjawab apa.
ใ
"Sekarang, maukah kamu memberitahu aku seperti apa konsep pernikahan yang kamu impikan ? Dimana kita akan menetap setelah kamu resmi menjadi isteriku nanti ? Apa yang kamu inginkan saat kita telah berumah tangga ? Maukah kamu menceritakan isi hatimu padaku, Nia ? Maukah kamu percayakan suka dukamu padaku ?" Aisakha mengangkat tangan kanan Nia dan mendekatkan kearah bibirnya. Mengecup pelan punggung tangan itu dan tersenyum pada Nia.
ใ
"Mari kita bicarakan semuanya dari hati ke hati. Aku ingin dengar semua impianmu Nia !" Aisakha meletakkan kembali tangan kanan Nia ke atas meja.
ใ
Wah, Mas sukses membuat aku speechless. Bagaimana mungkin Mas bisa tahu kalau masih ada sedikit rasa bimbang di hati ini tentang apa yang akan terjadi padaku setelah kami menikah nanti ? Ah, hatiku jadi bergetar. Aku jadi tambah sayang sama kamu Mas.ย
ใ
"Mas, terima kasih sudah mengajakku membicarakan hal ini. Jujur aku jadi tersanjung, aku tidak menyangka Mas bisa meraba sampai sudut terdalam hatiku dan tahu ada sedikit pertanyaan tentang masa depan kita yang aku tidak tahu akan seperti cara Mas mempersiapkannya". Aisakha meneguk sedikit teh hijaunya sambil mendengarkan Nia.
ใ
__ADS_1
"Mas, konsep pernikahan aku sederhana saja. Mas tahu, aku sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Jadi impianku pun sederhana Mas. Yang penting semua orang yang sayang pada kita hadir saat itu dan memberi doa restu pada kita. Itu saja Mas !" Nia tersenyum kearah Aisakha.
ใ
"Hanya itu ?" Sederhana sekali sayang, padahal kamu layak mendapatkan kemewahan. Kamu itu bakal menjadi Nyonya Aisakha loh Nia.ย
ใ
"Iya itu saja. Ada Mama dan semua keluarga Mas. Ada Bibi, Paman dan semua sepupu aku. Ada sahabat-sahabat kita, ada orang-orang yang tulus sayang sama kita. Itu sudah melebihi kemewahan apapun Mas, melihat mereka semua berbahagia bersama kita di hari bersejarah kita. Belum tentu setiap tahun kita bisa kumpul dengan merekakan Mas ?" Aisakha mengangukkan kepalanya.
ใ
"Tentang dimana kita tinggal setelah menikah ? Bagi aku tentu saja dimana kamu berada, di situ pula aku akan berada Mas. Kamu adalah hidupku, kamu adalah belahan jiwaku. Jadi dimanapun kamu berada, aku akan mendampingimu. Aku enggak mau kamu tinggalkan, aku enggak mau jauh dari kamu". Nia terlihat serius dengan semua penuturannya.
ใ
"Aku memang menyukai pekerjaanku, sebuah dunia yang telah membuat aku bangkit dan memberi kepercayaan diri setelah luka yang kualami dari masa lalu. Tapi menjadi isterimu pasti lebih menyenangkan lagi Mas, pasti sangat membanggakan, karena kamulah yang berhasil membuat aku yakin kalau aku berharga, aku adalah berlian bukan kesialan. Aku akan menjadi isteri yang baik untukmu Mas". Nia tertunduk malu, entah dari mana Nia mendapatkan kemampuan berbicara yang luar biasa siang ini. Sepertinya cinta tulus Aisakha telah merubah Nia semakin percaya diri untuk mengungkapkan semua isinya tanpa malu, tanpa ragu.
ใ
"Aku siap melepaskan semuanya dan masuk keduniamu Mas, aku ingin membuat kamu bahagia. Aku ingin membuatmu melihat bahwa cinta aku sama besar seperti cintamu padaku. Aku ingin kamu tahu, aku sangat mencintaimu". Dan rona merah di wajah Nia telah terbentuk sempurna di akhir kalimatnya.ย Melegakan bisa bicara jujur, sekaligis juga memalukan banget rasanya. Aduh, mukaku rasanya panas deh. Hehehe.
ใ
"Syania, akupun sangat mencintai kamu". Aisakha mengangkat dagu Nia, membuatnya menatap pada Aisakha.ย "Terima kasih telah bicara jujur padaku. Terima kasih sayang". Dengan wajah yang memerah Nia berusaha menatap mata Aisakha. Betapa teduh dan menenangkannya mata biru didepannya itu, hanya dengan menatap mata biru itu Nia bisa menyelam kedalam hati Aisakha. Tergambar jelas begitu besarnya cinta Aisakha pada dirinya.ย Beruntungnya aku memiliki kamu Mas.
ใ
"Untuk konsep pernikahan, apapun keinginan kamu, aku setuju. Tapi karena kita berasal dari 2 keluarga, jadi kita juga perlu meminta pendapat para orang tua kita. Seperti kamu bilang tadi mereka semua sayang pada kita, jadi mari kita libatkan orang-orang tersebut untuk hari bersejarah kita".ย Sejujurnya aku enggak yakin Mama dan Bibi mau di minta duduk manis, tidak terlibat dalam persiapan semua. Aku malah yakin ke dua ibu-ibu itu pasti akan menjadi orang paling sibuk seantero jagad raya ini demi membuat pernikahan kita sempurna. Hahaha.
ใ
"Tentang tempat tinggal, kalau boleh kita menetap di Jakarta ? Sebenarnya kita bisa tinggal di sini jika kamu menyukai itu. Sungguh". Aisakha tidak ingin mendesak Nia.
ใ
ใ
"Kemudian tentang pekerjaanmu. Aku tahu kamu menyukai dunia penelitian itu, aku bahkan tidak bisa pungkiri semangat kerja kerasmu telah memberikan banyak keuntungan bagi Sunjaya Company dalam 3 tahun terakhir ini. Kamu memang hebat Nia, kamu sangat cerdas. Karena itu aku tidak mau egois melepaskan kamu dari pekerjaan yang kamu sukai. Kamu tetap bisa menjalankan rutinitas harianmu dilaboratorium kesayanganmu....".
ใ
"Tidak, enggak mau ". Setengah berteriak Nia memotong pembicaraan Aisakha.
ใ
"Loh, kok nggak mau ?"
ใ
"Iyalah aku gak mau. Apa Mas enggak dengar tadi aku bilang, aku enggak mau jauh dari kamu. Aku enggak mau kamu tinggalin, aku mau sama kamu terus Mas !" Nia mulai kesal.ย Ihhh, bener-bener deh. Sepanjang itu aku gomong yang di tangkap cuma kalimat aku suka pekerjaanku saja. Lah pernyataan cinta aku enggak di rekamnya. Ihhhhhhhh..kesalnya.
ใ
"Aku tahu sayang. Kamu pikir aku bisa hidup jauh dari kamu apa ? Status kita sebagai pacar saja, aku enggak sanggup jauh dari kamu. Apa lagi saat kamu sudah jadi isteri sah aku, mana mau aku, kamu lepas dari pandanganku. Kan isteri aku, milik aku". Aisakha tersenyum geli melihat Nia yang kesal. Mengemaskan banget sih kamunya.ย
ใ
"Terus apa maksudnya tadi itu ? Kamu bilang aku masih bisa menjalankan rutinitas dilaboratorium, itu artinya kamu tinggalin aku di sinikan ? Aku enggak mau ditinggal di sini, bawa aku Mas !"ย Aku enggak mau berjauhan, kamu ngerti nggak sih ?
ใ
"Huuuufffttttt". Aisakha menarik nafas panjang.ย Udah salah paham, ngotot lagi tuh. Nia, Nia, kamu mengemaskan banget deh.
__ADS_1
ใ
"Gadis bodoh ". Aisakha berusaha menahan tawanya. "Aku belum selesai gomong sudah di potong, sudah buat kesimpulan sendiri, ngacok kamu".
ใ
"Hah ?" Nia malah bingung sendiri.
ใ
"Mangkanya dengar dulu aku gomong sayang". Kata sayang yang diucapkan Aisakha terdengar jangal di telinga Nia, rasanya lebih seperti usaha untuk membuat Nia menjadi pendengar yang lebih baik saja.
ใ
"Aku memang tidak ingin melepaskan kamu dari laboratorium kesayanganmu. Aku masih ingin kamu melalui hari dengan apa yang membuat kamu senang. Karena kamu senang berkutar dengan semua inovasi-inovasimu pada bidang pertanian, maka aku akan membuatkan laboratorium baru untukmu di Jakarta nanti".
ใ
"Oooo". Jawab Nia datar. "Laboratorium baru toh".
ใ
"Hu-uh". Aisakha tahu kalau Nia belum mencerna dengan baik semua kalimatnya tadi. Jadi, dia hanya tersenyum saja dengan gaya Nia menanggapi datar semua perkataannya.
ใ
"Eh ?" Nia memegang tangan Aisakha. "Maksudnya laboratorium baru itu ?" Tiba-tiba Nia berubah antusias.
ใ
"Iya sayangku, hahaha". Akhirnya pecah juga tawa Aisakha. "Akan ada laboratorium baru di Jakarta, kalau dilihat dari kondisi saat ini, aku bisa menyiapkan semua kurang dari satu bulan. Nanti lokasinya di bagian belakang kantor pusat. Dan kamu, Syania, kamu akan menjadi Kepala Laboratorium di Jakarta. Kamu bebas berkarya dengan segala inovasimu dan kamu sama aku enggak akan berjauhan".
ใ
"Tapi apa gak papah Mas punya 2 laboratorium di bidang yang sama ?"
ใ
"Kan aku sudah bilang, di dalam dunia aku, aku bisa wujudkan semua mau kamu. Lagi pula menurut aku gak ada yang salah dengan punya 2 laboratorium, justru bagus dong. Dibukannya laboratorium baru akan memberikan lapangan kerja baru bagi banyak orang. Akan ada anak muda cerdas dan berprestasi yang bisa mengapresiasikan dirinya di perusahaan kita. Kemudian gaum Sunjaya Company di bidang pertanian akan semakin diperhitungkan di dunia usaha, sebab hasil inovasi dari kedua laboratorium ini akan semakin menambah pundi keuntungan perusahaan. Lantas dimana coba gak bagusnya ?"
ใ
"Bagaimana dengan Profesor Yandi dan semua teman-temanku di sini Mas, apa kata mereka nanti ?"
ใ
"Mereka pasti dukung kamu. Percayalah ! Lagi pula kalau aku tutup laboratorium di sini dan memindahkannya ke Jakarta akan sangat tidak efisien bagi mereka semua. Mereka punya keluarga di sini Nia, pasti bukan perkara mudah bagi mereka memboyong keluarganya untuk memulai hidup baru di Kota baru. Iyakan ?" Nia mengangukkan kepalanya.
ใ
"Kalau mereka aku pisahkan dengan keluarganya juga tidak mungkin, tidak adil rasanya. Aku saja tidak mau tuh berjauhan dari kamu. Masa iya aku sengaja menjauhkan mereka dari keluargannya. Karena itu, membuat laboratorium baru adalah solusi terbaik. Percayalah !"
ใ
Nia melepaskan tangannya yang memegang tangan Aisakha, dia berdiri dan berjalan mendekat kearah Aisakha duduk persis di samping Aisakha dan memeluk Aisakha. Meletakkan kepalanya di dada bidang Aisakha. Aisakha sedikit terkejut, tidak pernah dalam pikirannya akan mendapat reaksi seperti ini dari Nia. Ada rasa senang yang membuncah di hatinya. Aisakha yakin, kalau saat ini wajah Nia pasti sudah memerah bagai tomat menahan malunya atas sikap beraninya ini. Namun, untuk sesaat Aisakha ingin membiarkan semua tetap terjadi. Dirinya suka Nia sudah mulai berani mengekspresikan perasaannya.
ใ
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah begitu mencintai aku ". Ucap Nia setulus hati pada Aisakha.
ใ
ใ
__ADS_1