
🌈🌈🌈🌈🌈
“Bisa ?” Resya memegang erat tangan Nia saat menuntun wanita cantik ini berjalan ke menjauh dari toilet.
“He-eh “, jawaban standar Nia dengan terus mengikuti langkah Resya.
“Kamu ini kenapa sebenarnya ? Tadi itu makan apa coba ? Kok kayak orang gejala keracunan sih ?” Resya sedikit menyibak rambut Nia yang jatuh begitu saja ke arah bahunya.
“Aku juga enggak tahu Sya “, jawab Nia lemah.
“Aku khawatirnya kamu keracunan makanan deh Nia “. Resya mulai berspekulasi.
“Tapi nona, bagaimana mungkin nona muda kami bisa keracunan ? Makan pagi dan makan siang nona tadi, langsung di masak oleh orang kepercayaan nona “. Bayu menepis spekulasi Resya.
“Iya juga sih, itu pasti masakan olahan Bi Kartik kan ?” pertanyaan Resya ini langsung di jawab iya oleh Bayu.
“Lantas kenapa ya ?” Resya mendapat gelengan kepala oleh
Bayu. Sepertinya 2 anak manusia ini terlihat cukup akrab, bahkan Bayu memilih mengambil posisi berdiri di sisi Resya.
Langkah kaki Resya dan Nia mulai menjauh dari toilet khusus wanita itu. Nia sepertinya mulai bisa berdamai dengan perutnya.
Bayu dan Dani masih tenang berjalan di sisi kanan kiri Nia dan Resya. Mereka masih memantau situasi dalam diam, membuat para pengawal penjaga Nia patuh berjalan di belakang.
__ADS_1
Semua mendadak tenang, menjaga Nia dalam diam. Tetapi, sepertinya semua sama-sama tidak memiliki perhatian pada lelaki berjaket merah dengan topi yang nyaris menutup separuh wajahnya. Lelaki itu tersenyum suka cita, seulas garis terbentuk di kedua sudut bibirnya yang menandakan kalau dirinya sangat bahagia.
Semakin langkah Nia mendekat padanya, semakin berlonjak riang detak jantungnya.
****************
Sementara itu....
“Apakah Nia sudah sampai di Rumah sakit ?” Aisakha sangat gelisah.
“Sepertinya belum tuan, belum ada laporan dari pengawal nona “. Jawab Kristo cepat.
“Hubungi mereka Kris, aku harus tahu perkembangan Nia saat ini !” Secepat yang dirinya bisa Kristo langsung menghubungi Bayu, sesuai perintah sang tuan.
“Pak ?” Bayu menepi sedikit dari sisi Resya. Membuat jarak antara Resya dan dirinya.
“Apakah kalian sudah membawa nona ke Rumah Sakit ?” Kristo sangat serius.
“Belum Pak, nona kembali muntah-muntah. Hingga kami belum bisa meninggalkan Mall ini. Ini, kami baru melangkah menjauh dari toilet lantai 3 “. Laporan Bayu lengkap.
“Kami hampir sampai, tunggulah sebentar ya !”
__ADS_1
Tetapi.....
“Aaaaaaaaa “, Entah bagaimana caranya, seseorang telah mendorong Resya jauh ke sisi dinding. Membuat kepala Resya beradu cukup keras dengan dinding, memecah konsentrasi pengawal dan membuat Bayu menjauhkan handphonenya dari telinga.
“Nona Resya “. Suara keras Bayu terdengar di sisi telepon.
“Astaga....nona mudaaaaaaaa “. Sekarang giliran Dani yang berteriak panik dalam geram. Kristo langsung mengepalkan tangannya.
“Ada apa ? BAYUUUUUU ?” Kristo semakin gusar.
“Kristo ?” Aisakha sudah merebut handphone yang tergenggam di tangan Kristo.
“Hey...kau, kenapa di sana ? Istriku kenapa ?” panik.
“JAWAB !” Berteriak putus asa, mengharap ada yang menjawab kekhawatiran dirinya.
“Lepaskan nona kami !” Aisakha mendengar suara salah satu pengawal Nia.
“Kau mau mati ya ?” Terdengar keributan di ujung telepon.
Dan Aisakha benar-benar gusar, takut dengan ketidaktahuannya pada situasi di ujung telepon. Pada keributan dan teriakan marah suara-suara di sana, Aisakha terlihat murka, siap menghabisi apa saja yang dalam keyakinannya akan menyakiti sang istri tercinta.
“Kau “, menyentuh bahu sopir. “Terlambat sampai ke tempat istriku, berarti kau sudah siap mati “. Mengancam sepenuh hati.
__ADS_1