
πππππ
γ
Berangsur-angsur, amarah Toni mereda. Sepertinya dia sudah bisa mengendalikan diri kembali. Walaupun sangat marah, sangat ingin memukuli Edo sampai puas, tetapi Toni lebih memilih menahan diri. Percuma dia melampiaskan kemarahannya pada Edo, Edo tetap akan bertahan pada pendapatnya sendiri. Mamanya telah memutar balikkan fakta, hingga membuat Edo sangat membenci Nia, sampai ke ujung aliran darahnya.
γ
"Lihat, meskipun dia tidak ada di sini, wanita sial itu tetap bisa membuat kita jadi seperti ini. Sungguh besar pengaruh buruknyakan ?" Edo kembali memijat keningnya, rasanya kepalanya mulai berdenyur sekarang.
γ
"Aku harap kamu memikirkannya semua, masih ada waktu Do. Aku hanya tidak ingin kamu menyesali semua saat semua sudah tidak bisa kamu perbaiki lagi !" Toni masih berusaha menasehati Edo.
γ
"Kau tidak mencintai Kemala, jangan sampai anak gadis orang itu hanya jadi pelampiasan egomu saja. Pikirkanlah Do !"
γ
"Aku memang tidak mencintai Kemala, tetapi aku bisa belajar mencintainya. Setidaknya Mala tulus mencintaiku, tidak seperti wanita sial itu, yang hanya mau harta keluargaku saja !" Edo tidak terpengaruh dengan semua nasehat Toni padanya.
γ
"Nia wanita baik Do, dia gadis baik-baik yang cocok bersanding denganmu. Jangan bohongi hatimu, kau akan menyesal !"
γ
"Kau ". Emosi Edo kembali tersurut. "Sudahku bilang. Jangan sebut nama itu lagi ! Kenapa, kenapa Ton, kau sangat suka menyiksaku dengan mengingatkan aku pada wanita sialan itu ? Sudah Toni, aku hanya ingin hidup berbahagia bersama Kemala. Jangan sebut nama itu lagi ! Dengan menyebut namanya, hanya membuat luka di hati ini kembali berdarah ". Edo menunduk sedih, getar kepedihan kembali terdengar di suaranya.
γ
"Kau tau, kurang dari setahun yang lalu aku pernah mencarinya. Begitu bodohnya aku sampai mencarinya di Kota Bengkulu. Aku datang ke rumah Bibinya, Bibi Ros. Aku mencarinya Ton. Aku berharap menemukannya. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku membencinya sebesar aku mencintainya, aku hanya ingin memastikan kalau dia membuangku dan tidak ingin mencintai aku lagi. Setelah itu, aku akan melepaskanya. Asal aku tahu alasan dia meninggalkanku apa, maka aku akan mengakhiri semua ". Toni melihat kembali ada butir hangat air mata jatuh di sudut mata Edo.
γ
"Kau mencarinya sampai sejauh itu ?" Toni tidak percaya Edo sanggup melakukan semua itu.
γ
"Ya, aku mencarinya. Aku membencinya Ton, sangat membencinya. Tetapi aku masih sangat mencintainya. Cintanya membuat aku terluka sangat dalam ". Edo memukul-mukul tepian sofa yang didudukinya.
γ
"Dan kau menemukannya ?" Toni penasaran.
__ADS_1
γ
"Tidak, dia tidak ada di sana. Di rumah itu hanya ada Paman dan Bibinya, serta keluarga sepupunya. Dia tidak ada di sana ". Jawab Edo tegas. "Tiga hari aku memperhatikan rumah Bibinya, dan aku tahu dia tidak ada di sana. Entah dimana keberadaan wanita sial itu. Dia bagai menghilang di telan bumi ".
γ
Apa, hanya memperhatikan rumah itu saja ?Β "Kau tidak bertanya, hanya memperhatikan saja ?" Toni semakin penasaran.
γ
"Ya, aku hanya memperhatikan saja ". Edo mengangukkan kepalanya.
γ
Bodoh, kenapa tidak bertanya ? Bagaimana kalau Nia memang ada di sana. Bodoh, bodoh, bodoh. Betapa bodohnya kau Do.
γ
"Dia pasti sedang bersenang-senang melebarkan kakinya untuk lelaki kaya. Heh, wanita murahan ". Edo masih saja menjelekkan Nia.
γ
"Jagalah kata-katamu ! Kau tidak pantas merendahkannya seperti itu ".Β Saat kau tahu yang sebenarnya, semua telah terlambat Do. Kau terlalu kejam menghina Nia, sama kejamnya seperti Mamamu.
γ
γ
Karena aku tahu semuanya Do, Nia tidak bersalah. Nia benar-benar wanita baik, dia sangat mencintaimu. Demi kebahagianmu, Nia hanya pasrah di hina oleh Mamamu. Dia bersimpu memohon belas kasihan Mamamu demi cinta kalian. Dan Mamamu malah mengusirnya. Andai kau tahu Do, betapa berat hatinya memenuhi keinginan Mamamu ? Ah, dimana Nia sekarang, apakah dia bisa berbahagia setelah pedihnya hinaan Mamamu padanya ?
γ
"Lihat, kau bahkan termenung memikirkannya ". Edo seakan tahu, kediaman Toni karena tengah memikirkan Nia.
γ
"Sudahlah, hentikan membahas wanita sialan itu. Jangan sebut tentang dirinya lagi. Dia hanya pembawa sial saja, entah dimana rimbanya, tetapi dia bisa membuat kita nyaris berkelahi. Aku tidak ingin mendengar tentangnya lagi, terlalu sakit apa yang aku rasakan saat mengingatnya ". Edo menghela nafas panjang.
γ
"Jadi, ini pilihamu ? Kau sudah yakin ?" Toni masih perlu mendengar jawaban Edo sekali lagi. "Memang kamu tahu latar belakang Kemala ? Yakin dia wanita baik-baik ?"
γ
"Mama tidak mungkin salah memilihkan wanita untuk menjadi pendampingku, Ton ". Jawab Edo tenang. "Aku yakin, aku akan menikahi Kemala dan berbahagia bersamanya ".
__ADS_1
γ
"Baiklah, terserah padamu. Aku tidak akan bertanya lagi. Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan mendukungnya. Semoga kamu memang tidak pernah menyesal Do ". Toni berdiri dan menepuk bahu Edo. "Setidaknya aku sudah mengingatkanmu, berkali-kali malah ".
γ
"Terima kasih ya. Kamu tidak pernah meninggalkan aku, kau sudah seperti saudara bagiku ". Edo berdiri dan memeluk Toni. Benar, selama 3 tahun ini Toni tidak pernah meinggalkannya, sungguh kental persahabatan antara dirinya dan Toni.
γ
"Ayo, jangan sampai desainer kondangmu itu naik pitam karena kita terlambat. Aku geli melihat dia kalau lagi marah, dia suka mencubit-cubit nggak jelas. Ihhhhhhh ". Toni merinding mengingat tingkah ajaib desainer gemulai yang di percaya Edo membuat setelan baju pernikahnya bersama Kemala.
γ
"Sepertinya dia suka padamu, hahahaha ". Tawa Edo sambil merangkul Toni keluar dari ruang kerjanya.
γ
"Kau mau ku pukuli sampai mati ya ?" Toni semakin merinding mendengar spekulasi Edo barusan. "Aku memang jomblo, tapi aku masih normal tahu ". Toni melepas rangkulan Edo dan berjalan duluan, dia kesal pada Edo.
γ
"Hey...masa begitu saja marah ". Edo berteriak memanggil Toni yang sudah berjalan cepat di depannya. "Ton, Toni.....ayolah, hahahahah ". Edo masih sempat menertawakan kemarah Toni padanya.
γ
Toni bersikap acuh, berpura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan Edo barusan. Edo berlari mensejajarkan langkahnya pada kaki panjang Toni.
γ
Mereka berjalan bersama menuju lift dan bergegas turun. Toni sudah janji, tidak akan mengungkit tentang Nia lagi di depan Edo. Semua sudah menjadi keputusan Edo. Biarlah, dirinya sudah tidak mau ikut campur lagi. Kalau memang Edo yakin menikahi Kemala, wanita kaya anak dari rekan bisnis keluarga Edo. Maka, Toni memilih akan mendukung keputusan Edo. Dalam hatinya,Β Toni hanya berharap semoga Edo tidak pernah menyesali apa yang menjadi keputusannya saat ini.
γ
"Berhenti memandangiku! Aku tidak sudi kau jatuh cinta padaku ". Mendengar Edo bicara, Toni mengangkat tangannya dan meletakkan lengannya di leher Edo.
γ
"Cih, amit-amit ". Toni memukul kepala Edo pelan.
γ
"Hahahaha". Mereka saling berpandangan dan tertawa lepas. Sungguh ikatan persahaban yang terikat kuat bagai saudara sekandung yang terjalin diantara 2 lelaki tampan ini.
γ
__ADS_1
γ