
🌈🌈🌈🌈🌈
Suapan kedua ke mulut Resya, yang di hantarkan dari sendok di tangan kanannya. Menu nasi goreng sayur ijo dengan telor ceplok. Resya mengunyah pelan, menikmati dan bersikap santai dengan wajah penasaran Kristo di depan dirinya.
Beberapa saat tadi Kristo telah menghidangkan nasi goreng buatannya, mengajak Resya duduk bersama di atas karpet ruang tamu.
Resya memasang ekspresi wajah waspada, bersiap menerima segala keanehan dari masakan Kristo. Tetapi, siapa yang menyangka. Resya malah nampak tenang, diam dan mengunyah pelan, santai dalam sejuta rasa yang jauh dari prediksi awalnya.
“Jadi ?” Kristo sudah tidak bisa bertahan dalam rasa penasarannya.
“Wenakkkk “. Bicara dengan mulut penuh, menjawab di antara kunyahan sendok ketiganya.
“Hahahaha, segituhnya “. Tertawa lucu sambil mengelap sudut bibir kiri Resya, ada sebutir nasi di sana.
“Aku bisa nunggu kok jawaban kamu. Gak perlu juga jawab dengan mulut penuh “.
“Hehehehe “. Cekikikan dengan menutup mulut penuhnya. Kemudian mengunyah sisa makanan dan menelannya.
“Maaf, habisnya aku pengen cepat-cepat bilang ke Bapak, kalau nasi goreng ini enak banget “. Memuji dengan ibu jari kanan di angkat tinggi.
“Aku rasa, ini adalah menu sarapan pagi terbaik dalam 3 bulanku di sini “. Tersenyum senang pada Kristo.
“Ya udah, kamu boleh kok kapan-kapan request nasi goreng ini lagi. Nanti aku buatkan “. Membalas senyum Resya.
“Se, serius ?” Mata melotot tidak percaya.
“Serius dong, tiap hari juga boleh “. Terlihat serius dengan ucapannya.
“Wah..senangnya “. Mengerakkan kepala seperti boneka dashboor mobil. Kesenangan.
__ADS_1
“Kamu ini, lucu banget “. Tertawa melihat ulah Resya.
“Bapak itu orang kesepuluh yang aku lucu. Jadi aku sudah bisa, gak kaget lagi tuh saat di puji gituh “. Menganggukkan kepala dengan alis di tarik ke atas.
“Wah, banyak banget tuh yang muji kamu. Sampe aku hanya bisa bertengger di urutan kesepuluh “. Lucu melihat sikap percaya diri Resya.
“Ya, mau gimana lagi Pak. Resya gituh loh “. Memuji diri gak jelas.
“Suka hatimu deh “. Memilih mengalah.
“Pak ?” Memanggil Kristo setelah menyuapi kembali nasi goreng di piringnya.
“Iya “. Melihat pada Resya.
“Bapak kok bisa masak nasi goreng sih ?” Heran.
“Salah kalau aku bisa masak ?” Balik heran.
“Maksud kamu apa ?” Tidak mengerti arti kata dan sikap Resya.
“Ya itu “. Menjangkau gelas di depannya yang berisi air putih. Meneguk beberapa kali, meletakkannya kembali dan lanjut berbicara. “Secara, Bapa itu adalah sekretaris Sunjaya Company, tangan kanan tuan Aisakha, kepercayaan Presdir. Bapak itu bukan orang sembarangan “.
“Lantas, bagian mana yang salah dengan bisa masak ?” Masih heran.
“Ya..yaaaaaa “. Merasa bingung karena Kristo masih tidak paham. “Seorang yang sangat punya kedudukan di perusahaan sebesar Sunjaya Company, bagaimana mungkin Bapak bisa masak ?”
“Jadi, menurut kamu, dengan latar pekerjaan aku, aku enggak boleh punya teman, gak boleh makan enak, gak boleh jatuh cinta ? Aku gak boleh hidup normal seperti semua orang ?” Kristo membuat Resya terdiam.
“Aku ini juga manusia Sya, aku juga punya kehidupan normal di balik pekerjaanku “.
__ADS_1
“Nah, gomong-gomong tentang normal “. Resya mendadak ingat sesuatu. “Bapak ngapain coba pagi-pagi ada di sini ?”
“Oooo, itu “. Sedikit gugup, tapi Resya sepertinya tidak tahu.
“Tuan dan nona, mereka pengen berdua saja di rumah cinta. Jadi, aku libur hari ini “. Bicara sambil menatap ke arah piring, berusaha menutupi perasaannya saat ini. “Terus, aku ingat kalau kamu ada janjian sama Bayu. Ya, aku iseng aja berencana mau temani kamu ke tempat janjian sama Bayu. Dari pada aku ngelawa gak jelas, kan lebih bagus aku temani kamu ?”
“Bapak gak perlu repot jugalah antar aku “. Menolak karena tidak mengerti maksud Kristo yang mendadak terasa aneh.
“Gak repot kok, sekalian aku juga pengen main, pengen muter-muter “. Senyum canggung.
“Tapi ?” Semakin merasa aneh dengan sikap Kristo.
“Ya, kalau kamu keberatan juga gak masalah. Aku bisa mengerti kok, siapalah aku ini “. Meletakkan piring makan ke atas karpet, kemudian memasang wajah sedih, sangat kecewa.
Ihhhhhh, apaan coba mukanya Pak Kristo ? Sok-sok di buat sedih gituh. Akukan jadi gak tega. Membatin penuh iba. Tapi, masa iya dia ikut aku janjian sama Bayu ? Nanti malah yang ada Bayu jadi gak leluasa mau minta tolong sama aku. Aduhhh, ini gimana sih bagusnya ?
“Sudah, lupakan saja “. Kristo nampak semakin sedih.
Ahhh, tukan. Mana sampai hati aku lihat wajah memelas gituh. Membatin galau.
“Ya udah, nanti Bapak boleh temani aku deh “. Mengalah karena tidak tegaan. “Tapi gak boleh resek ya !”
“Benarkah ?” Binar bintang memenuhi mata Kristo.
“Iya benar “. Menghela nafas pasrah. “Tapi, janji loh ya enggak boleh resek !”
“Siap...aku janji “. Mengangkat jari telunjuk dari tengah tangan kanan tinggi ke udara. Membuat gerakan berjanji dengan jari.
“Kalau gituh habiskan dulu sarapan Bapak, setelah itu cuci piring dan semua perkakas dapur yang kotor. Baru setelah selesai semua, kita pergi !” Tanpa dosa memberi perintah pada Kristo. Dan ajaibnya, Kristo malah manut tanpa niat menolak apa lagi marah pada Resya.
__ADS_1
Eh, kok patuh amat ya ? Di suruh mau aja, apa nih Bapak gak salah minum kopi pagi tadi ? Jangan-jangan kopi kadarluarsa yang di minum, mangkanya bisa seperti ini tingkah anehnya ? Membatin sambil mengamati Kristo yang melanjutkan sarapan paginya dengan semangat.
Apa aku bakal ada dalam masalahkah nanti ? Masih membatin heran. “Semoga jangan deh. Semoga semua baik-baik saja dan hari ini akan berakhir indah.