SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
6


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Jarum pendek pada jam di tangan Nia sudah menunjukkan angka 7, sedangkan jarum panjangnya hampir ada diangka 6. Akhirnya dapat di pastikan nyaris 30 menit Nia terlambat dari jam janjian dengan calon mertuanya itu. Apa mau di kata, sikap cemburu si kekasih yang terlalu lebay menjadi biang penyebab semua terjadi


Sekarang Nia hanya bisa berharap semoga Mama tidak akan marah kerana dirinya yang terlambat datang.


γ€€


***************


γ€€


Mobil yangΒ  dikemudikan Satriyo, pengawal Nia telah melambatkan laju putaran bannya. Sepertinya mobil tersebut akan berbelok ke arah gerbang di sisi kanan mobil. Malam ini Nia sengaja berangkat ke Villa Aisakha hanya di dampingi oleh 2 pengawalnya, Damar dan Satriyo. Nia tidak membawa Pakde ikut serta, kasihan rasanya kalau Pakde harus bolak balik hanya untuk mengantar dirinya saja. Jelas Nia akan menginap malam, jadi biarlah. Nia cukup berangkat bersama para pengawal. Apa lagi mereka memang harus standby di dekat Nia, jadi lebih praktis rasanya.


γ€€


Pintu gerbang di buka, seorang lelaki berpostur tegap dengan baju santai menyapa Satriyo dan mempersilahkannya masuk. Nia sibuk memperhatikan taman indah di depan gerbang.Β Tamannya besar banget ya. Sudah sebesar apartemenku saja. Hehehehe.


γ€€


Mobil mewah milik Aisakha telah di parkir, Damar turun dan membuka pintu mobil bagian belakang tempat Nia berada. Nia tertegu, sibuk memandangi bangunan besar nan megah di depannya itu. Beberapa kali Nia menelan air ludahnya sendiri, terlalu takjub dengan apa yang di ada di depannya. Ini Villa apa istana ya, gede banget.Β 


γ€€


"Akhirnya kamu sampai nak ". Saking terpesona dengan bangunan megah Villa Aisakha, Nia tidak menyadari ternyata telah berdiri sosok sang calon Mertua menunggunya di depan pintu.


γ€€


"Ma ", sapa Nia sambil melangkah naik ke teras depan tempat Mama Aisakha berdiri. Nia mendekati calon mertuanya itu dan mencium tangan wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik di usia senjanya.


γ€€


"Kamu ini buat Mama khawatir saja ". Mama memegang pipi Nia. "Kenapa tidak bisa Mama telepon ha ?"


γ€€


"Maaf ya Ma, aku terlambat. Tapi semua bukan salah aku Ma. Sumpah ". Nia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tinggi. "Mama tahu, jam 7 kurang aku sudah siap kok ". Mama merangkul Nia dan mengajaknya masuk.


γ€€


"Kamu bawa tas Nia ke kamar ya. Setelah itu kalian bisa istirahat !" Perintah Mama pada para pengawal Nia. Nia memperhatikan Damar dan Satriyo menunduk hormat dan menunggu sampai Nia dan nyonya besar mereka berlalu. Barulah setelah itu Damar menjalankan perintah dari sang nyonyan. Sedang Satriyo, dia menunggu Damar di anak tangga bawah sampai selesai mengantar tas baju Nia. Barulah setelah itu mereka berjalan ke bangunan di bagian belakang Villa tempat mereka beristirahat.


γ€€


Kembali ke Nia dan sang Mama mertua.


γ€€


"Kalau memang sudah siap sejak awal, kenapa terlambat Nia ?" Mama mengajak Nia duduk di ruang keluarga, duduk di samping Mama pada sebuah sofa besar.


γ€€


"Si Mas, Ma ". Keluah Nia pelan.


γ€€


"Anak itu, apa ulahnya padamu nak ?" Mama menatap serius pada Nia.


γ€€


"Aku di suruh hapus makeupku, katanya aku gak boleh dandan. Padahal Ma, aku enggak dandan kok. Aku cuma pake pelembab wajah dan pelembab bibir saja ". Nia terlihat lelah hanya dengan menceritakan ulah Aisakha padanya.


γ€€


"Padahal sudah di jelaskan, tapi Mas gak percaya. Kami sampe lama video call Ma ". Nia mengakat kedua bahunya.


γ€€


"Astaga anak itu. Pantas saja Mama gak bisa telepon kamu ". Mama terlihat kesal. "Biar, biar Mama marahi dia. Tingkahnya sangat konyol, Mama jadi kesal ".


γ€€


"Hehehehe ". Nia terkekeh melihat Mama yang sudah memasang tampang kesal. "Iya Ma, marahin aja ". Hasut Nia senang.


γ€€


"Sebentar ya nak ". Mama berjalan ke sisi lain ruang keluarga. Nia hanya diam memperhatikan langka Mama menjauh darinya.


γ€€


Saat Mama meninggalkannya sendiri di ruang keluarga, Nia mencoba melihat sekeliling ruangan tempat dirinya berada. Ruangan yang sangat besar, dengan perabotan mewah. Di depannya berada televisi besar lengkap dengan speaker yang tidak kalah besar. Saking besarnya televisi tersebut, Nia sampai kesulitan memprediksi ukuran pasti televisi.Β Seumur-umur, baru kali ini aku lihat televisi segede itu.Β Jiwa rakyat biasa Nia merasa takjub dengan apa yang dipandangnya.

__ADS_1


γ€€


"Mama telepon Sakha sekarang ". Mama telah kembali dan berjalan mendekat kearah Nia sambil membawa handphone yang di letakkan di dekat telinganya.


γ€€


"Hallo, Sakha ". Suara Mama terdengar jelas oleh Nia. Tetapi Nia tidak dapat mendengar jawaban Sakha di ujung telepon.


γ€€


"Kamu ini, kenapa sampai membuat anak Mama datang terlambat ". Mama memasang tampang kesal. Sedang Nia, dia terkekeh pelan.


γ€€


"Bukan, anak Mama itu Syania ". Mama menatap Nia yang masih terkekeh sambil menutup mulutnya.


γ€€


"Mama rasa, saat kalian sudah menikah besok kamu akan mendominasi Nia. Mama gak punya kesempatan buat bersama anak Mama ini ". Nia penasaran apa kira-kira jawaban Aisakha di ujung telepon.


γ€€


"Ooo, kalau itu Mama setuju. Tidak masalah, tidak masalah ". Mama menganguk sambil tersenyum pada Nia.


γ€€


Eh ? Nia.


γ€€


"Ya, ya ". Mama mengedipkan sebelah matanya kepada Nia.


γ€€


Apa ? Kok perasaanku jadi enggak enak. Ini Ibu ma anak punya rencana apaan ya ?Β Nia.


γ€€


"Ya sudah sayang, kamu lanjutkan pekerjaanmu ya. Tapi jangan sampai terlalu larut, jaga kesehatan ya nak ". Selang beberapa saat, Mama sudah meletakkan handphonenya di atas meja di depan sofa.


γ€€


"Mama sudah memarahinya ". Mama berlagak seperti Ibu yang sudah selesai memarahi anak lelakinya yang ketahuan mencuri mangga tetangga.


γ€€


γ€€


"Dia menyesal sudah membuat anak gadis Mama ini jadi terlambat. Sakha minta maaf ".


γ€€


"Bagus deh Ma ". Nia tersenyum senang.


γ€€


"Yah, mau gimana lagi nak, kamu terlalu cantik sih. Jadi Sakha suka aneh-aneh ". Mama mengelangkan kepalanya. "Bahkan Sakha berencana mengurungmu kalau kalian sudah menikah nanti ". Mama mengerak-gerakkan alisanya beberapa kali.


γ€€


"Apa Mah, mengurungku ? Ke, kenapa Ma? Terus Mama setuju ?" Nia terlihat sedikit takut. Bayangan mengerikan terlintas di kepalanya tentang kata dikurung.


γ€€


"Ya, tentu saja Mama setuju nak ". Mama terlihat sangat yakin.


γ€€


"Ma ". Nia mengeleng sambil memegang tangan Mama mertuanya itu. Memohon pertolongan.


γ€€


"Sayang, kata Sakha kalau Mama memberi izin dia mengurungmu. Mama akan segera kalian hadiahkan cucu. Tentu saja Mama gak nolak nak. Hahaha ". Mama terlihat sangat senang bisa menjahili calon menantunya itu.


γ€€


"Mama ". Nia tertunduk, betapa malunya dia saat ini, wajahnya mulai merona. Sudah mulai mendekati warna tomat matang.


γ€€


"Hahahaha ". Mama masih belum selesai menertawakan Nia.Β Beruntungnya anak semata wayangku memiliki kamu nak. Kamu gadis baik berhati bersih. Semoga rumah tangga kalian langgen nanti ya dan kalian akan memberi Mama banyak cucu.


γ€€

__ADS_1


Mama membelai rambut Nia, menyudahi tawanya setelah puas menjahili calon menantunya itu.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Malam sudah semakin menguasai Kota Bengkulu. Nia mulai merasa lelah, tetapi matanya masih menolak untuk dipejamkan. Sepertinya bola mata cokelatnya itu masih sibuk memandangi seisi kamar Aisakha, tempat dia terbaring sekarang.


γ€€


Selesai makan malam tadi, Mama mengajak Nia berkeliling Villa megah nan mewah milik keluarga mereka sambil memperkenalkan Nia pada seluruh penghuni Villa. Ada Nadya dan Tini, 2 remaja dengan tampilan sederhana itu bertugas membersihkan bagian dalam Villa. Kemudian untuk bagian luar Villa ada Pak Ratmo, lelaki yang mungkin usianya sebaya Pakde, sopir Nia, untuk bagian taman depan dan belakang, serta kolam renang. Untuk bagian masak-memasak, Bi Tija yang menurut Mama telah bekerja bersama keluarga mereka sejak awal Villa tersebut berdiri. Mama sangat puas dengan cara kerja Bi Tija, rasa masakannya cocok di lidah Mama. Dan terakhir, Mama memperkenalkan Nia pada Gogom, lelaki yang usianya tidak berbeda jauh darinya ini adalah orang yang tadi membukakan gerbang saat kedatangannya. Gogom bertugas khusus sebagai keamana di Villa bersama Iwan, Sam dan Deden. Mereka bekerja secara bergantian, begitu penjelasan Mama pada Nia.


γ€€


Nia dan Mama memilih duduk di tanam belakang, di sebuah pendopo, duduk santai sambil menikmati teh hijau kesukaan Nia.


γ€€


"Nia, selain Bibi Ros siapa lagi keluargamu nak ?"? Sambil menikmati teh hijau hangat, Mama dan Nia bersantai menikmati udara malam di pendopo belakang.


γ€€


"Masih ada Ma, Bi Ratna dan Paman Tanto anak dari Kakak Nenek. Jadi Neneknya aku dari pihak Ibu punya 2 orang saudara Ma". Nia meletakkan gelas tehnya kembali ke atas meja.


γ€€


"Dimana Bi Ratna itu sekarang ?" Mama masih mengajukan pertanyaan pada Nia.


γ€€


"Di Bogor Ma, Bi Ratna tinggal bersama anak sulungnya. Kak Dodo dan isterinya, Mbak Dari. Mereka punya 2 anak, Melsy yang tua, sudah SMP sekarang dan Arifin baru masuk SD Ma. Jarak usia mereka lumayan jauh, 6 tahunan gituh Ma ". Nia mengangguk ke arah Mama mertuanya.


γ€€


"Anak Bibi Ratna yang lain ?"


γ€€


"Ada Mbak Lia, Ma. Sudah berkeluarga. Tapi mereka tinggal di Kalimantan, aku terakhir ketemu waktu pesta pernikahan Mbak Lia. Waktu itu Ibuku masih ada. Sekarang Mbak Lia sudah punya 3 anak, laki-laki semua dan masing-masing sudah berkeluarga. Tapi aku belum pernah bertemu mereka, hanya mendengar cerita dari Bibi Ros saja Ma ".Β  Nia meneguk teh hijaunya lagi sebelum melanjutkan ceritanya.


γ€€


"Terakhir, anak Bi Ratna paling kecil masih kuliah di Yogyakarta Ma, namanya Widiya, seumuran sama Tomi adik Alika ".


γ€€


"Ya, ya ". Mama tengah merekam semua cerita Nia barusan. "Dan Pamanmu, saudara Bi Ratna. Siapa namanya tadi ?"


γ€€


"Paman Tanto, Ma. Kalau Paman Tanto pensiunan Tentara dan sekarang menetap di Gorontalo. Kata Bibi Ros, Paman punya 4 orang anak, tapi yang nomor 2 meninggal saat masih bayi. Tentang keluarga Paman Tanto, aku enggak tahu banyak Ma. Karena seingatku, aku gak pernah bertemu Paman apa lagi isteri dan anaknya. Waktu Nenek meninggal, Paman sempat pulang ke Jakarta. Tapi waktu itu aku masih di kantor, jadi kami tidak ketemu. Dia hanya sebentar Ma, tidak nginap ".


γ€€


"Iya, iya ". Kembali Mama menganguk seakan paham dengan semua cerita Nia barusan.


γ€€


"Bagaimana keluarga Ayahmu, nak ? Masih ada siapa ?"


γ€€


"Kalau keluarga Ayah, aku tidak tahu Ma ". Nia membuang muka, menatap sisi kiri pendopo.


γ€€


"Kenapa Nia, ada apa ?" Mama merasa ada sesuatu yang, entah apa namanya terpancar dari wajah calon memantunya itu.


γ€€


"Ma, pernikahan Ayah dan Ibu tidak direstui oleh keluarga Ayah ". Nia menghembuskan nafas dalam. "Konon cerita Bibi Ros, Ayah berasal dari keluarga berada. Orang tua Ayah, Kakek dan Nenekku merasa Ibu bukanlah menantu yang tepat untuk keluarga mereka. Namun, Ayah tetap memilih bersama Ibu ". Ada mendung di mata Nia. Sekali saja matanya mengerjab, air mata di balik mendung itu pasti akan jatuh.


γ€€


"Setelah Ayah dan Ibu menikah, mereka pergi dari keluarga Ayah. Hingga Ayah meninggal, aku tidak pernah mengenal siapa keluarga Ayahku, Ma. Aku pernah bertanya pada Ibu, semasa Ibu masih hidup. Ibu hanya bilang, orang tua Ayah adalah Kakek dan Nenek yang baik, mereka sayang padaku. Hanya itu saja Ma, tetapi aku enggak pernah ketemu sama mereka ".


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2