
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Nia ". Lagi notifikasi pesan baru masuk ke handphone Nia. Sepertinya Bowo mulai takut kalau Nia akan berubah pikiran.
 
Bowo diam di depan stir di dalam mobilnya, harap-harap cemas memikirkan Nia yang hanya diam tanpa membalas pesannya. Jelas pesan itu sudah di baca, tetapi sama sekali tidak ada balasan yang di terimanya.
 
Waktu berlalu, baru 3 atau 4 menit mungkin, tapi entah kenapa bagi Bowo rasanya sudah seperti satu minggu saja dan Nia masih belum memberi jawaban padanya, Bowo mulai dihinggapi rasa putus asa. Diam-diam Bowo berdoa di dalam hatinya, bermohon sungguh-sungguh pada Tuhan agar Nia tidak membatalkan janjinya, Nia mau ikut dengannya. Sambil menunduk di depan stir, Bowo terus berdoa sebanyak yang dia bisa dengan mata terpejam.
 
Tok..tok..tokkkkkk...
Suara ketukan di kaca mobil sebelah kemudi terdengar pelan, Bowo mengangkat kepalanya memandang sosok yang menganggu doa khusyuknya. "Aaaa, , Nia ". Hampir saja Bowo berteriak saking senangnya melihat kedatangan Nia.
 
Segera Nia masuk ke dalam mobil Bowo, walaupun tadinya Nia sempat ragu. Namun, di akhir setelah membaca pesan masuk Bowo, hatinya luluh juga. Ada rasa iba dalam hatinya, khas seorang Nia yang sangat tidak tegaan apa lagi kalau sampai mendengar orang memohon-mohon padanya. Jadilah sekarang Nia sudah duduk di dalam mobil Bowo dengan perasaan campur aduk.
 
"Terima kasih kamu menepati janjimu ". Bowo hampir saja menarik Nia ke dalam pelukannya saking terharunya.
 
"Kalau memang kamu perlu bantuanku, segeralah ! Kalau tidak lupakan saja sebelum aku berubah pikiran ". Nia terlihat waspada.
 
"Iya, iya..kita berangkat sekarang ". Bowo menjalankan laju kemudi dengan perlahan, dia tidak ingin menarik perhatian siapapun saat ini. Dan dengan tenang Bowo telah berhasil keluar dari area parkir selatan cabang Perusahaan Sunjaya Company tanpa ada yang curiga apa lagi tahu.
 
***************
__ADS_1
 
EPILOG.....
 
"Damar, ini. Tolong ya ". Nia menyerahkan handphonenya kembali pada Damar setelah membaca pesan terakhir yang di kirim Bowo untuknya.
 
"Kita jalan sekarang nona ?" Tanya Damar melihat Nia sudah berdiri.
 
"Ayo.. ". Diam-diam Nia menghembuskan nafas dalam, Nia sedang berusaha menghilangkan aura gugupnya.
 
"Sebentar, sebentar !" Damar yang hanya berjarak 2 langkah di depan Nia segera menghentikan gerakan kakinya.
 
 
"Maaf, saya mau ke toilet dulu ". Tanpa menunggu jawaban Damar. Nia langsung melangkah ke salah satu sudut ruang kerjanya, tepat ke bagian toilet khusus wanita.
 
"Rusak ". Guman Nia pelan, berpura-pura kecewa. Damar pun ikut membaca pengumuman besar yang tertulis di depan pintu masuk toilet.
 
"Bagaimana baiknya nona ?" Damar memperhatikan Nia yang sepertinya memang sangat ingin segera ke toilet.
 
"Eeeee... ke pantry saja. Di sanakan ada toiletnya ". Gaya bicara Nia seakan-akan dirinya telah menemukan sebuah ide brilian.
 
__ADS_1
"Saya bagaimana baiknya nona saja ". Damar menganguk patuh.
 
Nia berjalan cepat. Ritme jantungnya terlalu kencang, debarannya begitu keras. Seumur-umur ini kali perdana Nia melakukan kebohongan, dirinya sangat takut.
 
"Tolong pegang tas saya ya ". Demi membuat Damar yakin, Nia berlagak menitipkan tasnya pada Damar sebelum dia membuka pintu utama menuju bilik-bilik toilet wanita.
 
Damar hanya menunduk saja tanpa bersuara saat menerima tas yang tadi berada di bahu kanan Nia. Perlahan Damar berjalan agak menjauh dari pintu utama tempat Nia menghilang masuk ke dalam sana.
 
Nia menghitung di dalam hati.
Satu, dua, tiga, empat....
Ya Tuhan, semoga apa yang aku lakukan ini benar....
Lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh....
 
Nia berjalan keluar dari pintu yang tadi di masukkinya, perlahan berjalan tanpa menimbulkan suara saat sepatunya menyentuh lantai. Nia mengendap-endap memperhatikan sekitar, ternyata tidak ada sosok Damar di sekitarnya.
 
Lebih perlahan lagi, Nia berjalan ke arah ujung kiri pintu utama toilet khusus wanita itu. Benar kata Bowo, Nia pun menemukan sebuah pintu besar berlapis alumunium yang langsung terhubung dengan bagian parkir selatan.
 
Pintu terbuka, Nia melihat sekelilingnya sangat sepi. Tidak sulit bagi Nia mencari keberadaan Bowo dan mobilnya, karena memang hanya mobil Bowo saja yang terparkir di sana. Setengah berlari, Nia bergegas mendekat, ternyata Bowo sedang tertunduk di depan stir mobilnya dengan mata terpejam dan bibir yang bergerak komat-kamit. Entah apa yang sedang di pikirkan Bowo.
 
 
__ADS_1