
πππππ
γ
"Ke sini sebentar Nia...", Nia mendengar ada wanita paruh baya, tetapi sedikit lebih muda dari calon Mama mertuanya yang memanggil dirinya.
Aduh..itu tadi siapa ya panggilannya ?
Nia pun berencana berdiri, hendak berjalan mendekat ke arah si pemanggil dengan ekspresi penuh tanda tanya.
γ
"Siapa yang memanggilmu Nia ?" Tanya Tante Mayang, saudara sepupu dari calon Mama mertua Nia, tapat di saat Nia berdiri ingin meninggalkan meja itu dan beralih kemeja sebelah.
γ
"I, itu tante..", jawab Nia ragu sambil menunjuk meja di sebelahnya.
γ
"Ooo, itu aunty Kartika, nak. Lupa ya ?" Sepertinya Tante Mayang tahu kalau Nia masih belum berhasil menghafal semua nama-nama orang di dalam aula tersebut.
γ
"Maafkan saya tante, saya memang masih belum ingat semua ". Aku Nia jujur.
γ
"Tidak masalah Nia, itu wajar kok. Kamukan baru mengenal kami semua, bagaimana mungkin kamu bisa langsung hafal. Santai saja, kamu punya banyak waktu untuk itu, kan sebentar lagi kamu akan masuk keluarga besar ini ", terlihat ada senyuman menghiasi wajah tante Mayang saat menenangkan hati Nia yang merasa bersalah.
γ
"Terima kasih tante..", jawab Nia cepat.
γ
"Iya, iya..sudah sana. Nanti si Kartika itu ngambek kalau kamu terlalu lama menghampiri dia ". Tante Mayang meminta Nia untuk berdiri.
γ
Waduh....gimana ini ?
Mendadak hati Nia menjadi ciut.
γ
"Tenang saja..kalau Mayang itu ngambek, kamu tawarkan diri buat bernyanyi ", tante Kartika melihat ada sedikit kebingungan di wajah Nia.
γ
"Dengar ya nak, ada rahasia kecil tentang Kartika ", tante Mayang menarik lengan Nia agar mendekatkan telinganya ke arah bibirnya.
γ
"Kartika itu kalau sudah ngambek, paling senang di bujuk dengan lagu. Di jamin dia pasti luluh ". Dan tante Mayang menepuk pelan punggung tangan Nia saat mengakhiri ceritanya.
γ
"Baiklah tante..makasih ". Nia mengangguk pelan dan segera mohon diri. Nia pun pamit pindah ke meja sebelah.
γ
"Lama sekali kamu !" Ternyata benar tebakan tante Mayang. Wanita paruh baya yang menurut Nia sedikit lebih muda dari sang Mama mertua ini terlihat tidak senang dengan keterlambatannya datang, aunty Kartika sedikit memasang wajah tidak bersahabat.
γ
"Maafkan saya aunty ", ucap Nia sungguh menyesal.
γ
"Apakah Mayang menghalangimu ?" Sebelah alis aunty KartikaΒ terangkat. "Asal kamu tahu ya menantu, Mayang itu orangnya suka mendominasi. Jadi bisa aku tebak, dia pasti mau kamu hanya di meja dia saja, tidak datang mengunjungi mejaku ". Terdengar ada nada kesal di setiap kata yang diucapkan oleh aunty Kartika.
γ
Apa antara tante Mayang dan aunty Kartika ada perang dingin ya ? Perasaan mereka terlihat seperti 2 orang yang saling tidak bersahabat. Aku jadi pusing, aku harus gimana ya supaya tidak memberi kesan berpihak ke salah satu di antara mereka ?
γ
"Heeemmmmm, kamu diam ya ". Segera Nia menatap aunty Kartika. "Sudah aku duga. Heh, dasar Mayang ". Rutuk aunty Kartika kesal.
γ
"Aunty, apakah aunty berkenan mendengarkan sebuah lagu dariku ?" Cepat Nia mengalihkan perhatian aunty Kartika. Berharap informasi yang di dapatnya dari tante Mayang tadi bisa bermanfaat, bisa di pakai untuk memperbaiki suasana hati wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya.
γ
"Nyanyi ? Serius ?" Wajah aunty Kartika langsung berubah antusia. "Iya..iya..aku suka itu. Apa lagu yang akan kamu nyanyikan ?" Aunty Kartika terlihat girang.
γ
__ADS_1
"Emmm, sebuah lagi tentang perasaanku, cintaku aunty ". Jawab Nia sambil mengedipkan matanya sebelah. "Pada keponakan tampan aunty itu ". Sekarang mata Nia menatap sosok lelaki tampan yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa lelaki yang usianya jauh lebih tua di salah satu meja, Nia tersenyum ke arah Aisakha.
γ
"Cinta ya ? Aku suka sekali tentang lagu percintaan ". Aunty Kartika segera meminta Nia berdiri. Sepertinya wanita ini sudah tidak sabar lagi ingin mendengar Nia beryanyi. "Pergilah ke sisi pianis itu, minta dia mengiringi kamu ". Tunjuk aunty Kartika ke arah depan aula.
γ
Di iringi pianis ?
Emmm...sepertinya enggak deh aunty, aku pengen sedikit beda.
Boleh ya...hehehehe...
Nia tersenyum simpul dan mulai berjalan pelan ke arah depan aula, tempat seorang lelaki asyik menekan tuts piano dengan sepenuh jiwa.
γ
Aisakha menyadari pergerakan Nia, sesungguhnya mata biru itu terus memperhatikan Nia, meskipun dia tetap menjadi pendengar setia untuk para Paman-pamannya.
Mau kemana Nia ?
Apa yang telah dilakukan aunty Kartika padanya.
γ
Ada rasa khawatir, meskipun sedikit, tetapi Aisakha cukup tidak nyaman melihat Nia semakin menjauh ke arah depan aula.
γ
"Paman...sebentar ". Mendadak Aisakha memotong pembicaraan salah satu Pamannya. Aisakha berniat bediri, mengejar Nia ke depan.
γ
Tetapiiiiiii........
γ
Ting..ting...tingggg...
γ
Aunty Mayang memukul gelas minumnya dengan sendok, sepertinya aunty sengaja melakukan itu untuk mendapat perhatian dari semuanya, aunty ingin memberi pengumuman. Aisakha pun kembali terduduk.
γ
"Perhatian semua, mohon perhatiannya ". Suara aunty terdengar jelas di aula besar itu, semua orang sedang menyimak dirinya. Sedang Nia, Aisakha melihat kalau Nia sudah sampai persis di bagian depan aula. Berdiri di samping pianis dan terlihat sedang berbincang.
γ
γ
Mau kemana pemain piano itu ?
Aisakha melihat si lelaki pemain piano itu berdiri, memberi hormat pada Nia dan mempersilahkan Nia duduk di bangku yang sedari tadi di dudukinya.
Ehh??????
γ
"Malam ini, calon menantu kita, yaitu calon isteri Aisakha akan mempersembahkan sebuah lagu buat kita semua ". Aunty kembali melanjutkan pengumumannya. "Dan saya mendapat info terpercaya, lagu yang akan di nyanyikanya itu adalah lagu yang berasal dari harinya untuk calon suaminya ". Mendengar itu, semua orang yang hadir di aula langsung bertepuk tangan senang, mereka bersorak memberi semangat pada Nia.
γ
Sedang Aisakha, di mengeleng pelan sambil tersenyum bangga. Sepertinya di dalam hati Asakha sedang di penuhi aneka bunga saat mendengar semua penuturan auntynya itu.
Benarkah, lagu itu mewakili perasaanmu padaku Nia ?
Apakah ini artinya kamu sudah membuka diri sepenuhnya padaku ?
γ
"Baiklah semuanya...mari kita dengar Syania menyanyikan lagunya tentang cintanya !" Bibipu menunjuk ke arah Nia yang sudah terduduk di depan piano.
γ
Nia menarik nafas panjang sesaat, lalu menghembuskannya perlahan. Nia mengulang hal yang sama, hingga dirinya merasa siap.
"Paman dan Bibi tertua, aunty dan om serta bude dan pakde serta para sepupu semua, izinkan saya mempersembahkan sebuah lagu ini. Semoga semua suka ".
γ
DanΒ Nia pun mulai menekan satu tuts piano ke satu tuts lainnya, menciptkana harmoni indah.
γ
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
__ADS_1
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai kesatria
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam warna rambutmu tertata rapi
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Oh-ho huu
Terimalah lagu ini
Hm-mm
Dari orang biasa
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Terimalah cintaku yang luar biasa
Hm-mm
Tulus padamu
γ
CINTA LUAR BIASA. By, Andmesh Kamaleng
γ
__ADS_1
γ