SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
147


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Putaran waktu begitu cepat. Nia dan Resya sudah sampai di parkiran Mall tempat acara nyalon mereka sore ini.


Resya turun dari mobil yang di kendarainya, sedang Nia turun dari mobil mewah Aisakha langsung dengan pengawalan Bayu dan Dani, serta 5 orang lelaki berpakaian serba hitam yang mengekor langkah senang Nia.


Nia tersenyum, bergandengan tangan bersama Resya menuju arah eskalator.


“Sya, nanti kita beli es krim dulu boleh ?” Ucap Nia saat mereka telah di bawa berjalan oleh tangga yang bergerak ke arah lantai 2 itu.


“Wihh, ide seru tuh “. Resya menganggukkan kepalanya setuju. “Berarti kita harus naik ke lantai 3 Nia, di sana banyak gerai makan dan minuman. Kita bisa santai sejenak sebelum nyalon “.


“Asyikkkkkk “. Suara Nia riang.


Mereka pun berjalan menyusuri lantai 2 Mall megah itu, mencari tangga berjalan berikutnya yang membawa mereka ke lantai 3.


Dan sampailah mereka di lantai 3, mata Nia sibuk memandangi aneka gerai makanan yang memenuhi lantai itu. Aroma wangi kue, atau aneka olahan makan lainnya menyerebak masuk ke indra penciuman Nia.


“Eeeppp “. Nia menutup mulutnya rapat. Perasaan Nia, mendadak perutnya kacau akibat mencium aneka bebaunan yang memenuhi lantai 3 itu.


“Nia...kenapa ?” Resya kaget mendapati Nia mendadak menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Kita duduk dulu ya “. Resya memegang tangan Nia, mengajaknya duduk di sofa panjang di sisi lain lantai 3. Sofa yang memang di sediakan gratis untuk para pengunjung yang ingin bersantai atau sekedar duduk menunggu sesuatu.


“Nona kenapa ?” Bayu dan Dani juga bisa melihat keanehan sikap Nia barusan.


“Enggak tahu juga “. Aku Nia jujur.


“Kamu sakit ?” Resya meletakkan punggung tangannya ke kening Nia. “Tapi enggak panas kok ?” Resya jadi heran.

__ADS_1


“ Enggak, aku enggak sakit kok “. Nia menggeleng pelan.


“Ya udah. Kita pulang aja yuk. Nyalonya kapan-kapan saja “. Resya masih saja khawatir.


“Jangan dong Sya “. Tolak Nia cepat. “Kan kita udah sampe sini juga “.


“Apa nona yakin ?” Sekarang giliran Dani berbicara.


“Iya, kalian jangan khawatir ! Aku enggak papah kok. Tadi itu cuma mual saja, mungkin akibat kebanyakan makan mangga semalam “. Nia tersenyum.


“Makan mangga ? Maksudnya ?” Resya menatap wajah Nia. Sedang Bayu dan Dani tersenyum simpul, mereka berhasil mengingat kehebohan yang diciptakan Nia persis di tengah malam.


“Bu, bukan apa-apa “. Jawab Nia gagap. “Sudah, nggak usah di bahas ! Sekarang kita makan es krim dulu ya “. Nia berdiri menarik tangga Resya.


Akhirnya, Nia bisa menguasai dirinya yang sesaat tadi nampak agak terkejut dengan aneka aroma wangi aneka masakan yang memenuhi lantai 3 itu. Langkah Nia dan Resya begitu senang, gerai es krim sudah di depan mata.


“Kamu mau rasa apa Nia ?” Resya berniat memesan menu mereka.


“Ohh, baiklah “. Resya menarik kursi dan duduk di samping Nia.


“Bayu tolong ya “. Nia tersenyum. “Saya mau es krim vanila dan stroberi. Kamu Sya ?”


“Aku sama saja “. Bayu mengangguk patuh.


Bayu berjalan ke arah tempat pemesanan. Antrean cukup panjang, Bayu menunggu. Sementara itu..


“Eppppp “. Nia kembali menutup mulutnya. Entah kenapa, aroma berbagai rempah di sekelilingnya benar-benar membuat isi perutnya kacau.


“Nia ?” Suara keras Resya mendapati Nia mulai berjalan cepat menuju toilet terdekat.

__ADS_1


Semua panik, Resya setengah berlari mengejar Nia. Dani dan yang lainnya menyusul langkah Nia.


BRAKKK....


Tanpa sengaja Resya menabrak bahu seorang lelaki dengan jaket merah, yang wajahnya tertutup topi, tepat di depan jalan masuk ke toilet.


“Maaf, maafkan saya, Pak. Saya sungguh tidak sengaja. Sekali lagi Maaf “. Resya begitu tidak enak hati atas kecerobohannya.


Lelaki berjaket merah dan bertopi itu diam, sedang berpikir keras.


“Nia....”, teriak Resya yang sadar Nia telah masuk ke dalam toilet.


“Sekali lagi maaf Pak “, Resya meninggalkan lelaki itu begitu saja. Resya segera mengejar Nia.


“Nia, Nia.... “, suara keras Nia sambil mengedor pintu toilet tempat Nia sedang memuntahkan isi perutnya. “Buka Nia, kamu kenapa ?”


“Nia.....”, suara Resya yang cukup keras membuat para pengawal Nia gelisah di luar toilet.


“Hubungi Pak Kristo. Ceritakan tentang nona !” perintah Dani pada Bayu.


“Bagaimana kalau tuan masih di pesawat ?” Bayu sudah memegang handphonenya. Tetapi masih belum menekan nomor telepon Kristo. Bayu ragu.


“Coba saja dulu ! Kalaupun iya, tinggalkan pesan “. Perintah Dani yang mulai gelisah


Bayu mencoba peruntungannya, sedikit menjauh dari suasana di depan toilet wanita itu. Sepertinya semua pengawal Nia ini memang sedang di landa rasa khawatir dalam pada nyonya muda mereka. Hingga terlalu fokus pada sang nyonya, tanpa menyadari kalau sosok lelaki berjaket merah dan  bertopi yang tadi tidak sengaja di tabrak Resya, masih berdiri di tempatnya. Memandang situasi sekitar sambil tersenyum bahagia.


Bahkan Tuhanpun berpihak padaku, sayang. Batin lelaki itu penuh kemenangan. Siapa yang menyangka, aku malah dipertemukan Tuhan dengan kamu begitu saja di sini. Aku bahkan tidak perlu repot-repot menculik kamu, Nia. Nia, ini pasti jalan Tuhan untuk menyatukan kita. Tuhan merestui kita sayang. Tuhan merestui kita.


 

__ADS_1


 


__ADS_2