SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
171


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


“Kau melamun ?” Aisakha menemukan Kristo terduduk di meja makan dengan kopi yang sepertinya tinggal setengah gelas dan di temani temaramnya lampu di tengah malam.


“Tuan “. Berdiri cepat. Tetapi, Aisakha membuat gerakan jari. Memberi kode pada Kristo untuk tetap duduk di kursinya.


“Ini sudah tengah malam. Kenapa belum tidur ?” bertanya setelah duduk di sebelah Kristo. “Kau ada masalah ?”


“Apa yang tuan inginkan ? Kenapa tuan turun ke bawah ?” mencoba mengalihkan perhatian Aisakha.


“Saya hanya ingin minum air hangat saja “.


Kristo langsung berdiri. Berjalan menuju dapur dan segera kembali dengan segelas air hangat di tangan.


“Terima kasih “. Menerima gelas dari tangan Kristo.


“Jadi “, meletakkan gelas di atas meja makan. “Kenapa kau belum tidur ?” kembali kepertanyaan awal.


“Saya kebetulan belum mengantuk tuan “. Menjawab tanpa mau menatap mata sang majikan.


Heh, kalau aku tidak kenal kau sejak lama. Mungkin kau bisa membohongi aku Kristo. Membatin sambil memperhatikan glagat Kristo.


“Mie celor yang kau bawa sangat enak. Nia bilang sama seperti yang dinikmatinya semasa dia di Bengkulu dulu “. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


“Saya menelepon ke koki hotel, saya ingin berterima kasih. Tetapi, si koki bilang kau tidak pernah menemui dia. Siapa yang membuat mie keinginan Nia itu ?” bertanya dengan memandangi Kristo lekat.


“Itu, yang membuat adalah Resya, tuan “. Memegang gelas kopi, bermaksud meminumnya.


“Gelas kopi ke berapa itu ?” Pertanyaan Aisakha membuat Kristo mengurungkan niatnya. Gelas kembali di letakkan di atas meja.


“Gelas kedua tuan “. Jujur.


“Kris, saya tidak tahu apa masalahmu. Tapi, rasanya saya sudah sangat sering mengingatkanmu tentang kebiasaanmu meminun kopi. Dan herannya, kau selalu mengabaikannya “. Sedikit kesal.


“Maaf tuan “. Kristo sadar niat baik sang tuan. Dan seperti biasa, Kristo hanya mampu meminta maaf untuk belum bisanya, dirinya lepas dari kopi.

__ADS_1


“Siapa yang memasak mie yang Nia inginkan ?” Malas membahas tentang kebiasaan Kristo bersama kopi.


“Resya, tuan “. Mengulang jawaban yang sama.


“Bagaimana bisa ?” Heran.


“Saat saya menjemput Resya, saya ceritakan semuanya tuan. Dan Resya bilang tidak perlu meminta koki hotel yang buat. Dia mampu membuatkan “.


“Di mana membuatnya ?” Masih heran.


“Di rumahnya tuan, di rumah kontrakannya. Setelah kami membeli semua bahan baku, langsung ke kontrakannya dan setelah itu, Resya mengolah semuanya “. Menjelaskan versi singkat.


“Kenapa tidak bawa dia sekalian ke sini. Kau tahukan, Nia pasti senang kalau tahu Resya yang memasakkan mie keinginannya itu ?”


“Awalnya Resya ikut tuan. Tapi, belum separuh jalan dia kembali lagi “.


“Ada urusan penting mungkin ?”


“Mungkin tuan “. Menjawab cepat.


“Apakah ini penyebab kau kesulitan tidur malam ini ?” Dan lagi-lagi merasa terpojok.


“Kris, kau jangan macam-macam dengan Resya. Kau tahukan Resya sahabat baik Nia. Aku tidak akan segan-segan menghajarmu kalau suatu saat nanti Nia meminta aku lakukan itu, saat dia tahu kau menyakiti Resya “. Mengancam dengan sikap dingin.


“Saya tidak tuan mengganggunya tuan. Saya malah berniat melindunginya. Tetapi, dia malah marah pada saya tuan. Dia pergi begitu saja “. Menghela nafas, tanpa sadar menceritakan kejadian sebenarnya walaupun masih sedikit.


“Melindunginya dari apa ?” masih belum paham.


“Dari laki-laki yang mungkin punya niat jahat padanya “. Terlihat cukup percaya diri.


“Mantannya ?” Aisakha masih belum paham.


“Salah satunya dan Bayu juga tuan “. Jawaban yang membuat Aisakha terpelongo.


“Apa yang di lakukan Bayu pada Resya ?”

__ADS_1


“Saya lihat, belakangan ini Bayu dan Resya cukup dekat tuan. Saya khawatir Bayu punya niat tidak baik pada Resya “.


“Kau, kau cemburu pada Bayu ?” pertanyaan yang membuat Kristo kelihatan sangat sulit menelan ludahnya sendiri.


“Sa, tidak. Tidak tuan “. Mulai bingung harus jawab apa.


“Yakin ?” Tersenyum.


****** kau sekarang Kris, kau sepertinya jatuh cinta. Aku mau tahu seberapa gilanya kau mengejar sahabat Nia itu. Membatin senang bakal menemukan tontonan baru.


“Iya “. Menjawab singkat dan cepat.


“Ya sudah, kalau memang Resya dan Bayu dekat, biarkan saja mereka semakin dekat. Nia pasti senang kalau tahu sahabatnya itu sudah tidak memikirkan mantannya lagi “. Mencoba mempropokasi.


“Tidak bisa tuan “. Seketika raut wajah tidak ikhlas.


“Sudah biarkan saja “. Mencoba bersikap tenang. Menahan diri tidak tertawa lebar dengan kepolosan seorang Kristo.


Cemburukan ? Rasakan Kris, setelah ini bucin baru tahu. Hahahahahaha..... Membatin sambil ngakak sepuasnya.


“Tidak akan saya biarkan tuan “. Semakin keras menolak. Akal sehat sudah lupa untuk mengontrol omongannya sendiri. Otak dan bibir tidak singkron.


“Kris, kalau Resya ada yang jaga itu malah baik. Nia pasti restui mereka. Lagi pula Resya dan Bayu itu sama-sama sendiri. Ya... sudah biarkan saja “. Masih berniat membuat Kristo menjadi bahan lelocunnya.


“Resya itu tidak kenal sama Bayu, tuan. Bagaimana kalau Bayu punya niat mempermainkan Resya. Dia itu baru saja dikhianati pacarnya, masih belum pulih benar. Nanti, kalau dia merasakan sakit yang sama kan kasihan tuan “. Menjabarkan alasannya versi sendiri.


“Memang Bayu bukan orang baik ?” menyipitkan mata. “Kau sudah gila ?” pura-pura marah. “Berani kau perkerjakan orang tidak baik di sekitar istriku. Kau mau mati ?” mengancam.


Astaga, salah gomong. Membatin penuh sesal.


“Bukan seperti itu tuan “.


“Sudahlah !” Sudah memutuskan. “Kau pecat Bayu sekarang, setelah itu usir dia “.


Mati aku, apa yang sudah aku katakan tadi. Aku lupa kalau tuan sangat sensitif kalau berhubungan dengan nona. Gawat, bisa tamat riwayat Bayu. Membatin penuh kegelisahan.

__ADS_1


__ADS_2