
πππππ
γ
γ
"Maaf ". Entah untuk apa atau pada apa, tetapi Nia merasa hanya kata itu yang paling baik diucapkannya saat ini.
γ
"Untuk apa ?" Tanya Aisakha sambil mempertahankan konsentrasi penuhnya pada tugas beratnya pagi ini, mengeringkan rambut Nia.
γ
"Maaf karena aku belum terbiasa dilayani sama mereka. Tapi, tapi itu bukan salah mereka sayang ! Tolong jangan memarahi mereka. Mereka itu baik dan menyenangkan, ini murni salah aku ". Nia berusaha membela Lita dan Riana.
γ
"Aku akan memecat mereka ". Suara dingin Aisakha masih tidak berubah. Meskipun tangan Aisakha tetap bergerak lembut di kepala Nia, tetapi hati Nia malah merasa sangat bersalah saat ini.
γ
"Sa, sayang ". Suara ragu Nia sambil berusaha membalikkan kepalanya menghadap Aisakha.
γ
"Sheeeetttt ", cegah Aisakha sambil membuat Nia tetap menghadap ke arah cermin di meja rias.
γ
Masa iya, gara-gara aku Lita dan Riana di pecat. Kan kasihan mereka, mereka nggak salah apa-apa, aku yang salah. Aku memang tidak terbiasa di layani seperti itu. Sama Bi Kartik saja aku gak di perlakukan kayak gituh. Bi Kartik lebih memperlakukan aku seperti anaknya, bukan majikan dan pelayan. Ya, ya.....jadi bukan salah aku dong kalau aku masih rada aneh kalau semua-mua pake pelayan, manaΒ 2 orang lagi.
Nia tidak terima, tetapi terlalu takut menyuarakannya.
γ
Aku harus bujuk Mas, Lita dan Riana gak boleh di pecat.
Tekad Nia sudah bulat.
γ
Kemudian, Nia memilih diam. Dia harus mengumpulkan energi positifnya untuk membujuk sang pujaan hati. Meskipun tidak mengerti dimana letak salahnya Lita dan Riana di mata Aisakha, tetapi Nia merasa kedua gadis lugu itu tidak melakukan kesalahan apa-apa.
γ
"Sisir !" Suara Aisakha yang masih terdengar dingin.
γ
Ihhhhhhh, ini kenapa sih ?
Nia mulai jengah dengan sikap Aisakha.
γ
"Baiklah..sudah ". Aisakha menatap wajah cantik Nia yang terpancar di depan cermin.
γ
"Cantik ". Puji Aisakha entah pada diri Nia atau pada hasil pekerjaannya sendiri yang telah berhasil menata rambut panjang Nia tergerai sempurna.
γ
"Terima kasih sayang ". Nia memberi senyum secercah mentari pagi kepada Aisakha.
γ
__ADS_1
"Aku tinggal sebentar ya, aku mau mengurus kedua orang tadi !" Aisakha mengecup pelan pucak kepala Nia sebelum berlalu meninggalkan Nia yang terpelangah dengan mata membulat besar.
γ
Se..serius ya mau pecat Lita dan Riana ?
γ
**************
γ
"Apa yang kamu lakukan di sini ?" Tanya Edo penuh ketidak percayaan saat menatap wajah Kemala yang memerah dan sedikit membesar, terbaring tidak berdaya di bawah selimutnya.
γ
"Menurutmu apa ?" Tanya Kemala sambil berusaha membuat suaranya terdengar lantang. Sejujurnya, Kemala masih takut kalau ingat bagaimana cara Edo memperlakukannya semalam.
γ
"Memang apa yang terjadi ?" Tanya Edo bingung sambil menatap wajah Kemala sekali lagi.
Pipi memerah, jelas bukan karena meronakan ? Karena ada bekas tangan di sana. Agak mengembung, seperti bekas tamparan. Dan itu, bahunya. Kenapa ada bekas gigitan ? Apa artinya ini ? Semalam aku dan dia ngapain ?
γ
"Jawab aku !" Suara Edo sedikit meninggi, membuat Kemala spontan melindungi wajahnya.
γ
Sepersekian detik berlalu, Kemala merasa tidak ada pergerakan di wajahnya. Perlahan Kemala menyingkirkan tangannya dan mencoba menatap Edo.
γ
"Kamu takut padaku ?" Tanya Edo heran mendapati sikap Kemala barusan.
γ
γ
Edo mengelengkan kepalanya, otaknya masih buntu. Sepertinya efek minuman keras semalam masih membuat dirinya tidak juga berpikir logis.
γ
"Bantu aku mengingatnya !" Merasa sia-sia berusaha mengingat semua, Edo akhirnya memilih menatap Kemala.
γ
"Jadi, setelah semuanya. Kamu bisa lupa begitu saja ?" Tanya Kemala tidak percaya.
γ
"Aku memang tidak bisa mengingat kejadian semalam. Jadi ceritakan padaku, apa yang terjadi di antara kita !" Edo menghela nafas kesal.
γ
Entah mendapat kekuatan dari mana, atau mungkin perasaan harga diri yang telah terluka, Kemala mencoba duduk sebisa dirinya dan mulai bersuara marah dan putus asa.
γ
"Lihat ini ! Lihat !" Kemala menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. "Ini hasil perbuatanmu padaku ".
γ
Edo terdiam, isi kepalanya ingin menentang keras. Merah, lebam, cap gigi dan...
Noda merah apa itu di seprai ?
__ADS_1
Edo semakin tidak percaya.
γ
"Sudah lihat ?" Tanya Kemala mendapati Edo membuang muka. "Kau menyiksaku semalaman. Bahkan di saat aku nyaris pingsanpun, kau tetap menyiksaku ".
γ
Edo membenamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya, perlahan memori semalam muncul bagai slide pelan di dalam benaknya. Dirinya marah meninggalkan sang Papa yang terlihat sangat bersedih, datang kekantor dengan sebotol minuman memabukkan terbaik, berkurung diri di dalam ruang kerjanya, mengendap menyusuri lorong kantor di malam hari, mengendarai mobil dengan sisi kesadarannya, masuk kekamar tidurnya dan....
γ
Dan aku mendapati wanita sial itu terduduk di ranjangku, aku...aku marah karena dia pergi dan datang begitu saja dalam hidupku. Lalu aku menghukumnya, aku membuat dia menjerit dan memohon ampun untuk semua perbuatannya padaku. Iya, iya...seperti itu !"
γ
"Kau menyiksaku Do ". Suara putus asa Kemalan kembali membuat Edo tersadar, ternyata benar. Semalam bukanlah Nia yang ada di tempat tidurnya. Semalam bukanlah Nia yang telah di hukumnya.
Ternyata semalaman dirinya malam menyiksa Kemala yang tidak tahu apa-apa.
γ
"Maaf, aku mabuk ". Suara sesal Edo sepenuh jiwa.
γ
"Aku tidak pernah bermaksud kasar padamu, sungguh. Menyentuhmu saja tidak pernah terpikir olehku, apa lagi sampai menyiksamu ".
γ
"Siapa wanita itu Do ?" Tanya Kemala.
γ
"Dia bukan siapa-siapa dan dia bukan urusanmu !" Edo terlihat tidak senang.
γ
"Bukan urusanku ? Cih...sialan kau Do. Kau melampiaskan amarahmu padaku, dan kau bilang bukan urusanku ". Sekarang Kemala mulai hilang kendali.
γ
"Salahmu sendiri. Siapa suruh ada di kamarku ". Teriak Edo tidak terima.
γ
"Aku isterimu tuan Yuedo Gilang Winata. Sekedar mengingatkan kamu saja, semalam kau telah telah menikahiku ". Suara marah Kemala di sertai tetes pertama air matanya. Habis sudah semua pertahan diri Kemala, harga diri dan rasa cintanya sudah tertelan sempurna dengan cara perlakuan Edo padanya.
γ
"Arrrgggghhhhhhh ". Teriak Edo sambil berjalan menuju jendela yang ada di depannya.
γ
"Kau ingin ke kamar mandikan ? Aku akan membantumu !" Setelah terdiam cukup lama di depan jendela, Edo membalikkan badan dan menatap iba pada Kemala.
γ
"Setalah ini jangan pernah keluar kamar ini sampai kondisimu baik lagi ! Aku akan perintahkan pelayan membawa semua kebutuhanmu ke sini ! Kamu tidak boleh berinteraksi sama siapapun, bahkan sama keluargamu ! Peristiwa ini hanya kamu dan aku yang tahu dan setelah ini aku tidak akan tidur di kamar ini lagi !" Kemala hanya bisa membiarkan air matanya jatuh saat Edo begitu gampangnya memberi dirinya begitu banyak perintah yang hanya membuat dirinya semakin merasa sakit.
γ
"Kau kejam Do ". Renggek Kemala tidak terima.
γ
"Hey...ayolah. Akukan sudah bilang aku tidak pernah berniat melakukan semuanya padamu. Kau sendiri tahu, semua itu terjadi karena aku mabuk ". Tangan kanan Edo terangkat ke udara. "Maafkan saja aku, anggap aku hilaf ! Kita lupakan semua ini ! Sudah, simpelkan ?" Edo begitu yakin dengan semua ucapannya dan membiarkan Kemala mengeleng begitu terluka.
__ADS_1
γ
γ