
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Berapa lama lagi ?" Tanya sang nyonya besar pada pelayan wanita Kemala.
 
"Satu jam paling lama nyonya. Apa lagi ini sudah agak malam, pasti tidak akan macet ". Jawab si pelayan dengan hormat.
 
"Siapa ? Mama menunggu siapa ?" Kemala terlihat heran.
 
"Nanti kamu juga tahu ". Mama hanya tersenyum. "Sekarang istirahatlah, Mama mau dulu keluar ya ". Mama sekali lagi menyentuh pungung tangan Kemala. "Apa pun yang kamu mau, jangan ragu untuk bilang ya nak ! Bibi pasti akan memenuhi, apapun itu !" Sang nyonya memandang ke arah pelayan wanita Kemala.
 
Aneh, itu isi kepala Kemala melihat sikap sang Mama.
"Baik Ma ". Kemala mencoba tersenyum.
 
"Siapa yang di tunggu Mama ?" Tanya Kemala penuh selidik pada pelayannya.
 
"Seorang teman nyonya, nona ". Jawab Pelayan jujur. Dokter yang di minta sang nyonya datang memang benar adalah teman dari nyonya rumah besar ini.
 
"Dan kenapa kamu ceritkan pada Mama kalau saya sedang sakit ?" Kemala terlihat tidak senang.
 
"Maafkan saya, nona. Tetapi saya hanya menjawab pertanyaan nyonya. Saya tidak cerita apapun ". Jawab pelayan jujur.
 
"Bohong ". Kemala tidak percaya.
 
"Nona, saat saya membuatkan susu permintaan nona. Saat itu nyonya bertanya kenapa nona meminum susu itu. Dan setelah itu nyonya sangat yakin, kalau nona sedang tidak seperti biasanya ". Si pelayan menjelaskan.
 
"Lagi pula nona sudah dengarkan penjelasan nyonya, seorang Ibu bisa lebih mengenali anaknya di bandingkan siapapun ". Si pelayan merasa kalau Kemala masih tidak percaya padanya.
 
"Tunggulah sampai nona menjadi Ibu, nona pasti mengerti ". Senyum menenangkan di berikan pelayan kepada Kemala.
 
"Berhenti bilang aku menjadi Ibu ", alih-alih senang dengan senyum di bibir pelayan. Kemala malah menjadi kesal. "Kamu tidak tahu apa-apa ".
__ADS_1
 
"Saya tahu nona, nona akan jadi seorang ibu yang baik ". Si pelayan menatap serius pada Kemala.
 
"Cukup !" Kemala berjalan menjauh dari sang pelayan. Mengambil remot televisi dan menghidupkannya.
 
Yang, kemarin ku melihatmu
Kau bertemu dengannya
Kurasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia
 
Apa kurangnya aku di dalam hidupmu?
Hingga kau curangi aku
 
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia
 
Apa kurangnya aku di dalam hidupmu?
Hingga kau curangi aku
 
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia
 
Oh-oh-uh
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia
 
__ADS_1
Oh-oh-uh
Asalkan kau bahagia.
 
ASAL KAU BAHAGIA, lagu ARMADA.
 
Kemala terduduk, entah kenapa harus lagu dengan lirik sedalam itu yang tampil di televisi saat hatinya benar-benar sedang gundah.
 
Apakah aku bisa merelakanmu dengannya ?
Kemala sedang membatin.
 
"Tapi aku mencintaimu, aku mencintaimu ". Dengan wajah tertutup tangan Kemala berguman.
 
"Aku berharap akulah orang yang akan membuatmu bahagia, bukan dia. Tapi aku, aku isterimu ", ada gerakan mengelengkan kepala.
 
"Apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak pernah berpikir akan melepaskanmu untuk bersama dia ". Guman Kemala masih pada diri sendiri. Hatinya hancur, dia ingin berbahagia. Dan harapan terdalamnya adalah bahagia bersama sang suami. Tetapi kenyataan sampai detik ini Edo tidak pernah mencarinya, meninggalkannya dan pergi mengejar cinta masa lalu. Kemala merasa sangat sakit.
 
Perutnya mendadak tidak menentu, dengan sebisa dirinya Kemala langsung menuju kamar mandi. Menurunkan kepalanya di wastafel dan kembali muntah, seperti biasa. Hingga nanti semua isi perutnya habis dan tubuhnya menjadi lemas. Selalu saja seperti ini di saat perasaannya sedang tidak baik, seakan apa yang ada di dalam perutnya juga bisa merasakan isi hatinya.
 
Cukup lama Kemala di kamar mandinya, hingga pelayan wanita yang sangat setia itu datang dan membantu Kemala kembali ke atas ranjangnya.
 
"Nona baik-baik saja ?" Si pelayan sangat khawatir. Wajah Kemala lebih pucat dari sebelum-sebelumnya.
 
Kemala hanya diam.
 
"Katakan pada saya, nona mau apa ? Saya pasti bawakan ". Si pelayan membelai rambut Kemala yang belakangan ini terlihat tidak tertata baik.
 
Saya mau suami saya, saya mau Edo. Bisakah ? Bisakah kamu membawanya pada saya ?"
Kemala menatap mata si pelayan, air matanya jatuh. Dia menangis dalam pelukan sang pelayan yang sangat iba dengan penderitaam Kemala.
 
 
 
__ADS_1