SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
73


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia sangat cantik, dress biru muda panjang hingga ke bawah lututnya di sandingkan dengan cardigan berwarna pink muda yang senada dengan jepit bunga mawar yang tersemat di sudut kiri rambut panjangnya. Seperti biasa, Nia sukses membuat Aisakha berdecak kagum hingga bertanya, bagaimana bisa seorang bidadari masuk ke dalam hidupnya dan bersemayam menjadi pemilik hatinya.


γ€€


Dengan sendal santai berwarna biru muda yang mecing dengan dress indahnya, Nia berjalan bergandengan tangan bersama Aisakha dalam balutan baju sewarna menuju lokasi taman garden, tempat lokasi janjian mereka bersama 4 orang sahabat Nia, Toni, Angga, Dafi dan Ardi.


γ€€


Wajah senang tidak hilang-hilang menghiasi tampilan Nia sejak sang calon suami mengatakan akan memberi izin pada Nia untuk kumpul bersama para sahabatnya itu, tetapi tetap saja dengan syarat Aisakha yang harus pergi bersama Nia. Tidak ada izin pergi sendiri, Aisakha tidak akan membiarkan Nia bisa bebas bersama mereka begitu saja, bersama 4 orang lelaki yang dia sendiri tahu, mereka jelas adalah sahabat-sahabat Nia. Tetapi, jiwa cemburunya tentu akan melarang keras itu semua terjadi.


γ€€


"Udah senyum-senyumnya !" Aisakha mencolek hidung mancung Nia saat mobil sedan mewahnya sudah hampir sampai di taman garden.


γ€€


"Habis aku tuh seneng banget sayang. Aku bisa ketemu sahabat-sahabat aku di masa lalu dan itu bersama kamu. Kamu bisa kenal sama mereka dan kumpul bareng mereka. Senengnya...", Nia bersandar di lengan Aisakha.


γ€€


"Kalau senang aku dapat hadiah dong ?" Tanya Aisakha sambil mencium sekilas puncak kepala Nia.


γ€€


"Boleh, mau apa sayang ?" Kepala Nia mengangguk-angguk bersemangat.


γ€€


"Aku mau kamu jangan pernah memandang lelaki manapun terlalu lama ! Hanya boleh pandang aku saja, selalu aku dan hanya aku ! Dan itu berlaku mulai dari sekarang !" Wajah Aisakha berubau serius


γ€€


Wehh..kok mulai aneh-aneh ya ? Kok rasanya ada kilatan aneh deh di mata Mas, waduh....kalau kayak gini semua lelaki bakalan takut dong nyapa aku kedepannya. Astaga Mas....


Pikiran Nia sekarang mulai merasa ada yang janggal.


γ€€


"Iya sayang..", jawab Nia sambil memberikan senyuman terbaiknya untuk Aisakha. Meskipun hatinya galau dengan permintaan Aisakha barusan padanya. Tetapi Nia tetap berusaha tenang, mengiyakan semua demi membuat permintaan sang kekasih tidak semakin aneh-aneh saja.


γ€€


"Gadis pintar ". Puji Aisakha dan dirinya pun terlihat sangat senang.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Edo bertahan begitu lama di ruang kerjanya. Semenjak dia datang dan berhasil membuat seisi kantornya menjadi tercengang. Jelas Edo baru saja selesai mengucap janji suci untuk pernikahannya dan bisa terlihat dari stelan taksedo mahal yang di kenakannya, tetapi kenapa malah datang kekantor ?


γ€€


Lebih mengherankan lagi, Edo datang dengan mengenggam sebuah botol minuman keras, Edo mengurung diri berjam-jam lamannya di ruang kerja sendirian.

__ADS_1


γ€€


Dan saat hari sudah mulai malam, Edo berjalan sendiri menyusuri lorong gelap kantornya hingga sampai di parkiran. Edo mabuk, tampang kacau dan hati kesal.


γ€€


Dengan sisa kesadaranny, Edo berusaha menjalankan laju kendaraannya dengan pelan menuju rumah. Tempat terakhir yang sejujurnya sangat berat untuk dirinya datangi.


γ€€


Dan hebatnya, Edo bisa sampai di rumah keluarga besarnya dalam keadaan selamat. Sepertinya sisa-sisa sisi kesadarannya masih berguna untuk mengantarkannya pulang.


γ€€


Dengan berjalan terseok-seok, Edo menyusuri anak tangga satu demi satu menuju ke atas, ke kamar tidurnya.


γ€€


Satu teguk terakhir cairan pekat yang berasal dari botol minuman keras di tangan kanannya terlihat sedang di nikmati Edo, dan Edo pun membuka pintu kamar tidurnya setelah itu.


γ€€


Cahaya temaran dari lampu tidur menyambut mata Edo yang mulai kacau. Sepertinya sisi sadar Edo sudah di kerahkannya semua saat mengendarai mobil untuk pulang tadi, hingga entah bagaimana caranya, saat ini Edo bisa menemukan sosok wanita yang dibencinya sepenuh jiwa selama 3 tahun ini sedang terduduk di atas ranjang empuknya. Wanita yang susah payah di carinya, malah terlihat duduk tenang di atas ranjang miliknya.


γ€€


"Kamu sudah pulang ?" Edo mendengar suara yang selama ini telah hilang terlalu lama dari dalam hidupnya.


γ€€


"Kau..kau wanita sial, bagaimana kau bisa masuk ke kamarku, ha ?" Sempoyongan Edo berjalan ke arah ranjangnya.


γ€€


γ€€


"Sayang kau bilang, kau wanita bejat. Kau jahat, kau kejam ". Murka Edo sambil mencekik kuat leher si wanita.


γ€€


"Sa, sakit ". Suara si wanita pelan tidak berdaya.


γ€€


"SakitΒ  kau bilang ? Lantas bagaimana dengan aku ? Kau pergi begitu saja, membuang aku yang sedang tidak berdaya ". Teriak Edo tepat di depan wajah sang wanita yang terlihat sudah hampir kehabisan nafas.


γ€€


"Aku akan menyiksamu wanita murahan !" Edo melepaskan tangannya yang tadi sempat dipakainya untuk mencekik wanita itu.


γ€€


Cepat wanita itu menarik nafas panjang sambil memegang lehernya yang terasa sangat sakit. Tanpa di sadari air mata menetes di wajah yang tadi sempat memucat.


γ€€


"Kemarin kau !" Edo menjambak kasar rambut wanita ini, memaksanya berdiri.


γ€€


Dan....PLAAAKKKKK.

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di pipi wanita itu.


γ€€


"Sakittttttt...sudahhhh... ", jerit wanita itu sambil memegangi pipinya.


γ€€


"Sakit ?" Tanya Edo dengan wajah mencemeehnya. "Aku akan memberitahumu apa itu rasa sakit yang sebenarnya ?" Suara Edo terdengar mulai serak.


γ€€


Sambil menahan sakit di pipi bekas tamparan dan di kulit kepala bekas jambakan Edo, si wanita ini kembali di buat menjerit oleh Edo. Dengan kasarnya Edo mendorongnya ke atas ranjang, menghempaskan tubuhnya begitu saja.


γ€€


Perlahan dengan sisa tenanga, wanita ini bergerak mundur. Sadarlah dirinya dia harus segara menyingkir, Edo mabuk dan dia terlihat mulai mengila.


γ€€


"Ja, jangan...", suara si wanita mulai ketakutan.


γ€€


"Sadarlah Do !" Suara memohon yang terdengar sangat ketakutan.


γ€€


"Kau harus merasakan sakit yang kau torehkan dalam hatiku wanita murahan ". Ucap Edo sambil menarik paksa kaki si wanita hingga membuat si wanita sekarang sudah berada di bawah kungkungan Edo.


γ€€


"Edo sadarlah, kau sudah gila. Kau menyakitiku ". Suara panik sedang berusaha membujuk.


γ€€


"Tidak usah sok suci kau wanita sial, bukankah ini yang kamu lakukan di luar sana ? Sekarang lihatlah bagaimana cara aku membalasmu !" Edo merobek paksa semua pakaian yang melekat di tubuh wanita itu, satu persatu hingga ke bagian terdalam yang melekat di tubuh ketakutan itu. Dan Edo membuang begitu saja ke sembarang tempat robekan pakaian hasil kemarahannya.


γ€€


"Jangan...aku mohon ". Tetas air mata menyertai suara tidak berdaya yang sedang bermohon itu.


γ€€


"Aku akan membalasmu wanita brengsek ". Ucap Edo sambil mengigit bahu si wanita.


γ€€


Suara tangis kesakitan meledak, Edo terlihat sangat bahagia mendengar bahwa wanita itu begitu menderitanya sekarang. Seringai jahat memenuhi wajahnya, Edo benar-benar menghancurkan hidup si wanita dengan cara terhina yang bisa di pikirkan manusia.


γ€€


Sayang, malam ini masih sangat panjang. Meskipun wanita itu sudah tidak berdaya, lemah dan tersiksa, Edo tetap memaksanya memuaskan nafsu birahi dirinya untuk terus melayaninya di atas ranjang. Bahkan di saat wanita itu nyaris pingsan pun, Edo dengan santainya akan menampar wajah yang sudah mulai lebam itu agar tetap tersadar.


γ€€


Entah apa nama kekejaman yang paling tepat dirangkai untuk menyebutkan perbuatan Edo di dalam kamarnya itu, yang jelas Edo sangat ingin menghukum wanita yang telah mencampakkannya begitu saja 3 tahun yang lalu, membuangnya saat dirinya berada di titik terendah hidupnya. Sebuah hukuman yang membuat dirinya sangat bahagia.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2