
πππππ
γ
"Pak, saya Satriyo ". Entah sudah berapa kali Satriyo menyemangati dirinya sendiri agar berani menelepon Kristo untuk menyampaikan berita tentang hilangnya Nia. Awalnya Sartiyo berencana menelepon langsung sang majikan, tuan Aisakha, tapi entah bagaimana nyalinya terlalu lemah. Bayangan hal-hal buruk tentang nasib buruk yang akan menemuinya tidak mau henyah dari pikirannya. Satriyo terlalu takut kalau sang tuan benar-benar mengamuk padanya. Tamat sudah riwayatnya, nyawanya yang hanya semata wayang itu akan segera berakhir.
γ
"Ya, saya tahu itu kamu. Ada apa ?" Kristo sedang sibuk di meja kerjanya.
γ
"Sesuatu sudah terjadi tuan ". Satriyo berusaha mengatur intonasi suaranya agar terdengar tenang. Mengagetkan sosok lelaki yang sedang di teleponnya pasti bukan hal bagus. Jadi sebisa mungkin Satriyo berusaha membuat sesi laporannya ini berjalan baik.
γ
"Apa ? Nona kenapa ?" Bisa di tebak kalau Satriyo gagal menyampaikan tujuannya dengan sebaik mungkin, Kristo terdengar cukup kalut di ujung telepon, Kristo bisa menebak kalau sesuatu yang telah terjadi di maksud oleh Satriyo pasti tentang Nia, calon nyonya mereka.
γ
"Nona, nona hilang tuan ". Jantung Satriyo berdebar kuat, nafasnya berhenti sesaat. Mendadak Satriyo lupa cara bernafas saking takutnya.
γ
"Kalian sudah mau mati ya ? Bagaimana bisa nona hilang ?" Sekarang Kristo sudah berteriak di ujung telepon. Satriyo semakin panik.
γ
"Persisnya Damar yang tahu Pak. Tapi secara singkatnya hilangnya nona berhubungan dengan rekan seprofesi nona, Bowo namanya Pak. Dari rekaman cctv terlihat Bowo sudah menyiapkan semua rencananya membawa nona, hingga rekaman terakhir membuktikan nona ada di dalam mobilnya ". Jelas Satriyo pada Kristo.
γ
"Sudah berapa lama kejadiannya ?" Tanpa menutup pintu ruang kerjanya, Kristo berjalan cepat menuju ruang kerja sang tuan dengan tangan kanan masih memegang kuat handphonenya sambil mendekatkan ke arah telinga.
γ
"Astaga, 2 jam ? Sudah 2 jam lamanya dan kalian baru menyampaikan sekarang ?" Kristo berhenti berjalan, tangannya terkepal kuat. Rasanya dia sangat ingin memukul sesuatu. *Bodohnya mereka. Kenapa baru bilang ? Sudah bosan hidup mereka semua.
γ
__ADS_1
"Kalian sungguh bodoh, bagaimana mungkin 2 orang pengawal kepercayaan tuan bisa melakukan kesalahan sebesar ini, sudah selama 2Β jam lamanya ? Kalian tahukan apa konseskuensinya atas kesalahan kalian, kalian tahukan nona itu siapa ? Atau memang kalian berdua sudah bosan hidup, ha ?" Kristo tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya amarah sang tuan saat tahu peristiwa mengerikan ini.
γ
"Maafkan kami Pak ". Hanya kata penyesalan yang mampu di ucapkan Satriyo saat ini.
γ
"Saya tidak bisa membantu kalian kali ini. Selamatkanlah hidup kalian masing-masing dari amukan tuan ". Kristo sudah melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerja sang tuan.
γ
"Sudah melacak keberadaan hape nona ?" Tepat sebelum membuka pintu ruang kerja Aisakha, Kristo menanyakan satu pesan penting pada Satriyo.
γ
"Itu, ee....anu tuan. Hape nona....", Satriyo mengaruk kepalanya, dia ragu.
γ
"Apa....? Gomong yang jelas. Saya mau laporan ini !" Kristo menunda masuk ke ruang kerja sang tuan.
γ
γ
"Gila kalian ". Kristo berteriak keras. Saking kerasnya, tanpa di sadari membuat sang tuan yang sedang tekun membaca berkas penting, sampai meletakkan tumpukan besar kertas yang di pegangnya erat. Sedikit penasaran menghinggapi benaknya.
γ
"Jangan matikan teleponmu, saya sedang di ruang tuan ". Perintah Kristo pada Satriyo. "Berdoalah !" Ucap Kristo sungguh-sungguh.
γ
***************
γ
"Kamu masih mau berapa lama bertahan di sini ?" Bowo berjongkok di pintu mobil tempat Nia masih duduk diam mematung di dalam mobilnya.
__ADS_1
γ
Nia hanya diam, masih terus berpikir keras dengan wajah yang masih memucat.
γ
"Aku akan terus menunggu sampai kamu bersedia ". Bowo tersenyum sambil memegang tangan Nia. Tangan yang terasa dingin dan seperti mulai tidak berdarah itu.
γ
Mas...tolong aku, hanya kamu sayang yang bisa menyelamatkanku.
"Berjanjilah, tidak ada hal yang aneh-aneh !" Nia menjauhkan tangan Bowo yang masih berusaha mengengam jemarinya.
γ
"Aku janji..aku hanya akan memperlihatkan rahasiaku padamu ". Bowo meletakkan tangannya di pangkuan Nia. "Setelah selesai, kita kembali ke kantor. Percayalah ".
γ
"Tolong jauhkan tanganmu !" Nia tidak suka dengan gerak-gerik Bowo.
γ
Bowo diam, tetapi dirinya cukup patuh menuruti kemauan Nia. Segera Bowo memindahkan tangannya yang tadi terletak di atas pangkuan Nia ke sisi pintu mobil.
γ
Nia menarik nafas dalam, beberapa kali sambil terus berdoa di dalam hatinya. Dia sudah memutuskan, tidak mungkin hanya berdiam diri bertahan di dalam mobil, jelas Bowo terlihat sangat bersabar menunggu hingga dirinya mau patuh menuruti kemauan Bowo. Memilih melarikan diri juga bukan keputusan bagus, Nia tidak mengenal di mana lokasi dirinya berada sekarang. Bisa jadi kalau dia nekat melarikan diri hanya akan membuat dia berakhir konyol di Rumah Sakit khusus tersebut. Pilihan yang harus di ambil Nia sama beratnya, sama-sama membuat dirinya terpojok menangung semua.
γ
Sudahlah..jika memang harus begini apa mau di kata. Semua salahku sendiri, begitu mudahnya merasa iba dan tersentuh dengan wajah memelas Bowo. Nasi sudah menjadi bubur, aku harus lalui semua ini dan aku harus segera kembali.Β Β Nia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Sayang...aku sungguh tidak punya pilihan lain. Cepatlah datang..selamatkan aku.
γ
"Baiklah ". Nia memejamkan mata sesaat dan menghembuskan nafas dalam. "Ayo ".
__ADS_1
γ
γ