
Perkembangan
πππππ
γ
Wulan, Resya dan Anita masih bertahan duduk di sekitar Nia, mereka masih setia untuk mengajukan berbagai jenis pertanyaan pada sahabat mereka yang sangat di nanti kedatangannya itu. Maklumlah, semenjak Bibi Ros, Bibinya Nia mendapat musibah tabrakan nyaris 2 minggu yang lalu. Maka selama itu pula Nia tidak pernah menampakkan diri di kantor, Nia fokus pada kesembuhan sang Bibi. Bisa jadi para wanita-wanita ini sudah sangat merindukan sosok Nia sebagai sahabat terbaik mereka hingga beginilah akhirnya. Mereka sibuk mengerubungi Nia untuk sekedar mengajukan berbagai pertanyaan atau malah memberi beberapa informasi baru pada Nia.
γ
"Ngapain berdiri di situ? Ayo cari kursi, gabung sama kami sini !" Wulan melihat Bowo hanya berdiri di dekat mereka, memandangi para sahabat-sahabat wanita itu saling canda dan saling melepas kerinduan bersama Nia.
γ
"Iya, gabung sini ". Nia melambaikan tangannya meminta Bowo mendekat ke arahnya. Bowopun datang, membawa sebuah kursi dan duduk bersama, bergabung bersama rekan-rekan sekerjanya ikut bercerita ke sana kemari sambil tertawa lepas.
γ
"Jadi, gimana kabar Bibi Ros sekarang?" Bowo bertanya kepada Nia.
γ
"Bibi sudah lebih baik. Kata dokter sepertinya Bibi memiliki semangat sembuh yang luar biasa, banyak keajaiban yang terjadi dan dokterpun terheran-heran dengan perkembangan Bibi". Nia bercerita dengan semangat, jelas ada pancaran syukur di setiap kata-katanya.
γ
"Wah ini kabar bagus dong, jadi kamu bisa tenang sekarang". Wulan tersenyum melihat Nia tersenyum dan mengangguk senang.
γ
"Lantas bagaimana perkembangan laboratorium beberapa hari ini?" Sekarang Nia yang mengajukan pertanyaaan kepada sahabat-sahabatnya itu
γ
"Tenang". Anita mengangkat telunjuknya kedepan. "semua baik-baik saja, kamu gak perlu khawatir. Semua terkendali". Anita terlihat bersemangat.
γ
"Proyek terbaru kita?" Nia masih merasa belum puas dengan jawaban Anita.
γ
"Masih lanjut". Resya langsung menjawab. Padahal Anita sudah bersiap untuk kembali menjawab. "Hanya saja komposis pengujian masih gagal. Sepertinya pola hitung kami dan kamu beda, heheheh. Jadinya yaaaa, varietas baru beras merahnya belum sukses deh". Resya mengangkat kedua bahunya asal dengan bibir sedikit dimajukan.
γ
"Kalau itu memang benar". Bowo ikut bersuara. "Memang untuk kemampuan rumus hitung kamu tuh belum ada tandingannya". Bowo mengangkat jempolnya.
γ
Nia dan sahabat-sahabatnya itu tertawa bersama
γ
"Tentu saja enggak ada saingannya", suara Wulan menghentikan tawa semua orang. "Coba saja kalian ingat, hanya Nia yang mampu cuekin Profesor saking asyiknya menghitung di papan saktinya itu".
γ
"Ehh, ehhh..gak hanya itu. Apa kalian ingat ? Hanya seorang Nia juga yang berani mengacuhkan kedatangan Presdir Sunjaya Company dan lebih memilih bertahan dengan spidol serta penghapus papan tulisnya". Resya mengedipkan sebelah matanya pada Nia.
γ
"Hahahaha". Wulan, Resya, dan Anita terlihat geli sendiri membayangkan kejadian di masa itu, sedang Bowo. Dia hanya tersenyum sambil mengelengkan kepala.
γ
"Wah..kalian senang banget ya menertawakan aku". Nia berpura-pura marah. Tetapi sahabat-sahabatnya itu masih saja asyik menertawakan dirinya. "Hahahah".
γ
"Gomong-gomong Presdir". Resya mengerak-gerakkan tangannya agar semua orang berhenti tertawa. "Kamu sama Presdir gimana ceritanya bisa selengket itu? Kamu kapan resmi pacarannya sama keturunan dewa itu?" Wulan dan Anita mengangguk bersemangat mendengar kata-kata Resya barusan.
γ
"Kalian apaan sih". Nia tertunduk malu.Β Iiih, kok bahas itu sih. Akukan malu.
γ
"Eiit, jujur napa sama kita-kita. Kan kita sohib-sohib kamu". Anita menguncang lengan Nia.
γ
"Udah jam 8 lewatloh, nanti Profesor marah kalau kita belum masuk ke laboratorium". Nia mencoba mengalihkan perhatian para sahabat wanitannya yang sangat kepo itu.
γ
"Profesor mah santai saja, ini lebih penting Nia". Anita kembali menguncang lengan Nia.
γ
"Iya, iya". Wulan dan Resya setuju. "Bowo juga penasaran kok". Tunjuk Wulan kearah Bowo. Cepat Bowo mengerakkan tanganya sebagai wujud pernyataan tidak. Wulan kesal melihat Bowo yang tidak mau bekerja sama bersama mereka.
γ
"Aku...aku". Nia bingung harus menjawab apa.
γ
"Kamu pacarnya tuan Aisakhakan?" Resya menatap serius pada Nia.
γ
Nia menganggukan kepalanya pelan.
γ
"Cie..ciee..cieee..beruntungnya kita punya sohib calon isteri Presdir ternyata". Anita menepuk-nepuk pelan bahu Nia.
__ADS_1
γ
"Sebelum kerja di sini kamu pernah ketemu sama Presdir kita?" Resya masih belum menganti mode tatapan seriusnya pada Nia.
γ
Dan lagi, Nia menganggukkan kepalanya.
γ
"Jadi kamu kekasih yang pernah melupakan lelaki pujaanmu, iya? Hingga saat tuan Aisakh melihatmu di laboratorium waktu itu dia sadar kamu adalah wanita yang telah melupakan cinta kalian. Benarkan?" Resya bersikap seperti penarik kesimpulan sebuah ending cerita terbaik di dunia.
γ
"Tidak, tidak..kamu salah Sya". Nia menolak keras kesimpulan Resya.
γ
"Hah, salah? Serius?" Resya merasa tidak percaya.
γ
"Ceritanya panjang". Nia menatap satu persatu sahabatnya itu. "Sekarang sudah jam kerja. Aku enggak enak sama Profesor, udah beberapa hari nggak masuk. Sekali masuk malah asyik cerita, lupa ma kerjaan".
γ
"Okeh, nanti jam makan siang kamu sama kami ya. Kamu wajib cerita semuanya!" Anita mengajukan permintaan pada Nia.
γ
"Kalau itu aku kita lihat nanti ya. Aku belum bisa jawab sekarang". Tentu saja Nia harus izin dulu pada Aisakha, sebab pagi tadi sebelum Nia turun dari mobil Aisakha, jelas lelaki itu sudah mewanti-wanti kalau makan siang nanti Nia harus bersamanya.
γ
"Kenapa? Presdir melarang kamu main bareng kami ya?" Wulan sedikit kecewa.
γ
"Hehehe". Nia sibuk meremas baju kerjanya . "Bukan gituh Wulan, tadi itu aku sudah janji sama Presdir mau makan siang bareng dia". Sepertinya Nia sangat malu hanya untuk menceritan hal yang begitu sepel bagi banyak orang.
γ
"Kalian kencan, ha? Ngaku ?" Mata Resya bersinar bahagia. Nia tertunduk malu.
γ
"Bukan, bukan..ini bukan kencan. Kalian salah, ini hanya makan siang biasa kok". Nia menjawab dengan wajah menatap lantai.
γ
"Kencan juga enggak papah kok, bagus malah. Kami sangat mendukung". Anita mengedip senang pada Nia.
γ
"Nit, Nit, bentar deh. Tadi kamu tanya apaan sih pas mau masuk?" Wulan tiba-tiba ingat kalau Anita sempat mengajukan pertanyaan, tetapi belum lagi pertanyaan itu selesai, Anita malah bergegas kearah Nia dan memeluknya.
γ
γ
"Yang tinggi besar pake baju hitam-hitam?" Wulan malah balik bertanya
γ
"Hu-uh. Siapa sih? Belum pernah lihat deh. Lagian ngapain coba berdiri di sana?" Anita bingung.
γ
Tukan apa aku bilang, Mas gak percaya. Pasti keberadaan pengawal itu akan membuat semua orang heran, takutnya nanti malah mereka semua jadi enggak nyaman lagi main sama aku.
γ
"Itu, itu adalah pengawal aku". Suara pelan Nia di sambut kehebohan silih berganti.
γ
Kenapa sekarang Nia pake pengawal segala? Ah, kalau begini pasti akan sulit. Bowo.
γ
"Pengawal kamu? Kenapa ?" Wulan.
γ
"Jadi serem deh, kok di kawal segala sih kamu sekarang ?" Anita.
γ
"Trus kita apa masih bisa jalan bareng nih, nanti pengawal kamu marah trus ngusir kita deh ?" Resya.
γ
"Aduh, satu-satu dong tanyanya. Aku bingung mau jawab yang mana nih ?" Nia meminta Wulan, Resya dan Anita agar lebih santai.
γ
"Habis...aneh aja kamu sekarang Nia. Udah pake pengawal segala. Serem deh". Belum sempat Nia menjawab berondongan pertanyaan Wulan, Anita, dan Resya. Perhatian merekapun segera teralihkan seketika.
γ
"Di sini kalian ternyata". Serta merta semua mata yang sedang asyik mengoda Nia beralih ke sumber suara yang berasal dari pintu ruangan.
γ
"Profesor". Nia berdiri begitu tahu bahwa yang tengah berdiri di pintu masuk ruang kerja mereka adalah Profesor Yandi.
γ
__ADS_1
"Pantas saja mereka semua menghilang dari laboratorium. Saya baru dari sana dan mendapati labor kosong, ternyata kamu sudah masuk kerja lagi Nia?" Profesor berjalan mendekati Nia.
γ
"Iya Prof. Saya baru masuk hari ini. Maaf ya Prof, saya sudah izin cukup lama". Nia menunduk hormat sebagai wujud penyesalannya. "Tapi sekarang saya sudah siap untuk kembali bekerja Prof".
γ
"Santai saja Nia, kita semua ini satu tim. Jadi kami semua pasti dukung kamu, karena kita semua yakin kamu pasti akan melakukan hal yang sama pada kami andai kami ada di posisimu".
γ
"Terima kasih Prof". Nia mengulurkan tangannya kearah Profesor dan Profesor menerima uluran tangan Nia. Mereka pun saling berjabat tangan.
γ
"Ayo semuanya, karena formasi kita sudah lengkap lagi kita mulai bekerja sekarang". Profesor meminta semua stafnya agar segera masuk ke laboratorium dan memulai aktivitas harian mereka seperti biasanya.
γ
Nia, Wulan, Resya, Anita dan Bowo berjalan bersama mengikuti langkah kaki Profesor Yandi, meninggalkan ruangan mereka menuju gedung sebelah yaitu laboratorium tempat mereka bekerja, menemukan berbagai hal menarik dan menciptkan inovasi terbaru untuk kemajuan perusahaan.
γ
Hingga kemudian Bowo menyadari kalau handphonenya berbunyi. Berhubung dia akan segera masuk kelaboratorium., Bowo cepat menerima pangilan masuk di layar handphonenya.
γ
"Kalian lanjut duluan aja, aku terima telepon dulu". Bowo minta kepada semua rekan kerjanya itu untuk melanjutkan berjalan bersama Profesor. Sedang dirinya sendiri memilih kembali duduk dan menerima panggilan masuk pada layar mungil benda yang berada di tangannya.
γ
"Kenapa pagi sudah meneleponku?" Bowo bicara sambil memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya Bowo takut ada yang mencuri dengar pembicaraanya.
γ
"Apakah dia sudah kembali masuk kerja?" Satu pertanyaan di ajukan oleh si penelepon.
γ
"Sudah". Jawab Bowo singkat.
γ
"Kalau begitu kapan kamu bawa dia ke sini?"
γ
"Bersabarlah. Itu tidak segampang yang kamu pikir. Apa lagi sekarang ada pengawal yang mengikutinya". Bowo mendengus kesal.
γ
"Cobalah berusaha. Kamu enggak mau nyesalkan?" Si penelepon mulai mendesak Bowo.
γ
"Kamu pikir aku ngapain ha? Aku juga lagi usaha".
γ
"Waktu itu, hampir dua minggu yang lalu kamu kirim pesan kalau lagi menemaninya di Rumah Sakit karena Bibinya kecelakaan. Trus tiap aku tanya kamu bilang dia izin kerja. Sekarang dia sudah masuk kamu malah enggak tahu harus gimana?" Suara kesal terdengar jelas di ujung telepon.
γ
"Dia baru masuk pagi ini. Bagaimana mungkin aku langsung membawanya ? Kalaupun iya, caranya harus bagus supaya tidak ada yang curiga. Sabarlah, aku gak mau gegabah !"
γ
"Ini sudah sangat lama, aku enggak mau kita menyesal". Sekarang suara penelepon berubah sedih.
γ
"Percayalah, aku pasti membawanya. Kamu sabar ya". Dan itu adalah percakapan terakhir antara Bowo dan si penelepon tersebut sebelum akhirnya Bowo memutuskan sambungan teleponnya.
γ
γ
**********
γ
Hai...hallo kaka-kaka readers yang budiman.
Apa kabar kaka-kaka readers semuanya dimanapun berada?
Maaf ya, author kali ini sangat lama baru up episode terbarunya.
Harap di maklumi kaka. Hehehe.
γ
Tidak terasa kita semua sekarang telah berada di penghujung Ramadhan, meskipun Ramadhan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnnya. Tapi setidaknya Allah masih mengizinkan kita menghirup wangi pahala dari semua kebaikan yang kita tebar selama bulan suci ini. Semoga Allah memanjangkan umur kaka-kaka readers semua berserta umur author dan seluruh orang yang kita cintai dan sayangi hingga kita bisa bersua kembali pada Ramadhan berikutnya. Aamiin...
γ
Kaka-kaka readers yang budiman, sedikit informasi !
Kisah Nia dan Aisakha saat ini sudah mendekati akhir alias ending atau bahasa sononya tamat. Hehehe
Tinggal beberapa episode lagiloh kak, jadi diikuti terus ya kak jangan sampai ketinggalan. Okeh...
γ
Baiklah, selamat membaca kaka-kaka readers yang budiman. Sehat selalu ya kak....
Dan jangan lupa berbahagiaπ
__ADS_1
γ
γ