
Rasa Khawatir
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Ha-hallo". Nia mulai bersuara setelah menerima handphone Profesor Yandi di tangannya.
 
"Yaaaaa Tuhan Nia, apa kamu baik-baik saja?" Terdengar suara penuh cemas Aisakha di ujung telepon.
 
"I-iya, aku baik-baik saja. Maaf aku sudah membuat cemas". Nia merasa bersalah saat mendengar suara cemas Aisakha.
 
"Sukurlah sayang, sukurlah", ada nada lega dalam suara Aisakha yang terdengar oleh Nia sekarang. "Aku sangat kawatir tadi, untung Profesor segera menemukan kamu. Kalau tidak satu pleton polisi akan segera sampai untuk mencarimu".
 
"Ke-kenapa? Kenapa memangnya?" Nia tidak percaya dengan apa yang diutarakan Aisakha padanya.
 
Ternyata benar kata Profesor tadi. Ahhh, untung saja tidak terjadi. Kalau tidak, mau di taruh dimana mukaku ini, itu pasti sangat memalukan.
__ADS_1
 
"Kenapa? Ya Tuhan sayang. Baru hitungan jam aku menemukanmu setelah pencarian tiga tahun lamanya dan kemudian baru hitungan jam juga aku meninggalkanmu, tau-tau kamu sudah tidak bisa aku hubungi. Aku tidak bisa mencari tau kamu sedang apa, lagi dimana? Aku kawatir sayang, terbayang kalau aku akan kehilangan kamu lagi. Aku tidak mau, cukup tiga tahun lebih. Cukup Nia, jangan ada lagi". Jelas Aisakha pada Nia.
 
"Maafkan aku, aku sudah membuat kamu kawatir. Aku tidak bermaksud demikian, aku, aku tadi sedang bekerja di laboratorium. Hape tidak boleh di bawa ke dalam, jadi aku tinggalkan di ruangan dan aku matikan. Jangan cemas lagi, percayalah aku baik-baik saja. Dan aku masih menunggumu kembali, kamu janji hanya tiga hari. Kamu ingatkan?" Tanya Nia di akhir penjelasannya.
 
"Aku cinta padamu, secepat mungkin akan ku selesaikan urusanku di sini. Setelah itu aku akan kembali padamu dan di saat itu. Cobalah untuk membuka hatimu padaku, cobalah untuk percaya pada ketulusan hatiku". Ujar Aisakha berusaha menyakinkan Nia.
 
"Baik-baiklah di sana, kalau sulit meneleponku di saat jam kerja, cobalah untuk tidak mencemaskanku, karena saat itu aku pasti ada di laboratorium". Ujar Nia.
 
 
"Baiklah, daaaa". Jawab Nia cepat.
 
"Apakah kamu tidak ingin bilang sayang?" Goda Aisakha.
 
"I-ini Profesor". Nia segera mengalihkan pembicaraan dan memberikan handphone Profesor kembali padanya. Seketika itu pula wajahnya menjadi merona.
__ADS_1
 
Benarkah semua ini? Rasanya sangat membahagiakan, kembalilah cepat. Aku menunggumu.
 
Nia sibuk mendiskusikan wujud perasaannya pada hati kecilnya saat ini. Ada rasa bahagia yang mulai terselip di relung jiwanya. Setelah sekian lama, ternyata di mulai kembali merasakan perasaan ini, atau mungkin saja wujud perasaan ini akan lebih besar dari apa yang pernah dirasakannya? Entahlah.
 
"Nia", suara Profesor membuat Nia menghentkan apa yang tengah di pikirkannya.
 
"Ya Prof'", jawab Nia cepat.
 
"Dia sangat tulus padamu, sampai saat ini saya mamang tidak pernah tau apa yang telah terjadi padamu di masa lalu. Tetapi Nia, tuan Aisakha bukan masa lalumu, dia adalah masa depanmu. Cobalah Nia, cobalah untuk mempercayainya". Profesor memberikan nasehat bijaksana pada Nia.
 
Nia tersenyum pada Profesor, dia menganggukan kepalanya. Profesor Yandi memang sangat bijaksana, rasanya sangat tenang mendengar nasehatnya tadi.
 
"Baik Prof, terima kasih banyak'. Ucap Nia dengan tulus kepada Profesor Yandi.
 
__ADS_1
Saya mendukungmu Nia, memang tuan Aisakha yang terbaik untukmu. Maaf, dulu aku pernah mencoba mendekatkanmu sama Bagas.