SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 151


__ADS_3

Kencan Pertama (2)


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


γ€€


Pakde dan isterinya, Bi Kartik telah berdiri di ujung tangga, menunggu Nia yang sedang menuruni anak tangga satu persatu. Bibi di buat terkesima, kehilangan kata-kata saat memandangi Nia dari atas sampe ke bawah. Rasanya bukan seperti Nia yang biasanya. Kali ini Nia tampil menawan, sangat cantik.


γ€€


"Cantik banget ya Pak ?" Bibi masih tidak bisa melepaskan pandanganmatanya dari Nia.


γ€€


"Iya ya Bu, Bapak sampe pangling loh. Si non ternyata sudah sangat dewasa, cantik. Begitu cepat waktu berlalu ya Bu. Sebentar lagi si non sudah mau menikah ". Pakde merangkul isterinya, terdengar ada getar sedih di dalam suaranya tadi.


γ€€


"Loh..Pakde sama Bibi kenapa ? Kok kelihatan sedih ? Jelak ya, dandanan aku aneh ya ?" Nia pun memandangi baju yang melekat di tubuhnya. "Ah, aku juga mikir gituh tadi. Pasti jelek, aku ganti aja deh ". Nia berencana berbalik, ingin menaiki tangga dan kembali ke kamarnya.


γ€€


"Non". Bibi menahan tangan Nia. "Si non cantik banget. Bibi sama Pakde pangling lihat non. Beneranloh, cantik banget.


γ€€


"Non sudah dewasa sekarang, sebentar lagi mau menikah. Pakde rasanya terharu non sekaligus senang, majikan kecil kami ternyata sudah dewasa ". Mata Pakde terlihat berkaca-kaca.


γ€€


"Pakde, Bibi ". Nia memegang tangan Pakde dan Bibi. "Terima kasih atas kasih sayangnya selama ini. Keberadaan Pakde dan Bibi di sisi aku, rasanya seperti aku memiliki orang tua lengkap ". Mata Nia siap menjatuhkan tetes bening pertama di sudut matanya.


γ€€


"Eitttt, gak boleh sedih ! Enggak boleh pake nangis, udah cantik kok nangis. Hari ini si non mau kencankan ? Jadi harus bersenang-senang, bukan bersedih ". Bibi tersenyum pada Nia.


γ€€


"Boleh aku minta sesuatu ?" Nia menatap penuh harap pada Bibi dan Pakde. "Pada Bibi dan Pakde ?"


γ€€


"Si non mau kami ngapain, bilang saja !" Pakde menjawab pertanyaan Nia.


γ€€


"Setelah aku menikah nanti, maukah Pakde dan Bibi tetap bersamaku. Maukah kalian ikut kemanapun aku pergi, maukah Pakde dan Bibi tidak akan berpisah dariku ?" Nia memandangi Bibi, kemudian berganti ke arah Pakde. "Maukah ?"


γ€€


Bibi tersenyum dan menarik Nia ke dalam pelukannya, tanpa disadarinya air mata telah menetes jatuh di pipi tuanya. Pakde mendekat, membelai kepala Nia yang tersandar di bahu isterinya.


γ€€


"Sudah-sudah, Ibu bisa merusak dandanan si non. Sebentar lagi tuan Aisakha datang loh ". Pakde berusaha menyudahi suasana yang mengharu biru itu.


γ€€


"Aaa, Ibu lupa Pak ". Bibi melepas Nia dan cepat-cepat menghapus Air mata yang sempat membasahi pipnya. "Aduh, Bibi jadi buat baju non gak rapi lagi ". Bibi berusaha memastikan tidak ada yang salah pada dandanan Nia karena adegan berpelukan mereka.


γ€€

__ADS_1


"Tenang Bi, aku tuh udah cantik dari sananya loh ". Nia mengedipkan sebelah matannya. " Jadi penampilanku enggak akan kenapa-napa, lihat ". Nia memutar badannya sambil memegang ujung bajunya.


γ€€


"Iya benar. Si non sangat cantik ". Bibi tertawa melihat ulah Nia. "Hahaha".


γ€€


"Nanti harus ber...", Bibi menghentikan suaranya, membatalkan niatnya menyudahi kalimat yang ingin disampaikan pada Nia karena mendengar bunyi bel dari arah luar pintu.


γ€€


"Biar Ibu yang buka Pak ". Pakde menganguk. Bibi terlihat bersemangat berjalan ke arah pintu.


γ€€


Nia melangkah sedikit menjauh dari tangga, meninggalkan Pakde yang sekarang berdiri di ujung tangga tempat tadi Nia berdiri.


γ€€


Nia menautkan kedua tangannya, rasanya hawa dingin mulai menjalar di ujung jemarinya. Sepertinya kegelisahan yang di rasakannya tadi mulai kembali menyerangnya. Nia sedikit ragu, perlahan tapi pasti hatinya mulai bimbang.Β Ba, bagaimana ini. Apa yang akan di katakan Mas saat melihat aku berdandan seperti ini. Jangan-jangan nanti dia berpikit aku terlalu norak, mau kencan saja sampai segini hebohnya. Mungkin lebih baik aku ganti baju dan hapus riasan makeupku saja ya ?


γ€€


"Si non sudah siap tuan, mari ". Nia bisa mendengar suara Bibi mempersilahkan Aisakha masuk. "Mari tuan, si nonΒ  menunggu tuan di dekat tangga ".


γ€€


Nia berbalik, berniat berjalan ke arah tangan. Tekadnya sudah bulat, dia akan segera kembali ke kamarnya. Menganti baju yang di pakainya sekarang dengan baju yang lebih sederhana serta menghapus semua riasan makenya. Menganti riasan tipis ala kadarnya seperti biasa.


γ€€


"Eiit ". Pakde mengembangkan kedua tangannya, berusaha menghambat Nia dan membuat Nia menghentikan langkahnya. Sepertinya Pakde tahu apa isi kepala Nia sekarang. "Tuan Aisakha itu di sana non, bukan di atas. Ngapain si non malah berbalik mau ke atas ?"


γ€€


γ€€


"Non !" Pakde meminta Nia berbalik menghadap Aisakha yang sekarang tepat berdiri di belakang Nia.


γ€€


Huffft, Nia menarik nafas panjang, dia tengah berusaha menenangkan dirinya. Terlihat beberapa kali Nia mengulang hal yang sama. Hingga akhirnya dirinya sudah bisa menguasai rasa cemasnya. Baiklah, aku sudah berusaha keras untuk malam ini. Jadi apa lagi yang harus aku cemaskan. Aku hanya ingin tampil cantik dan membuat dirinya bahagia. Jadi....mari dijalani, aku pasti bisa. Dan untuk terakhir kalinya Nia menghirup sebanyak mungkin oksigen, agar memenuhi setiap rongga paru-parunya. Dia harus tenang dan sepertinya cara ini cukup bermanfaat.


γ€€


"Mas". Nia membalik badan menatap Aisakha yang memberi senyum terbaiknya untuk Nia.


γ€€


"Astaga ". Aisakha terdiam memandangi Nia dari atas sampai ke bawah.


γ€€


Rambut panjang Nia di sanggul kecil dengan assesoris jepit berbentuk bunga mawar berwarna kuning. Makeup yang gelamor dengan lipstiks merah terpoles rapi di wajah cantik Nia, sangat cantik, sangat elegan. Apa lagi ada anting berbentuk permata aneka warna menjuntai jatuh di sisi kanan dan kiri telinga Nia sebagai pemanis leher jenjangnya. Bahkan alis mata lentiknya pun di beri pewarna hitam untuk mempertegas wujud mata indahnya. Kemudian, dress hijau botol terusan panjang hingga kemata kaki Nia dengan belahan di sisi kanan betisnya yang di padu padan sepatu tinggi berwarna senada membuat Aisakha kesulitan menelan air liurnya sendiri.Β Β Cantik sekali, sangat cantik. Apa iya aku akan sanggup menahan diri darimu sayang. Kamu begitu sempurna. Bagaimana ini, Bibi Ros masih lama ya sehatnya ? Ahhhh......


γ€€


Sudahku duga, pasti aku terlihat aneh dengan makeup dan baju ini. Mas saja sampai diam mematung begituh. Sudahlah, aku ganti baju saja.


γ€€


"Tunggu !" Aisakha berhasil membuat Nia yang sesaat sempat berkeinginan membalikkan badan membelakanginya hingga akhirnya kembali berdiri menatap padanya.

__ADS_1


γ€€


"Siapa kamu ?" Aisakha seperti tidak mengenali Nia.


γ€€


"Begitu jeleknya aku ". Nia tertunduk lesu.


γ€€


"Dimana kekasihku ? Bagaimana bisa kamu ada di sini ?" Nia menatap bingung pada Aisakha.


γ€€


"Kamu bidadari dari mana ? Tolong kembalikan kekasihku ! Aku ada kencan dengannya ". Dan sekarang Nia terlihat tersipu-sipu malu.


γ€€


Pakde dan Bibi terkekeh pelan melihat ulah Aisakha pada Nia.


γ€€


"Wahai bidadari, tolong kembalikan kekasihku. Kalau tidak kami bisa terlambat untuk kencan !" Ulah Aisakha ini membuat rona merah di pipi Nia semakin jelas.


γ€€


"Sudah, sudah. Hentikan Mas, jangan buat aku tambah malu !" Nia berjalan mendekat ke arah Aisakha.


γ€€


"Siapa ? Kamu memanggilku Mas ". Aisakha memasang wajah pura-pura terkejut. "Jangan-jangan kamu adalah kekasihku, benarkah ? Benarkah kamu adalah Syania ? Ya Tuhan, kebaikan apa yang telah aku lakukan dimasa lalu hingga akhirnya aku tahu siapa jati diri kekasihku yang sebenarnya. Syania, ternyata kamu adalah seorang bidadari ya ?"


γ€€


"Mas, sudah !" Nia memegang pipi kanannya yang terasa panas. "Hentikan kegombalannya !"


γ€€


Aisakha melepaskan tangan kanan yang di pakai Nia untuk memegang pipinya. Mengangkat tangan itu dan mendekatkan ke bibirnya. Mengecup pelan. "Kamu cantik sekali Nia, aku sampai terpesona. Rasanya jantung ini meminta keluar untuk ikut serta memandangi kamu ".


γ€€


"A-aku baru tahu kalau Mas ternyata adalah perayu ulung ya ". Nia di buat salah tingkah dengan gombalan Aisakha padanya.


γ€€


"Sejujurnya, aku juga gak tahu. Yang jelas semenjak kamu menerima cintaku, rasanya berbagai kemampuan dan bakat yang selama ini terpendam jadi keluar semua ". Nia terlihat semeringah mendengar penuturan Aisakha.


γ€€


Aisakha sudah meletakkan tangan Nia di lengannya. "Kita berangkat sekarang ?"


γ€€


"Iya, kita berangkat sekarang ".


γ€€


Akhirnya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta ini berangkat dengan senyum terbaik mereka menuju sebuah restoran terkenal di Kota Bengkulu, tempat acara kencan pertama mereka akan berlangsung.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2