
πππππ
γ
γ
Malam mulai meninggi, udara mulai terasa dingin. Acara pertemuan Nia yang di dampingi Aisakha bersama Toni, Angga, Dafi dan Ardi pun selesai. Seulas senyum mengakhiri reuni ala para sahabat itu, reuni setelah 3 tahun lamanya dan hariΒ ini semua merasa bahagia. Ya, meskipun reuni itu minus Edo, tetapi entah bagaimana itu tidak mempengaruhi suasana hati siapapun malam ini.
γ
Berapa kali baik Angga, Dafi dan Ardi mengucapkan kata maaf pada Nia, maaf setulus hati atas kisah masa lalu. Semua tahu, tidak hanya Toni. Angga, Dafi dan Ardi pun ada di Rumah Sakit saat itu, saat Nia di usir dan di hina begitu saja oleh Ibu dari ke kasihnya di masa itu. Dan sayangnya, sama seperti Toni
Β Ketiga sahabat Nia ini hanya bisa terdiam membiarkan semua berlangsung begitu saja, tidak berdaya untuk menolong Nia yang terpuruk karena di hina begitu rupa.
γ
Tapi yang hebatnya, semua bisa melihat bagaimana senyum ikhlas Nia untuk kisah duka di masa itu. Sekarang, Nia dengan tenang malah menenangkan para sahabatnya dan meminta mereka melupakan semua. Mengikhlaskan semua seperti dirinya. Yang telah terjadi biarlah berlalu, kini waktunya bagi Nia untuk masa depan. Dan Nia terlihat sangat yakin dengan masa depannya, dengan Aisakhanya.
γ
"Dimana tadi kado yang mereka berikan untuk saya, Kris ?" Hampir sampai di istana megah sang kekasih, Nia akhirnya teringat dengan kado selamat datang dari para sahabatnya.
γ
Wah..gimana ini ya ? Kok pake acara inget segala sih nona ?Β Kristo cukup bingung harus menjawab apa. Bukan kenapa-kenapa, sesaat setelah Nia menerima sebuah bingkisan dari 4 sahabat lelakinya itu, Aisakha langsung menyuruh kristo menyembunyikan bingkisan yang tertutup rapat kertas berwarna hijau itu. Kristo bisa menebak kalau sang tuan sedikit cemburu melihat calon isterinya itu tersenyum lepas menerima pemberian sahabatnya.
γ
"Kamu tidur ya Kris ?" Nia heran karena Kristo memilih diam di kursi penumpang bagian depan.
γ
"Biarkan saja dia tidur ! Mungkin dia lelah ", Aisakha berusaha menghentikan sikap keingintahuan Nia.
γ
"Ya sudah sayang, nanti saja waktu kita sampai rumah aku tanyanya ". Nia tetap mempertahankan senyum manisnya.
γ
"Kenapa kamu begitu berminat dengan kado itu ?" Tanya Aisakha dengan suara di buat setenang mungkin.
γ
__ADS_1
"Memangnya kamu gak penasaran sayang ?" Bukan menjawab pertanyaan Aisakha, Nia malah balik bertanya.
γ
"Enggak, karena apapun isinya aku bisa memberikan kamu berkali-kali lipat dari itu ". Sampai di sini sadarlah Nia kalau lelaki tampan yang sedang duduk di sebelahnya itu sedang ada di mode tidak suka, atau lebih tepatnya cemburu. Karena dirinya sangat antusias atas pemberian lelaki lain, 4 orang lelaki loh persisnya. Tetapi itukan sahabatku semua, hanya sahabat. Bukan lelaki paling spesial dalam hidupku. Begitu kira-kira suara hati memberontak Nia.
γ
γ
"Sayang, kamu dan cintamu adalah segalanya bagi aku. Itu sudah sangat melebihi dari semua keinginanku ", jawab Nia sambil memegang pipi Aisakha agar menatap ke arahnya.
γ
"Mereka hanya sahabatku, mereka bukan kamu lelaki hebatku yang sangat aku cintai ". Dan sangat mengherankan, kata-kata Nia barusan langsung mengubah mode kesal Aisakha menjadi cerah tak terkira.
γ
Hebat..luar biasa..
Pikir Kristo yang takjub dengan cepatnya perubahan suasana hati sang tuan. Kesal, cemburu dan sekarang malahΒ senang. Sadarlah Kristo kalau ternyata jatuh cinta itu sangat rumit, bisa dengan mudahnya mengubah suasana hati seseorang dalam sekejab mata. Mendadak Kristo merasa ngeri sendiri.
γ
*****************
γ
γ
Sesekali Edo memainkan rambut panjang si wanita yang membelakanginya itu, entah apa yang Edo inginkan. Tetapi yang jelas dirinya merasakan kepuasan. Kepuasana atas apa yang telah di lakukannya pada tubuh tidak berdaya si wanita itu ? Atau puas karena bisa menghukum si wanita sampai pada titik kebencian terdalamnya ? Entahlah, hanya Edo yang tahu semua jawabannya.
γ
"Aku sangat mencintaimu ". Ucap Edo pelan pada segengam rambut hitam yang berada di telapak tangannya.
γ
"Nia ". Akhir kalimat Edo yang sepertinya menjadi penutup malam mengerikan di kamar atas rumah besar keluarga Yuedo.
γ
**************
__ADS_1
γ
Sakit sekali, melebihi sakit di sekujur tubuh ini atas perbuatanmu tadi. Aku masih bisa membiarkan kamu menyiksa fisikku untuk alasan yang aku sendiri tidak tahu. Tapi ini, pernyataan cintamu ini. Sepertinya kau ingin membunuhku secara perlahan malam ini. Sepertinya kau ingin menyayat hatikukan ? Kenapa, kenapa kau masih mencintainya ? Bahkan malam ini, di malam dimana kau rengut segalanya dariku, kau malah menyebut namanya. Sebegitu tidak adakah celah bagiku ? Sebegitu tidak berartikah aku ? Habiskan harapanku di kehidupanmu ? Apakah malam ini merupakan malam pertama kau akan menyiksa aku untuk seumur hidupmu ?
γ
Tanpa terasa air mata kekecawaan jatuh berderai di dalam sanubari si wanita yang sekarang sedang membeku di dalam pelukan Edo. Sungguh tidak bisa di bohongi, betapa sakit sekujur tubuhnya saat ini. Mungkin kalau boleh meminjam kata tercabik-cabik, maka itulah gambaran jelas untuk perasaan yang menghinggapi setiap inci tubuhnya. Tetapi, meskipun terdengar bodoh. Si wanita ini masih siap menerima semuanya, lagi dan lagi. Dia hanya pasrah dengan air mata yang telah mengering sejak pertama Edo mencekik lehernya tadi.
γ
Sayangnya, setelah semua kekejaman Edo pada tubuh rapuhnya ternyata kata-kata Edo bisa terasa lebih kejam dari pada semua perbuatan lelaki tampan itu. Cinta, setelah Edo lelah menyiksanya bagaimana bisa Edo menyatakan perasaan cintanya ? Begitu tulus, begitu mendamba.
γ
Suara keheningan malam dan hembusan tenang nafas Edo di atas ubun-ubun kepalanya, membuat air mata yang jatuh di dalam hatinya semakin menjadi. Entah di menit dan di jam keberapa, akhirnya mata yang telah bengkak akibat menangis itu bisa terpejam dalam rasa sakit di luar dan di dalam.
γ
γ
****************
γ
"Istirahatlah ! Besok pagi aku ingin kamu membawaku ke tempat ayah dan ibu !"
Β Ucap Aisakha di depan pintu kamar Nia saat mengantarkan kekasihnya itu ke kamar tidurnya.
γ
"Iya..iya ". Jawab Nia cepat penuh semangat.
γ
"Ayah dan Ibu pasti senang ". Jawab Nia sambil memegang tangan Aisakha.
γ
"Aku juga senang Nia, aku bisa menjumpai mereka dan memintamu pada kefua orang tua hebatmu itu ". Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Nia.
γ
"Sekarang tidurlah isteriku ". Aisakha membukakan pintu kamar Nia dan membiarkan Nia masuk sebelum menutup kembali pintu kamar itu.
__ADS_1
γ
γ