
🌈🌈🌈🌈🌈
“Sudah, jangan banyak bergerak lagi !” Edo menghentikan Kemala yang bersiap memperbaiki posisi bantal di belakang kepalanya, bantal yang di gunakan Edo sebagai penyangga punggungnya di kepala ranjang. Mereka telah sampai di rumah keluarga Edo, dan sang Papa langsung menyarankan agar anak dan menantunya itu beristirahat dari perjalanan jauh mereka.
“Kalau begitu aku permisi dulu “. Kemala bermaksud berdiri dan melangkah pergi.
“Mau ke mana ?” Edo memegang tangan Kemala, membuat Kemala terpaksa duduk diam.
“Aku akan ke sofa. Kamu istirahatlah ! Kalau kamu perlu apa-apa panggil saja aku “. Kemala berbicara tanpa mau menatap mata Edo.
“Kenapa di sofa ? Padahal tempat tidur ini besar “. Edo tahu lagi-lagi Kemala ingin menjauh darinya, ingin menciptakan jarak di antara mereka.
“Tidak apa, aku di sofa saja “. Kemala menolak lembut.
__ADS_1
“Kamu takut padaku ?” Pertanyaan Edo ini membuat Kemala mengangkat wajahnya langsung ke wajah Edo. Sesaat mereka saling memandang, dan sesaat kemudian Kemala langsung membuang muka menyudahi tatapan mereka.
“Maafkan aku Mala “. Suara Edo putus asa. “Aku mohon, tolong maafkan aku “.
Hati Kemala menangis, sepenuh jiwa dirinya ingin berteriak pada Edo, ingin meneriakkan kata kalau dia telah memaafkan Edo. Tetapi, Kemala ragu. Kalau sampai dirinya akan lemah dan egonya akan muncul lagi. Ego untuk memiliki Edo sepenuhnya, menjadi istri Edo satu-satunya. Dan parahnya, tidak akan melepaskan Edo untuk hidup berbahagia.
“Sudah, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh “. Kemala memilih naik ke atas ranjang, memposisikan tubuhnya terlentang, meluruskan otot-otot kakinya yang terasa pegal. Edo hanya memperhatikan gerakan Kemala, hatinya masih merasa putus asa. Tetapi setidaknya masih ada harapan karena Kemala tidak menolak berada di sisinya saat ini.
“Kamu ngomong apa Kemala ?” Edo berharap Kemala salah bicara.
“Kamu layak bahagia Do, dan aku tahu itu bukan bersama aku “. Ada air mata yang jatuh di sudut mata Kemala. Lengkap sudah, hatinya hancur. Rumah tangganya akan segera berakhir.
__ADS_1
“Aku pernah melihat seperti apa kamu berada di ambang kematian demi mendapatkan cinta masa lalumu, cinta yang kamu inginkan dan itu bukan aku. Aku tidak siap kalau harus melihat kamu seperti itu lagi. Aku enggak sanggup “. Kemala segera membalikkan badannya, membelakangi Edo. Dirinya tidak berharap Edo melihat sisi hancurnya itu. Sisi jiwanya yang menangis berat atas segala rasa sedih di dalam lubuk hatinya.
“Mala “. Edo tahu kalau Kemala sedang menangis.
“Aku bukan suami yang baik, di malam pertama kita aku malah menyiksa kamu. Di hari seharusnya kamu hidup bahagia, aku malah meninggalkan kamu untuk masa laluku. Dan di saat aku harusnya menjaga dan merawat kamu yang sedang mengandung anakku, aku malah bergantung padamu. Membuat kamu harus mengurusi aku yang koma “. Suara Edo lirih.
“Aku tahu, berkali-kali kamu selalu menjaga jarak dariku. Kamu menjalankan tugas sebagai istri dengan baik, sepenuh jiwa penuh kasih. Tetapi di balik itu, kamu sedang berusaha menutup hatimu dari aku, dari cintamu padaku. Dan semua kamu lakukan demi kebahagiaan aku “. Edo menggeleng pelan.
“Kamu berkorban untuk membuat aku bahagia, mengesampingkan kebahagiaan kamu sendiri. Kamu sangat baik padaku, membuat aku malu atas semua perkataan dan perlakuanku padamu. Kamu sangat sabar Mala, kamu sangat baik. Sedang aku, aku hanya bisa menyakiti kami dan membuat kamu menangis “. Edo masih terus berbicara, berharap Kemala sudi mendengarkan semua ucapannya.
“Aku tahu, sekedar kata maaf saja tidak layak aku dapatkan darimu. Kamu pasti sangat kecewa padaku. Tapi, tetapi tolong Mala. Tolong jangan tinggalkan aku “. Edo menyentuh bahu Kemala. “Aku mohon jangan pergi. Tinggallah di sisiku Mala, jangan tinggalkan aku. Jangan cintai aku, hanya diam saja di sisiku. Biarkan aku, biarkan aku yang belajar mencintaimu. Beri aku kesempatan, aku ingin belajar mencintai kamu Mala. Dan, dan aku tidak mau pisah dari anak kita. Aku mau kalian berdua bersamaku “. Habis sudah segala isi hati Edo tercurahkan hari ini, segala rasanya yang di pendamnya dalam waktu 2 minggu terakhir ini.
Suara Kemala, perhatian Kemala, sentuhan Kemala, semua pada diri Kemala telah memutar dunianya 180 derajat. Membuat hatinya tahu seperti apa pengorbanan Kemala untuknya, membuat dia sadar bagaimana sabarnya Kemala padanya. Bahkan di antara kepayahan Kemala mengurus dirinya dengan muntah sepanjang hari, tetapi tangan hangat Kemala tetap membelai dirinya. Edo terpukul, tidak bisa di pungkiri, Edo mulai terbiasa pada sosok istrinya itu. Dan Edo mulai merasakan ada celah aneh di dalam hatinya terhadap Kemala, celah yang tidak dia mengertinya tetapi dirinya suka. Edo suka dengan kenyataan ada Kemala dalam hidupnya.
__ADS_1