
Bibi Ros (2)
πππππ
γ
Terima kasih Tuhan, Terima kasih..Betapa besar kuasa-Mu, semua tiada yang tidak mungkin. Jika Kau telah berkehendak, maka semua akan terjadi. Terima kasih Tuhan-ku, terima kasih..
γ
Entah sudah kali keberapa Nia mengucap syukurnya. Tiada henti, dirinya benar-benar sangat berterima kasih kepada sang Maha Pencipta, semua yang di awal terasa tidak mungkin, lihatlah kini. Tuhan begitu baik pada Bibinya tercinta, setelah kecelakaan yang sangat mengerikan itu, ternyata bibi bisa melalui semuanya. Bibi di nyatakan sudah sadar, kesehatannya pun mulai membaik. Organ vitalnya mulai bekerja seperti biasa, paru-paru bibi bisa kembali bekerja tanpa alat bantu.
γ
Bukankah, ini suatu mukzijat Tuhan? Nia tahu benar, hanya Tuhan yang mampu melakukan semua kebaikan yang sangat luar biasa. Dan sekali lagi, Nia mengucap terima kasih setulusnya, sedalam-dalamnya kepada Sang Maha Kuasa untuk kesembuhan sang bibi.
γ
"Terima kasih dokter". Ucap Nia dengan tatapan tulus kepada dokter.
γ
"Sama-sama nona. Semua adalah kerja sama tim, jangan lupa. Tuan tampan di sebelah anda juga sangat besar andilnya". Dokter menunduk hormat pada Aisakha. Dan di balas angukan oleh Aisakha.
γ
"Dan tentu saja, doa seluruh keluarga. Tuhan mendengar permohonan nona dan keluarga". Ucap dokter sambil mengangkat kedua tanganya.
γ
Nia memeluk Aisakha, rasanya sangat nyaman berada dalam pelukan kekasih hatinya itu. "Terima kasih, sudah memberikan yang terbaik untuk bibi". Ucap Nia pelan.
γ
Aisakha membalas pelukan Nia, bahkan tanpa ragu mempererat pelukannya pada tubuh mungil cintanya itu. Entah bagaimana caranya, tetapi memang tubuh mungil itu terasa sangat pas berada di dadanya. Mungkin itulah cara Tuhan memastikan bahwa jodoh seseorang telah dihantarkan dengan tepat. Saat hati kita merasakan bahwa semua berada pada tempatnya, maka pada saat itu kita percaya, bahwa Tuhan telah menata segala kebaikan yang paling baik untuk kita.
γ
"Bukankah sudahku bilang", Aisakha sedikit melonggarkan pelukannya pada Nia. "Aku akan melakukan yang terbaik untuk bibi". Aisakha mencium puncak kepala Nia. Dirinya meresapi wangi rambut Nia yang terasa sangat luar biasa bagi indra penciumannya.
γ
"Iya, iya..aku tahu. Dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih tidak pernah menyerah padaku dan selalu bersabar pada hatiku". Nia masih menyembunyikan wajahnya di dada Aisakha.
γ
Aisakha tersenyum,Β kau adalah milikku sayang. Mana mungkin aku akan menyerah.
γ
"Nona". Ternyata dokter masih berada di dalam ruang periksa, menyaksikan bagaimana sepasang kekasih tersebut saling mengutarakan perasaan mereka. Ah, aku jadi rindu isteriku.Β
γ
Nia melepaskan tangannya dari tubuh atletis Aisakha, beralih arah menatap dokter yang memanggilnya. Tetapi Nia masih mempertahankan diri bersandar di dada Aisakha. "Iya dok".
γ
"Kedepan jagalah kesehatan anda. Jangan terlalu memaksakan diri untuk sesuatu hal yang tidak bisa anda tanggung sendiri".
γ
Nia mengalihkan pandangannya ke mata biru Aisakha. Terlihat Aisakha tersenyum padanya.
γ
"Kita hidup bersama-sama, tidak sendiri. Kita butuh orang lain nona". Ucap dokter bijak. "Sesekali anda mengakui kalau anda juga butuh perhatian, butuh di kuatkan, butuh pengharapan dari orang lain bukanlah kesalahan, walaupun itu dalam situasi buruk sekalipun. Nona juga punya hati yang perlu di limpahkan rasa sayang. Jadi". Dokter terlihat berencana berjalan meninggalkan Nia dan Aisakha. "Jangan selalu memikirkan orang lain. Fokuslah pada diri anda dan orang yang sayang pada anda".
γ
"Nona, anda layak untuk berbahagia". Dokter bersiap menjauh dari tempat tidur pasien yang tengah di duduki oleh Nia.
γ
__ADS_1
"Terima kasih doker. Anda sungguh bijaksana". Ucap tulus Nia.
γ
Dokter mengangguk pelan. "Baiklah, nona istiraht dulu di sini barang setengah jam. Sebentar lagi pihak apotik akan mengantarkan obat yang telah saya resepkan. Di minum ya! Setelah bibi anda di pindahkan ke kamar rawatan, menurut saya barulah nona temui".
γ
"Siapa yang menemani Paman saya?"
γ
"Saudara anda dan suaminya". Jawab dokter cepat.
γ
"Tuan, saya permisi dulu. Masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan. Mohon tuan pastikan nona beristirah sejenak, nanti saya akan kembali untuk mengantarkan tuan dan nona ke kamar rawatan bibi nona".
γ
"Baiklah dok, silahkan". Aisakha membalas sikap hormat dokter. "Terima kasih dok".
γ
Setelah dokter meninggalkan Aisakha dan Nia berdua saja di dalam ruang periksan, Aisakha pun meminta Nia mencoba kembali berbaring. Sekedar untuk merilekskan otot-otot badanya.
γ
"Berbaring lagi ya".
γ
"Tapi boleh minta sesuatu?"
γ
"Apa, jangankan sesuatu. Semua saja akan Mas beri padamu".
γ
γ
"Apa, bilang saja!"
γ
"Aku mau berbaring lagi, tapi kepalanya di letakkan di pangkuan Mas ya?" Nia terlihat malu sendiri saat mengajukan permintaannya.
γ
"Itu saja?" Aisakha tidak percaya.Β Ya ampun...mau bilang itu saja sampe segitu malunya. Sayang, sayang...
γ
"Kenapa?"
γ
"Enggak papah. Ayo sini". Aisakha menepuk kedua pahanya.
γ
Perlahan Nia merebahkan badannya dan meletakkan kepalanya tepat di pangkuan Aisakha.Β Kok rasanya menyenangkan ya?Β Nia terlihat nyaman dengan posisi dia berbaring saat ini.
γ
"Sayang". Aisakha mulai membelai rambut Nia. "Apakah kamu bisa mencerna semua nasehat dokter tadi?"
γ
"Iya". Jawab Nia singkat sambil memejamkan matanya.
γ
__ADS_1
"Kedepan, apapun itu suka dukamu, berbagilah pada Masmu ini. Kamu punya aku, aku milikmu. Jangan bertaham dalam tameng kepura-puraan tegar yang selalu kau ciptakan. Aku tidak pernah melarangmu menjadi wanita kuat, tapi sayang. Aku melarangmu berpura-pura kuat untuk siapapun itu, sementara hatimu sangat menderita. Wanita yang kucintai tidak boleh menderita, dia hanya boleh bahagia. Ingat itu!" Aisakha menatap wajah Nia.
γ
Nia membuka matanya. Mata biru Aisakha langsung tertangkap di kedua matanya. Hatinya bersorak gembira, rasa bahagia benar-benar menjalar di setiap aliran darahnya. Merasa di cintai, di limpahkan kasih sayang, hidup dalam lindungan orang terkasih, Nia sangat terharu.Β Betapa beruntungnya aku. Terima kasih Tuhan, Kau berikan dalam hidupku sosok lelaki yang tulus mencintaiku.
γ
"Terima kasih". Jawab Nia dengan mata berkaca-kaca.
γ
γ
***************
γ
"Pak, ini obat nona". Seorang perawat wanita menemui Kristo yang duduk berjaga di depan pintu kamar periksa tempat Nia sedang beristirahat di temani oleh Aisakha.
γ
"Terima kasih. Biar saya yang antarkan!"
γ
Kristo berdiri, menerima baki kecil berisi air putih dalam sebuah gelas dan dua buah pil berwarna putih dan orange yang di letakkan pada piring kecil.
γ
Tok, tok, tok...
"Permisi tuan". Suara Kristo terdengar di depan pintu.
γ
"Ya..masuklah Kris".
γ
"Tuan, obat nona sudah di antar perawat". Kristo menyodorkan baki kecil di tanganya.
γ
"Duduklah sebentar. Bisa?" Tanya Aisakha pada Nia. "Minum obat dulu ya!"
γ
Perlahan Nia mulai mengangkat badannya dan berganti posisi duduk tepat di sebelah Aisakha. Nia menerima pil dan air putih yang di pegang Aisakha untuknya. Dan happp, sebantar saja obat-obat tersebut sudah di telannya.
γ
γ
******
γ
Hai..hallo kaka-kaka readers budiman.
Maaf ya, buat hari ini upnya cuma satu duluπ
γ
Selamat membaca kaka-kaka readers yang budiman.
γ
Sehat selalu dan jangan lupa berbahagiaπ
γ
γ
__ADS_1