
Telepon Penting
πππππ
γ
Nia dan rekan-rekannya sudah bersiap untuk menuju aula di gedung utama perusahaan. Mereka tidak mau terlambat, walaupun sebenarnya, jam baru menunjukkan angka satu lewat empat puluh menit. Sambil berjalan santai mereka membahas tentang presdir. Ada rasa bangga dalam diri masing-masing mereka saat ini karena akhirnya mereka berkesempatan menyapa langsung sang presdir. Konon presdir adalah pria tampan yang sukses di usia muda, si raja penguasa dunia bisnis. Wulan dan Anita walaupun setahun lebih dulu bekerja di lembaga penelitian perusahaan ini sebelum tiga teman lainnya, justru inilah saat perdana bagi mereka bisa bertemu dan melihat langsung si presdir dengan mata kepala sendiri. Suatu kebanggaan bagi mereka bisa mendapat kesempatan langka ini.
γ
Ternyata sesampainya di aula ruangan tersebut mereka mendapati aula sudah ramai, sepertinya bukan cuma mereka karyawan kantor cabang Sunjaya Company yang sangat antusian untuk menyambut presdir siang ini. Wulan mengajak Nia dan yang lain untuk duduk di sisi kanan podium. Di sana masih ada lima kursi kosong, dan posisi duduknya juga lumayan agak ke depan. Jadi mereka bisa puas-puas memandang presdir yang diisukan sangat tampan.
γ
Nia melihat jam ditangannya, kurang dari sepuluh menit lagi, pikirnya. Nia pun asyik memandang kesekeliling ruangan. Sangat ramai, berbagai karyawan dari semua divisi saling bercengkrama, suara di dalam aula itu riuh redah, semua punya topik masing-masing untuk di bahas. Tetapi Nia dapat mendengar nama Aisakha Elang Britanalah yang menjadi topik paling seru di antara karyawati yang telah memenuhi ruangan. Nia mengulang nama Aisakha di dalam hatinya. Dia pun merasa tidak asing, merasa ada kehangatan yang mengalir di dalam hatinya, hangat yang sangat familier dihatinya. Kembali Nia mengulang nama itu, Aisakha, kenapa nama itu terasa dekat, familier di hati ya?Β Seakan dia pernah ada di situasi yang membuat dia sangat akrab dengan nama sang presdirnya.
γ
"Kenapa Ya?" Bowo sepertinya cukup lama memperhatikan Nia yang seakan sedang berpikir, terlihat jelas oleh Bowo beberapa saat tadi dahi Nia sedikit berkerut.
γ
"Hah, gak kok, nggak papah. Memang kenapa?" Nia sedikit terkejut.
γ
"Kamu lagi mikir apa? Aku perhatikan dahi kamu di tekuk. Kenapa?" Kembali Bowo mengulang pertanyaannya pada Nia.
γ
Sebenarnya Nia merasa salut sama Bowo, di antara empat rekan kerjanya yang sekaligus sahabatnya itu, justru Bowo yang paling peka terhadap gerak tubuh atau pun suasana hatinya. Sepertinya Bowo ini sangat gampang menebak perasaanku. Padahal diakan cowok, sedang temen cewek malah santai aja.
γ
"Oo, itu, aku tadi lagi mikir. Perasaan nama presdir tuh gak asing bagi aku. Rasanya dulu banget aku pernah sangat akrab dengan namanya". Nia menjelaskan pada Bowo.
γ
"Memang kamu kenal sama presdir, pernah ketemu?" Bowo merasa penasaran.
γ
__ADS_1
"Itu yang buat aku berpikir tadi Wo, nama presdir terasa sangat dekat bagiku sangat berarti, aku pikir mungkin aku pernah mengenal presdir dulunya. Tapi masak iya, aku kenal sama presdir. Gak mungkin kan Wo, bukannya kata Wulan tadi sangat sulit untuk bisa mendekati presdir apa lagi bisa kenal. Wulan saja sudah empat tahun bekerja di sini, baru sekarang bakal lihat wajah presdir". Nia merasa ragu dengan perasaannya.
γ
"Nah, kalau itu aku percaya Nia. Jujur aku sulit percaya kalau kamu mengenal seorang Aisakha si penguasa dunia bisnis dan industri di negara kita ini. Mungkin, mungkin loh ya kamu itu sering mendengar nama presdir jadi secara tidak sengaja itu tersimpan dalam memori mu, sehingga saat ada yang membahas namanya kamu bakal merasa tidak asing, kayak kenal gituh. Ya karena alam bawah sadarmu sebelumnya pernah menyimpan ingatan tentang nama presdir kita". Bowo mencoba menjawab keraguan Nia.
γ
Belum sempat Nia menjawab, dia merasa getaran pada handphonenya. Cepat Nia melihat nama penelepon di layar handphonenya.Β Alika. Nia langsung mengeser gambar telepon berwarna hijau dilayarnya. "Ya Ka, kenapa?"
γ
"Nia, Alex dari pagi muntah-muntah aja, trus badannya panas. Sekarang aku di Rumah Sakit Bunga, Alex kejang Nia. NIA AKU TAKUT, hikss". Terdengar teriakan panik dan isak tangis di ujung telepon.
γ
"Ya Tuhan, kenapa sama Alex, Alika? Sekarang gimana kondisinya? Kamu sama siapa di situ?" Nia mulai cemas pada kondisi ponakan tampan berpipi gembul yang sangat disayanginya itu.
γ
"Sekarang masih ditangani dokter, dokter lihat aku nangis terus jadi di suruh duduk di ruang tunggu. Aku takut Nia".
γ
γ
"Mama tadi ke pasar handphonenya gak di bawa, Papa si Alex sedang di Lampung ada barang buat toko yang harus dicarinya di sana. Rencana dia pulang dengan pesawat jam dua ini, jadi aku gak bisa hubungi dia".
γ
"Kamu jangan nangis terus, nanti Alex tambah ngedrop kalau kamu seperti ini. Ingat, filling ibu dan anak itu kuat, jadi kamu harus kuat. Percaya sama aku, Alex gak bakal kenapa-napa. Udah jangan nangis lagi, aku ke tempatmu sekarang. Tunggu aku, paling lama satu jam aku sampai". Nia berusaha menenangkan Alika.
γ
"Cepatlah datang, hiks". Nia masih mendengar suara tangis di ujung telepon sebelum dimatikannya.
γ
Segera Nia menjelaskan kondisi Alex yang sedang di tangani dokter saat ini dan bagaimana panik ya Alika sepepunya itu pada teman-temannya. Sepertinya karena rasa khawatirnya Nia,Β saat menerima telepon tadi, tanpa disadarinya nada suaranya cukup keras. Sehingga teman-temannya bisa mendengar isi percakapan Nia dengan si penelepon.
γ
__ADS_1
Semua teman-temannya merasakan kekhawatiran Nia saat ini. Mereka tahu benar seperti apa sayanganya Nia pada anak sepupunya itu. Tetapi membiarkan Nia pergi dari Aula, di saat kunjungan presdir, apa tidak akan masalah? Mereka ragu melepas Nia berangkat ke Rumah Sakit.
γ
"Emm, coba kamu tanya Profesor, minta izin padanya buat pergi. Jadi seandainya nanti ada yang kehilangan kamu saat presdir datang, Profesor bisa melindungimu". Usul Bowo pada Nia.
γ
Tanpa berpikir dua kali cepat Nia berjalan ke arah depan aula, ke arah tempat duduk Profesor Yandi. "Prof". Nia menguncang pelan bahu Profesor dari arah belakang.
γ
Profesor langsung membalikan wajahnya menghadap ke sumber suara di belakang kepalanya. "Nia, ada apa?"
γ
Nia menceritakan telepon penting dari Alika barusan, Profesor mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kalimat demi kalimat cerita Nia.
γ
"Ya sudah kamu ke Rumah Sakit aja, cepatlah berangkat. Nanti kalau ada yang mencarimu biar saya yang menangani". Profesor mengizinkan Nia pergi melihat Alex.
γ
Nia benar-benar bersyukur memiliki atasan seperti Profesor Yandi, selalu bijaksana dalam menyikapi masalah bawahnnya. Tegas tetapi bukan arogan, cepat Nia mengucapkan terima kasih pada Profesor. Dan dia pun mulai berjalan ke arah pintu aula hendak keluar. Beberapa meter lagi dia sampai di pintu keluar, tiba-tiba langkah Nia terhenti. Nia mendengar pengumuman dari suara wanita yang ditugaskan menyambut kedatangan Presir di depan pintu. "Bersiap semua, presdir sudah berjalan ke arah sini".
γ
Nia terkejut, bagaimana ini? Pikirnya, reflek Nia duduk di kursi kosong di dekat pintu keluar. Dan benar pengumuman wanita di pintu tadi. Tidak lama Aisakha Elang Britana masuk diikuti sekretaris den empat orang bodyguardnya. Nia menundukkan kepala saat Aisakha berjalan di samping kursinya menuju podium di bagian depan.
γ
Merasa jarak antara dia dan rombongan bodyguard sang presdir sudah cukup jauh, perlahan tapi pasti Nia berjalan meninggalkan Aula. Suara langkahnya sangat dijaganya agar tidak menimbulkan kegaduhan. Mungkin karena semua penghuni aula sangat fokus dengan rasa penasaran mereka terhadap big boss yang sedang berjalan itu, sehingga tidak ada yang menyadari kalau Nia sudah sangat jauh dari aula.
γ
Nia setengah berlari ke arah parkiran, cepat di meminta Pakde untuk membawanya ke Rumah Sakit Bunga. Pakde yang kemudian tahu penyebab Nia minta di antar ke Rumah Sakit pun menyegerakan laju mobil demi memenuhi permintaan majikannya itu.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ