SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 101


__ADS_3

Menyakinkan Paman


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Bahu Nia mulai terguncang, air matanya mulai membasahi baju yang melekat di punggung Aisakha. Entah apa yang salah, kenapa rasanya sekarang dirinya mulai tidak memiliki semangat lagi. Perasaan takut mulai memenuhi hatinya, tidak bisa dibohongi Nia sangat mencintai Aisakha. Dan bayangan akan penolakan Paman pada Aisakha membuat hatinya terluka.


 


"Saat itu, tuan tengah berusaha keras mencari nona Nia, Pak, ke segala tempat". Kristo berusaha membela sang tuan.


 


"Heh, butuh waktu lama ya?" Tanya Paman sinis. "Padahal orang kaya, tapi mencari satu orang saja begitu sulit".


 


"Tentu saja sulit". Jawab Kristo kesal. "Yang tuan tau saat itu nama nona Nia, ya hanya Nia saja. Tuan tidak tau nama lengkap nona, alamat yang ditujunya, siapa keluarganya, tuan tidak tau siapa sebenarnya nona Nia. Tapi percayalah Pak, tuan mencari nona. Selalu, setiap saat setiap hari". Jelas Kristo bersungguh-sungguh.


 


"Sudah". Aisakha menghentikan Kristo berbicara.


 


"Maafkan saya, Paman. Terlambat menemukan Nia. Saya tidak pernah menyangka Nia akan bekerja menjadi seorang peneliti dan itu di perusahaan saya. Maafkan saya tidak ada di saat Paman, Bibi, Alika, bahkan Tomi bahu membahu menghibur Nia tiga tahun yang lalu, saya akui, saya tidak ada di sisi Nia. Saya mohon maafkan saya". Terlihat wajah penyesalan di mata Aisakha. Betapa sedihnya membayangkan wanita yang dicintainya hidup berkalung duka selama ini.


 


"Saya, saya hanya tidak mau hal yang sama terulang lagi. Sekarang, andai hal itu terjadi, bahkan saya tidak tau apa mampu menghibur Nia kembali. Lihatlah, wanita cantik di dalam sana". Tunjuk Paman pada Bibi Ros yang tengah terbaring koma. "Dia selalu ada untuk Nia, dia selalu ada tuan. Dan sekarang, lihat...lihat". Sekali lagi Paman menunjuk ke arah Bibi Ros. "Isteri saya, kami semua sangat sayang pada Nia. Nia anak kami tuan, Nia sangat berharga bagi keluarga kami".


 


"Saya pastikan, tidak akan ada hal yang sama Paman, saya bersumpah". Suara tegas Aisakha terdengar di ruangan itu. "Saya mungkin tidak bisa memberikan dunia ini buat Nia, tapi saya. Saya mampu memberikan seluruh dunia saya untuk Nia, hanya Nia saja Paman". Janji Aisakha pada Paman.


 


"Dan keluarga anda?" Paman masih tidak yakin.


 


"Papa sudah lama meninggal, sekarang tinggal Mama. Kami memang memiliki beberapa kerabat, tetapi percayalah Paman semua merestui hubungan kami". Aisakha berusaha membuat Paman mengerti.


 


"Nia, kamu sudah diperkenalkan dengan Ibunya?" Tanya Paman keras.

__ADS_1


 


Nia diam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bertahan, bersembunyi di balik punggung Aisakha.


 


"Benar dugaan saya". Paman seakan menemukan sendiri jawaban untuk pertanyaan tadi.


 


"Niaaaa, kesini!" Dengan suara lantang, Paman memerintah Nia agar mendekat kearahnya.


 


Aisakha melepas genggaman Nia, menarik pelan Nia agar berdiri di sebelahnya. Dengan lembut Aisakha menghapus air mata yang telah berjatuhan membasahi wajah cantik sang kekasih. Pelan Aisakha mengangkat dagu Nia, memaksa Nia bersitatap hanya kepadannya.


 


"Jangan bersedih. Ada aku di sini". Ucap Aisakha sambil memegang lembut pipi Nia.


 


"Saya memang belum memperkenalkan Nia pada Mama saya, Paman. Dan jika menurut Paman itu adalah kesalahan, mohon maafkan saya". Lagi, Aisakha menundukkan kepala sebagai wujud permohonan maafnya. "Tetapi Mama tau kalau saya mencintai Nia. Saya sudah bertekad, begitu Nia bisa membuka hati untuk saya, maka saat itu saya akan memberitahu Mama. Tetapi semua di luar dugaan saya, Paman. Hingga musibah terhadap Bibi terjadi".


 


 


"Pak, anda benar-benar tidak punya perasaan. Orang tua apa anda ini? Walaupun tau anaknya bahagia dengan lelaki yang dicintainya, anda masih saja mencari alasan untuk memisahkan mereka". Kristo tidak habis pikir terhadap Paman.


 


"Anda tau, bagaimana kerasnya usaha tuan mencari nona Nia? Dan saat mereka bertemu, nona tidak serta merta mau percaya cinta tuan. Pak, tuan berjuang untuk mendapatkan cinta anak anda dan lihat, lihat Pak. Tuan dan nona bahagia". Kristo menunjuk pada Aisakha dan Nia.


 


"Jangan memaksakan diri. Lebih baik kau bawa tuan Aisakha pulang". Paman menolak mendengar semua penjelasan Kristo padanya.


 


"Anda ini manusia bukan?" Kristo sudah sulit mengendalikan emosinya.


 


"Cukuuup! Atau aku benar-benar akan memukulmu" Aisakha kembali mengingatkan Kristo.


 

__ADS_1


Tetapi Kristo tidak gentar. Rasa kesalnya pada keras kepalaan Paman sudah sampai di puncak ubun-ubunnya. Dia sangat marah dengan keegoisan sang Paman pada tuannya.


 


"Tidak tuan, lelaki tua ini harus tau diri". Jawab Kristo kesal sambil menunjuk kearah Paman.


 


"Apa anda tau, apa yang telah di lakukan tuan pada hari ini? Dengan mengesampingkan kontrak ratusan juta, tuan memilih segera terbang ke sini, kembali ke sisi nona Nia saat tuan tau isteri anda mendapat musibah. Tuan lebih memilih anak anda Pak di banding perushaannya. Kemudian,  tuan meminta saya menyelidiki kasus tabrak lari isteri anda. Tidak hanya itu, tidak sedetikpun tuan meninggalkan anak anda Pak, tidak sedetik pun. Bahkan kembali ke rumah untuk menemui Ibunya saja di nomor duakan oleh tuan". Kristo mulai berbicara tegas kepada Paman.


 


"Cukup!" Aisakha memerintah Kristo untuk berhenti berbicara.


 


 "Anda tau, dalam sekejab tuan memindahkan semua peralatan yang dibutuhkan oleh isteri anda ke sini dari Jakarta sana. Dengar, dari Jakarta sana". Suara Kristo kian keras. Bukan berhenti bicara seperti perintah Aisakha, Kristo malah semakin menjadi-jadi. Sepertinya Kristo memang tidak bisa lagi menahan segala kekesalannya pada Paman yang masih juga berusaha memisahkan tuannya dan Nia.


 


"Anda pikir gampang, memindahkan semua peralatan cangih itu ke sini? Dan semua itu tuan lakukan demi anak anda. Tuan tau kalau isteri anda di bawa ke Jakarta, maka nona Nia akan kembali dalam luka lamannya. Tuan tau, anak anda belum siap untuk itu. Jadi tuan memilih mendatangkan semuanya ke sini untuk isteri anda. Dan anda pikir itu apa ha? Bukan wujud cintanya tuan?" Tanya Kristo kesal.


 


Aisakha maju, melapaskan tangannya dari jemari Nia, mendekat kearah Kristo dan........


 


PLAKKKKKK. Satu tamparan keras mendarat di pipi Kristo, sangat keras sampai membuat sudut bibir Kristo berdarah.


 


"Saya sudah bilang diam atau saya akan memukulmu. Dan ini pilihanmu". Tunjuk Aisakha pada sudut bibir Kristo yang berdarah.


 


Nia terkejut, membelalakkan matanya dan menutup rapat bibirnya dengan kedua tangannya. Sedang Paman, mundur beberapa langkah. Begitu tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.


 


"Maafkan dia Paman". Aisakha kembali meminta maaf pada Paman. "Dia sungguh tidak tau apa yang dibicarakannya tadi. Tolong jangan Paman masukkan kedalam hati".


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2