
Keadaan Nia
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Tidak masalah, jangan takut Pakde. Saya kebetulan belum tidur". Cepat Aisakha menjawab pertanyaan Pakde. "Ada apa dengan Nia, Nia kenapa?" Ada rasa cemas di hati Aisakha.
 
"Nah, itu dia tuan. Si non, si non tuan". Pakde menjawab dengan terbata-bata.
 
"Iya..Nia kenapa Pakde? Jawab yang jelas, jangan buat saya kawatir. Ada apa?" Desak Aisakha pada Pakde.
 
"Si non, tuan. Jadi tadi itu si non teriak-teriak manggil-manggil nyonya Ros, Bibinya si non Nia, tuan. Saking keras teriakan si non, Pakde sama istri bisa mendengar. Padahalkan kamar si non di lantai dua. Trus kami bergegas melihat non Nia ke atas, Pakde panggil-panggil diam saja. Di panggil lagi tuan berulang-ulang baru si non buka pintu kamarnya. Tuan, Pakde liaht si non ketakutan. Pakde bisa lihat wajah ketakukan si non, keringat dingin, rambut acak-acakan".
 
"Nia kenapa?" Tanya Aisakha tidak sabar.
 
"Si non sepertinya mimpi buruk tuan. Dan benar saja, setelah di tanya sama istri saya, ternyata benar si non habis mimpi buruk. Dan sepertinya si non masih ke bawa pikiran tentang mimpinya, jadi masih rada--rada takut gituh tuan. Saya jadi kasihan tuan". Jelas Pakde.
 
__ADS_1
"Yakin Nia hanya mimpi? Bukan ada yang gangguin dikamarnya?" Aisakha mencoba menyelidiki.
 
"Yakin tuan, saya tadi tanpa setahu non udah periksa kamarnya. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan tuan". Ujar Pakde penuh keyakinan.
 
"Dan sekarang bagaimana keadaan Nia?" Rasa khawatir terhadap Nia membuat Aiskaha ingin kepastian situasi terbaru tentang Nia.
 
"Sekarang sudah tenang tuan, ini si non lagi dibuatkan susu hangat sama istri saya sekarang mereka di meja makan. Tuan mau bicara sama si non?" Tanya Pakde.
 
"Tidak, nanti saja saya telepon dia. Biarkan saja dia menikmati susu hangatnya, biar dia rileks. Terima kasih ya Pakde atas informasinya. Tolong di jaga Nia dengan baik dan kalau ada apa-apa cepat kabari saya. Apapun itu, jangan lupa". Perintah Aisakha pada Pakde.
 
 
"Terima kasih Pakde". Ucap Aisakha sebelum mematikan sambungan teleponnya.
 
Ada apa ini? Kenapa Nia mendadak mengalami mimpi buruk? Tadi rasanya baik-baik saja sebelum menutup telepon dariku. Apa gerangan yang menganggu pikirannya? Apa aku terlalu mendesak Nia, sehingga membuat alam bawah sadarnya menjadi tidak nyaman dan terbawa mimpi? Tapi wajarkan kalau aku tidak mau kehilangan Nia lagi, tiga tahun itu waktu yang lama untuk menemukan Nia kembali. Mana mungkin aku akan melepaskan dia kali ini.
Aisakha memandangi televisi yang tadi dihidupkannya, tetapi dia sama sekali tidak fokus pada apa yang menjadi isi siaran saat ini.
__ADS_1
 
Berarti ini penyebab kenapa aku terbangun secara mendadak tadi, tanpa sebab tanpa gangguan. Ternyata semua karena wanita yang kucintai sedang tidak merasa tenang di sana, ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Ada apa denganmu sayang?
 
********************
 
Terlihat Nia sudah mulai mengantuk kembali, sudah beberapa kali dia menguap sebagai wujud permintaan matanya agar kembali di bawa beristirahat. Bibi pun membujuk Nia agar melanjutkan tidurnya, hari masih malam, pagi masih lama dan Nia harus beristirahat. Besok rutinitas kantornya pasti memerlukan tenaga yang fresh agar bisa berjalan lancar.
 
Akhirnya Nia luluh juga pada ajakan Bibi, dengan ditemani oleh Bibi, Nia kembali masuk ke bawah selimut hangatnya. Bibi memutuskan untuk tinggal sesaat menemani Nia, sambil terus mengelus sayang rambut Nia. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Nia kembali terlelap. Wajah cantik Nia sangat tenang, damai dan menikmati setiap tarikan nafasnya.
 
Setelah merasa yakin bahwa Nia benar-benar sudah terlelap, sudah masuk ke dunia mimpi yang indah. Bibi pun melangkah secara pelan dan perlahan meninggalkan kamar Nia, kembali ke kamarnya lagi.
 
Bibi dan Pakde sempat menunggu beberapa saat, memastikan majikan kesayangan mereka memang benar-benar telah tertidur pulas. Baru setelah itu mereka pun melanjutkan sisa malam ini dengan beristirahat kembali tidur di ranjang nan empuk.
 
 
 
__ADS_1