SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
56


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Akhirnya selesai juga ". Suara Edo terdengar penuh kelegaan saat lelaki berbaju serba putih memberitahukan padanya bahwa glady malam itu telah selesai.


γ€€


"Jangan lupa ya step by stepnya !" Ucap si lelaki itu sebelum membiarkan Edo di bawa oleh Toni menjauh dari bagian samping si lelaki berbaju serba putih.


γ€€


"Melelahkan ", ucap Edo saat berjalan beriringgan bersama Toni menuju pintu balairoom.


γ€€


"Kerena kamu menjalankan semua tanpa cinta, tentu saja membuat kamu lelah. Malah menghabiskan energimu, karena harus berpura-pura ". Toni terlihat santai saat mengucapkan semua realita yang ada.


γ€€


"Gak usah sok deh Ton ". Ucap Edo malas.


γ€€


"Percaya syukur, enggak juga bukan masalah bagiku. Kan yang mau menghancurkan masa depannya sendiri itu kamu ". Tanpa ragu Toni mengeluarkan isi harinya pada Edo.


γ€€


"Jangan mulai !" Sekarang raut wajah Edo berubah serius.


γ€€


"Do ", mendadak Toni menghentikan langkahnya. Spontan Edo pun berhenti melangkah melihat apa yang dilakukan olehΒ  sahabatnya itu. "Masih belum terlambat. Sudahi semua ini ! Demi masa depanmu, demi masa depan Kemala, demi keluarga besar kalian !"


γ€€


"Ton, ingat janjimu !" Edo langsung melanjutkan langkah kakinya setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Toni. Malas, itu yang di rasakan hatinya.


γ€€


Ah, terserahlah Do. Rasanya aku sudah mulai lelah mengingatkanmu.


Akhirnya Toni mengejar langkah kaki Edo, kedua sahabat ini berjalan beriringan kembali menuju pintu balairoom, mereka bersiap hendak keluar dari hotel mewah itu.


γ€€


"Sebentar ". Edo menyentuh bahu Toni agar memperlambat jalannya.


γ€€


"Di sinikan kamu ketemu Ibunya tuan Aisakha ?" Ucap Edo sambil menatap Toni.


γ€€


"Berarti besar kemungkinan keluarga milyader itu ada di aula sana " tunjuk Edo ke sebuah pintu aula di sudut dalam lorong tempatnya berdiri.


γ€€


"Mungkin, aku juga tidak tahu ". Jawab Toni sambil mengangkat kedua bahunya.


γ€€


"Bagaimana kalau kita lihat ", ajak Edo pada Toni yang di sambut gelengan kepala oleh Toni.


γ€€


"Mau apa kamu Do, jangan norak deh !" Ucap Toni enggan.


γ€€


"Ya, kalau ada Ibunya, pasti ada anaknyakan ? Aku ingin ramah-tamah sama tuan Aisakh, kan lumayan Ton, mana tahu bisa membuat perusahaanku di lirik olehnya ". Jawab Edo sangat yakin.


γ€€


"Males aku, buat malu aja kau. Gak mau ah.. ", tolak Toni tegas.


γ€€


"Ayolahhhh ", bujuk Edo.


γ€€


"Kamu sendiri aja ", Toni bersiap melangkah meninggalkan Edo dengan ide konyolnya.

__ADS_1


γ€€


"Masalahnya aku gak kenal Ton ". Suara Edo sedikit memelas.


γ€€


"Sama, kan udah aku bilang tadi. Aku kenal Ibunya, bukan anaknya ". Ucap Toni sambil mengerakkan tangan kanannya.


γ€€


"Nah..itu..itu Ton. Kamu manfaatkan kedekatanmu pada Ibunya untuk membuat aku bisa kenal anaknya ". Senyum senang menghiasi wajah Edo.


γ€€


"Enggak ahhh, ogah...", suara penolakan Toni terdengar keras.


γ€€


"Ya udah..kalau gituh aku sendiri saja. Tapi aku jual namamu ya supaya bisa ramah tamah sama Ibunya tuan Aisakha ". Tanpa menunggu jawaban Toni, Edo berjalan mendekati pintu aula tempat keluarga besar Britana sedang berkumpul bersama.


γ€€


"Arrrgggghhhhh ", Toni terlihat kesal, saat menyadari Edo memang serius melangkah menjauh darinya dan semakin dekat ke arah pintu aula.


γ€€


Apa lagi isi kepalamu Edo, nekat sekali berencana menganggu di sana....dasar tidak tahu malu.....


Akhirnya Toni mengalah, mengikuti langkah sahabatnya itu menuju pintu aula, dirinya mengalah.


γ€€


Dengan penuh rasa percaya diri, Edo mendorong pintu aula, tanpa mengetuknya. Sepertinya Edo berencana langsung nyelonong masuk saja, sungguh entah dimana Edo mendapat kepercayaan dirinya itu. Toni hanya bisa mengelengkan kepala melihat tingkah Edo.


γ€€


Langkah Edo tertahan, pintu aula yang di dorongnya hanya terbuka sedikit. Toni melihat tangan kekar terjulur dari dalam, tangan itu mendorong Edo agar menjauhi pintu.


γ€€


Pintu sedikit terbuka. Baik Edo dan Toni sama-sama mendengar samar sepengal bait lagu sedang dinyanyikan yang disertai bunyi indah dari permainan piano, seperti suara seorang wanita.


γ€€


γ€€


"Siapa anda ? Berani sekali masuk tanpa izin ".Β  Ucap lelaki itu kesal.


γ€€


"Maafkan kelancangan saya. Saya ke sini mau menemai teman saya ", tunjuk Edo ke wajah Toni. "Dia adalah anak dari teman nyonya Winata ". Toni pun sedikit kaget.


γ€€


Sialan kau Do...


Maki Toni dalam hatinya.


γ€€


Si lelaki berbadan tegap ini bersiap membuka mulutnya, tepat di saat aluna piano terdengar bersamaan dengan suara merdu seorang wanita melantunkan satu buah bait lagu.


γ€€


"Ini acara keluarga tuan Aisakha. Yang tidak berkepentingan di larang masuk. Dan itu termasuk anda tuan !" Tangan kiri si lelaki berbadan tegap ini menunjuk ujung lorong aula. Sepertinya dia berkeinginan agar Edo dan Toni segera menyingkir.


γ€€


"Kami ini hanya sebentar saja. Tolonglah, ini penting ". Edo sepertinya pantang menyerah.


γ€€


"Tuan, saya tidak kenal anda dan teman anda. Jadi tolong jangan uji kesabaran saya ! Silahkan anda pergi !" Wajah lelaki berbadan tegap itu berubah keras, sepertinya dia memang serius dengan ancamannya.


γ€€


"Ayoooo ". Toni mengerakkan kepalanya pelan, membari tanda pada Edo agar berjalan meninggalkan tempat tersebut. Jelas akal pikiran Toni masih jalan, dia tidak ingin ada keributan akibat ulah Edo barusan.


γ€€


Edo hanya diam, tanpa mengucapkan kata apapun dia cukup patuh berjalan mengikuti langkah Toni. Mereka mulai melangkah menjauh dari pintu aula.


γ€€

__ADS_1


Hingga.......


γ€€


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Terimalah cintaku yang luar biasa


Hm-mm


Tulus padamu


γ€€


Mata Edo dan Toni saling melotot besar, kedua sahabat ini bisa mendengar jelas suara seorang wanita sedang menyanyikan beberapa bait terakhir sebuah lagi yang di iringi permainan piano.


γ€€


Apakah itu.....? Aku, aku pasti salah dengarkan ? Tidak mungkin, itu, itu hanya kesamaan suara saja...... Edo


γ€€


Aku gak mimpikan ? Ya...Tuhan. Suaranya sangat mirip....Toni.


γ€€


"Siapa itu ?" Entah sejak kapan Edo berbalik badan dan berjalan kembali mendekat ke arah lelaki berbadan tegap.


γ€€


"Tuan, anda benar-benar membuat kesabaran kami habis ". Dengan cepat, si lelaki berbadan tegap sudah memiting lengan Edo.


γ€€


"Sakit, sakittttt ". Suara keras Edo membuat Toni kembali ke dunia nyata, menghentikan keterkejutannya tadi.


γ€€


"Astaga, Edo ", cepat Toni mendekat ke arah Edo yang terlihat sangat tersudut dengan tangan di piting kebelakang.


γ€€


"Tolong, tolong lepaskan teman saya. Kami benar-benar minta maaf ".Β  Ucap Toni setengah bermohon.


γ€€


"Lepaskan dia dan kawal mereka keluar dari hotel ini ! Pastikan mereka tidak kembali lagi ke dalam sampai tuan dan yang lainny selesai !" Tiba-tiba Kristo sudah berdiri di dekat si lelaki berbadan tegap. Toni melihat ke arah Kristo, meskipun dirinya tidak mengenal siapakan sosok Kristo, tetapi Toni bisa mengingat kalau Kristo tadi ikut berdiri di sebelah tante Winata, saat dirinya menyapa Ibu dari Aisakha itu.


γ€€


Kristo memandang sekilas pada Toni dengan arti tatapan yang tidak bisa diartikan. Sesaat kemudian memandang ke arah Edo dengan tatapan penuh permusuhan, penuh kebencian. Toni menelan sulivannya sendiri, jakunnya bergerak pelan, nyalinya menciut. Sepertinya ulah Edo sudah membuat Kristo marah, marah besar tepatnya begitulah kira-kira isi pikiran Toni saat ini.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


EPILOG.....


γ€€


"Benar dugaanku, lelaki yang menyapa nyonya tadi adalah sahabat dari lelaki busuk di masa lalu nona. Astaga, kalau tuan sampai tahu, entah apa yang akan terjadi ? Untung saja keributan ini bisa di redam cepat ". Guman Kristo pada diri sendiri sambil memandangi Edo dan Toni yang tengah di kawal menjauh dari aula, bahkan dari hotel berbintang milik sang tuan.


γ€€


"Kalian jaga di luar !" Perintah Kristo pada 4 orang pengawal kepercayaanya. "Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi ! Saya tidak ingin tuan terganggu dengan kekacauan serupa !"


γ€€


Dan Kristo pun melihat 4 orang suruhannya itu menunduk patuh, mereka pun sangat paham isi perintah Kristo barusan. Dengan sigap, keempat lelaki berpakaian serba hitam ini langsung berdiri mengambil posisi siaga masing-masing. Mereka segera bekerja, menjalankan perintah orang kepercayaan tuan Aisakha.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2