SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
36


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Sambil menunggu Nia mandi di kamar mandinya pada apartemen gadis cantik ini, Aisakha memilih turun sebentar ke lantai satu, ke arah meja makan Nia. Pakde dan Bibi terlihat duduk menunggu dengan tidak sabarnya di meja makan tersebut, berharap Nia akan segera turun dan memberi penjelasan pada mereka. Pakde dan Bibi hanya melihat Nia sesaat, sebelum sang tuan tampan membawa Nia naik ke lantai atas, ke kamar tidurnya. Padahal ada banyak pertanyaan yang telah memenuhi benak pasangan suami isteri yang sangat menyayangi Nia ini. Tetapi apa mau di kata, Nia hanya menyapa Pakde dan Bibi sesaat sambil memaksakan diri untuk tersenyum, senyum kaku di sudut bibir kecil Nia.


γ€€


"Bi, tolong buatkan susu hangat untuk Nia. Kemudian bawakan juga makan malam Nia ke atas. Saya minta waktu sebentar bersama Nia, saya harus berbicara dengannya !" Suara Aisakha terdengar dingin.


γ€€


"Bagaimana keadaan si non tuan ? Dimana tuan menenukan non ?" Bukan membiarkan kesempatan sang isteri menjawab perintah Aisakha barusan, yang ada Pakde malah mengajukan pertanyaan pada tuan tampan ini. "Den Bowo gimana tuan, apa maunya dia sama non sampe bawa si non diam-diam ?" Bibi menganguk cepat sebagai isyarat dukungan pada sang suami, sejujurnya rasa penasaran Bibi sama besarnya dengan Pakde.


γ€€


"Nia baik-baik saja ". Aisakha memilih kata-kata singkat tersebut sebagai jawaban atas semua pertanyaan pasangan suami isteri itu yang malah memberi pandangan mata tidak puas padanya.


γ€€


"Tolong kerjakan apa yang saya bilang tadi ". Aisakha segera berlalu, dirinya ingin segera menemui Nia, menurut hitungan waktunya Nia mungkin sudah selesai mandi saat ini.


γ€€


"Baik tuan ", Bibi menyempatkan diri menjawab perintah Aisakha padanya tepat di saat langkah kaki Aisakha hampir sampai di anak tangga pertama apartemen Nia.


γ€€


****************


γ€€


Sesaat ada keraguan di dalam hati kecil Edo untuk turun dari mobil mewahnya. Padahal si sopir kepercayaannya sudah hampir 2 menit berdiri membukakan pintu bagian belakang, tempat Edo duduk.


γ€€


Aku sangat lelah, aku ingin istirahat. Tapi Mama pasti tidak akan melepaskan aku melenggang masuk ke kamar begitu saja. Ah, Mama pasti sibuk membahas masalah Kemala lagi dan akhirnya kepalaku akan terasa berdenyut. Edo merubah duduknya menjadi bersandar di sandaran kursi mobil.


γ€€


"Ada masalah tuan ?" Sopir pribadi Edo gagal menemukan alasan Edo masih memilih duduk di dalam mobil yang tadi di kemudikannya.


γ€€

__ADS_1


"Tidak, tidak ada. Saya hanya agak capek ". Jawab Edo berbohong sambil memejamkan matanya. "Bagaimana keadaan Kemala saat kau antar ke tempat katering tadi ?" Tanpa membuka matanya, Edo mengajukan pertanyaan pada si sopir.


γ€€


"Maaf tuan, tapi saya lihat nona Kemala bersedih ". Meskipun sempat ragu, akhirnya si sopir memilih jujur pada Edo.


γ€€


Bagaimana ini ? Kenapa aku begitu tega membuat Kemala bersedih ? Edo memijat pelan keningnya.


Tapi aku tidak salah dong bersikap seperti ini ? Salah dia sendiri, padahal sudahku jelaskan sejak awal kalau aku tidak mencintainya.


γ€€


*******************


γ€€


"Sudah selesai ?" Ternyata perhitungan waktu Aisakha sangat pas, dirinya sampai di pintu kamar Nia tepat di saat Nia akan mengeringkan rambut panjangnya mengunakan sebuah handuk.


γ€€


"Iya ". Jawab Nia cepat sambil memandang mata biru Aisakha.


γ€€


γ€€


Nia cukup patuh, tanpa suara apa lagi penolakan, Nia cepat mendudukkan bokongnya di kursi rias tempat yang Aisakha tunjukkan padanya.


γ€€


Perlahan, dengan gerakan lembut tangan Aisakha terlihat sangat telaten mengerakkan handuk Nia merata keseluruh area rambut panjang gadis cantik itu. Tanpa sepatah katapun Aisakha terus melakukan semuanya dan Nia ternyata juga memilih diam, entah kenapa di dalam hati kecilnya, Nia mulai merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar pada kekasih tercintanya, Aisakha.


γ€€


"Apa kali ini cara kerjaku masih melebihi bagusnya hasil kerja para pesalon kondang itu ?" Aisakha menatap mata Nia yang terpantul di kaca meja riasnya.


γ€€


"Emmmm.... ", Nia berpura-pura berpikir sesaat. "Sepertinya, di kali kedua ini Mas makin hebat saja ". Puji Nia lengkap dengan senyum manisnya.


γ€€

__ADS_1


"Kalau begitu aku boleh meminta hadiah padamukan ?" Nia melihat ekspresi di wajah tampan kekasihnya itu masih sama, masih ada pancaran kekhawatiran mendalam.


γ€€


"Tentu saja, buat kekasihku tersayang apa saja pasti akan aku berikan ". Nia berusaha mempertahankan senyum manisnya pada Aisakha.


γ€€


"Bagus, aku akan segera mengajukannya padamu ". Aisakha selesai dengan handuk di rambut Nia, menurut penglihatannya rambut Nia sudah cukup kering. "Sisir ?" Aisakha meminta Nia mengambil sisir rambutnya di atas meja rias.


γ€€


"Baiklah, sudah semua ". Aisakha memandang Nia lama setelah menyelesaikan tugas beratnya untuk membuat rambut indah berkilau Nia kembali seperti awal.


γ€€


****************


γ€€


Bibi Ros dan Paman masih terlihat asyik berdiskusi di ruang keluarga. Mereka sedang membahas calon Ibu mertua Nia yang tadi menelepon Bibi dan meminta waktu untuk bertemu pagi besok. "Ada sesuatu yang harus segera di bahas ". Itu kalimat inti pembicaraan Bibi dan Mama Aisakha tadi, hingga akhirnya membuat Bibi menjadi penasaran dan sekarang malah Paman pun juga ikut penasaran setelah mendengar cerita sang isteri.


γ€€


"Enggak ada gituh sedikit bocoran dari calon besan kita tentang urusan penting yang dimaksdunya Ma ?"Β Paman memilih duduk di singel sofa yang persisi berada di samping kanan kursi roda sang isteri.


γ€€


"Nggak ada suamiku, cuma bilang gitu aja ". Bibi mengangkat kedua bahunya bingung.


γ€€


"Emm..ada apa ya kira-kira. Padahal selama ini kalau beliau itu mau berkunjung ke sini kita selalu menerima dengan sangat senang, gak pake pemberitahuan segala. Kenapa sekarang pake pemberitahuan segala ya Ma, kok rasanya sangat formal ?" Paman memegang tangan sang isteri yang berada di atas gagang kursi roda.


γ€€


"Apa Nia buat kesalahan ya suamiku, jadi calon mertuanya mau protes sama kelakuan anak gadis kita ?" Bibi memulai spekulasinya.


γ€€


"Kalau itu aku gak bisa percaya Ma, gadis selembut dan sepolos Nia bisa membuat kesalahan ? Enggak deh Ma, Nia itu orangnya baik, hatinya tulus. Pasti bukan karena itu Ma ". Paman terlihat cukup percaya diri.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2