
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Kanapa ?" Tanya Aisakha saat Nia duduk terdiam di balkon kamar tidurnya. Padahal hari sudah mulai menanjak malam, tetapi Nia malah masih bertahan di sana.
 
"Gak ada sayang, aku sedang menatap rembulan. Indah banget, lagi bulan purnama ". Nia sekarang sudah duduk di dalam pangkuan Aisakha.
 
"Rembulan itu bukan apa-apa di bandingkan bidadariku ini ". Aisakha memeluk Nia erat.
 
"Udah, jangan gombal lagi deh ". Nia mencoel puncak hidung Aisakha.
 
"Gombal sama isteri sendiri apa salahnya, bagus malah !" Aisakha terlihat tersenyum semangat 45.
 
"Tapi aku malu sayang ". Nia menyembunyikan dariya di dada Aisakha.
 
"Masih malu juga ?" Tanya Aisakha tidak percaya. "Kan hanya ada kita, apa yang harus di malukan, apa lagi sama suami sendiri ?"
 
"Habisnya, aku enggak pernah di gituin seumur-umur. Jadi rasanya malu banget ". Aku Nia jujur.
 
"Tapi tungguh deh, kamu kok pinter ngegombal sih ? Jangan-jangan sudah banyak wanita yang kamu gombalinya ?" Nia mengangkat wajahnya, mendongak menatap Aisakha penuh selidik.
 
"Mana mungkin isteriku. Aku hanya punya kamu, dari dulu sampai akhir waktuku ". Ucap Aisakha bersungguh-sungguh.
 
"Aku terlalu mencintai kamu soalnya ". Nia masih menatap wajah Aisakha penuh selidik.
 
"Awas ya kalau berani gombalin wanita lain ". Ancam Nia sambil menyipitkan bola matanya. "Aku bakalan cari laki-laki lain ".
 
"Dan aku akan melenyapkan lelaki itu ", jawab Aisakha santai tanpa beban.
 
"Sayangggg, kamu buat aku merinding saja ". Nia terlihat agak kaget.
 
__ADS_1
"Ya, mau gimana lagi. Menganggu milikku sama saja dengan sudah siap meninggalkan dunia ini. Jadi, siapapun orangnya harus berani terima konsekuensinya ". Aisakha mencium pipi Nia. "Isteri aku hanya milik aku dan hanya boleh cinta sama aku, selamanya !"
 
"Terima kasih ya, sudah sangat mencintai aku ", Nia membalas mencium pipi Aisakha.
 
Lama mereka tengelam dalam suasana malam nan romantis, saling berpelukan dan memadu kasih disaksikan rembulan yang mengintip iri. Aisakha memang sangat pandai memanjakan Nia, membuat Nia yang pemalu ini belajar mengekspresikan diri. Sungguh tersanjungnya Nia dengan segala sikap manis suaminya itu, terlalu manis sampai Nia masih sulit pecaya kalau Tuhan memang telah memberikan dirinya sosok lelaki terbaik di dunia ini sebagai suaminya.
 
"Ada apa ?" Tanya Aisakha yang melihat Nia masih asyik menikmati indahnya pancaran bulan yang menerangi pelukan meraka.
 
"Sayang, dulu semasa aku masih kecil. Ibu pernah bilang kalau suatu hari nanti aku rindu pada ayah dan ibu, maka pandangilah rembulan. Karena bulan akan senang hati menyampaikan rasa rinduku pada mereka, dimanapun mereka berada ". Nia berbicara masih dengan menatap bulan nun jauh di sana.
 
 
"Apa yang sedang menganggumi, Nia ?" Tanya Aisakha sambil mengerakkan dagu Nia agar menatap matanya.
 
"Aku, aku tiba-tiba rindu rumah ". Nia memaksa tersenyum.
 
"Ini rumahmu jugakan ? Atau kamu mau aku bawa ke Villa, ke rumah kita di sana ? Atau kita pulang ke Jakarta, begitu ?" Tanya Aisakha heran.
 
 
Aisakha melihat mata Nia mulai berkaca-kaca.
 
"Sudah malam, udaranya sudah mulai dingin. Aku gendong ke dalam ya, aku tungguin sampe tidur !" Aisakha mengalihkan perhatian Nia.
 
Dengan lembut dan sepenuh jiwa, Aisakha mengendong Nia dan membaringkan Nia di ranjang beralas seprai berwarna putih bersih. Dan seperti biasa, seperti malam sebelumnya, Nia akan menjadikan paha sang suami sebagai penyangga kepalanya. Aisakha pun akan sabar membelai rambut panjang sang isteri, menunggui sampai wanita pujaannya itu terlelap. Barulah setelah itu Aisakha akan beranjak meninggalkan Nia terlelap dalam mimpi indahnya, dan beralih ke kamar sebelah.
 
 
"Tunggulah sampai kita tiba di Jakarta isteriku, aku punya kejutan untukmu ". Ucap Aisakha pelan pada sosok Nia yang sudah tertidur nyaman, tepat di saat dirinya akan menutup pintu kamar Nia.
 
 
********************
 
__ADS_1
"Sudah malam, kita lanjutkan besok saja gimana ?" Seorang wanita cantik dengan kulit putih mendekati kubit meja kerja si lelaki muda yang masih setia bekerja di anak cabang perusahaan milik Aisakha di Kota Lampung Selatan.
 
"Duluan saja, aku nanggung nih ", jawab lelaki itu tanpa menatap wajah orang yang menyapanya.
 
"Aku tungguin ya. Soalnya udah malem, aku takut keluar sendirian. Koridornya gelap ". Wanita cantik itu mencoba merayu.
 
"Kan yang lain masih ada, sama mereka saja ! Jangan ganggu aku !" Suara kesal lelaki muda itu.
 
"Ah, kamu ini. Aku minta tolong aja segitu sombongnya ". Rutuk wanita ini kesal dan berlalu begitu saja dengan perasaan marah akibat sebuah penolakan.
 
"Buruk sekali perilakunya, cih. Suka mengoda ". Upat lelaki itu. "Beda dengan Nia, dia lembut dan sulit di taklukkan. Dia cerdas dan sangat menawan ". Seulas senyum menghiasai wajah lelahnya. "Memang hanya Nia yang terbaik untukku ".
 
"Mas rindu kamu, Nia ". Ucap lelaki itu penuh percaya diri pada dirinya sendiri.
 
"Kamu lagi ngapain sayang ?" Tanyanya sambil mengkhayal jauh.
 
Suasana malam, sepinya ruang kerja, sepertinya semua mendukung pikirannya yang terbang jauh entah kemana. Lelaki ini senyam-senyum bahagia sambil terus menyebut nama Nia.
 
Hingga...
 
"Eh, udah baca berita terbaru tentang pernikahan Presdir kita ?" Suara wanita yang mungkin sedang bertanya pada seseorang, tetapi entah siapa.
 
"Iya, aku sudah 2 hari ini memang kepo banget sama siaran beritanya ". Jawab wanita lain yang suaranya terdengar berjalan mendekat ke arah kubit meja kerjanya. "Aku nggak habis pikir loh, ternyata yang berhasil memenangkan hati milyader super tampan itu hanyalah gadis biasa seperti kita-kita ". Terdengar suara pujian yang dalam.
 
"Pasti isteri Presdir kita itu sangat spesial ya, hingga bisa membuat Persdir takluk padanya ?" Suara lain juga terdengar antusia. "Tapi aku harus jujur, isteri Presdir memang sangat cantik ".
 
"Mereka pasangan sejati, aku suka sekali deh melihatnya, cocok banget ". Kembali terdengar pujian tulus penuh rasa takjub.
 
Serasi, cocok ? Cih...siapa bilang Niaku cocok bersama Aisakha ? Nia itu, hanya cocok sama aku, cinta sejatinya.Â
Gerutu lelaki muda itu di dalam kubit meja kerjanya.
__ADS_1