SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 102


__ADS_3

Pergi


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia masih bertahan ditempatnya berdiri, semua sisa kesadaran yang ada pada dirinya masih mencoba membantunya berpikir. Jelas, dirinya melihat dengan baik bahkan secara langsung, bagaimana tangan Aisakha yang begitu lembut dan selalu melindunginya itu terangkat dan mengayun kuat ke arah wajah Kristo, hingga meninggalkan bekas merah dan tetesan darah di sudut bibir sekretarisnya itu. Nia bisa mengingat detail kejadian yang membuat dia bergidik takut.


γ€€


"Nia". Aisakha memanggil Nia dengan lembut. Dan yang di panggil hanya diam mematung.


γ€€


"Sayang". Aisakha mencoba mendekati Nia, merasa heran karena sang kekasih hanya diam tak bergeming.


γ€€


Nia melihat kaki Aisakha bergerak, melangkah pelan ke arahnya. Spontan, Nia malah memundurkan posisi berdirinya.


γ€€


Loh, kok menghindar? Aisakha tahu kalau Nia baru saja melangkah mundur.Β Kenapa?


γ€€


Paman melihat reaksi sang keponakan, Paman pum menarik kesimpulan ini adalah kali pertama bagi Nia melihat Aisakha begitu marahnya. Pasti Nia takut. Paman bisa mengartikan gerakan langkah mundur Nia sebagai wujud menghindar sang keponakan dari Aisakha.


γ€€


Bagus, aku akan memanfaatkan situasi ini. Paman tersenyum senang. "Lihat, kamu lihat Nia. Begitu mudahnya tangannya terangkat. Seperti itulah orang kaya nak, mereka suka semena-mena". Paman mulai memprovokasi Nia.


γ€€


"Kamu masih yakin mencintai lelaki itu?" Tanya Paman sambil menunjuk kearah Aisakha. "Pikirkan Nia, pikirkan!"


γ€€


Nia menatap Paman, kemudian beralih menatap Aisakha, hingga tertunduk lemah mengingat rekaman tamparan keras Aisakha di wajah Kristo tadi.


γ€€


"Nia, sayang". Aisakha mencoba memanggil Nia. Nia malihat kearah suara yang memanggilnya dan seketika itu dia menjadi takut saat matanya beradu pandang dengan mata biru Aisakha.


γ€€

__ADS_1


Ahhh, kenapa malah jadi begini? Kamu takut sayang, kamu takut padaku? Benarkah Nia, kamu takut padaku saat ini? Aisakha.


γ€€


"Jangan takut, aku mohon, jangan takut". Aisakha berusaha mendekat ke arah Nia. Dan Nia kembali mundur beberapa langkah.


γ€€


Ohh, sial....kenapa malah Nia jadi takut padaku. Aisakha merasa sangat tidak berdaya.


γ€€


"Paman sudah bilang nak, orang kaya dimana-mana sama. Tidak dulu tidak sekarang, lihat, lihat itu. Kepada orang biasa mereka bebas berbuat apa saja. Dan kamu tau, itu bisa terjadi padamu juga". Paman masih terus memprovokasi Nia.


γ€€


"Hey, Pak tua. Tutup mulutmu. Tuan bukanlah orang seperti itu". Rasa kesal Kristo kepada Paman kembali terpancing, sepertinya tamparan keras Aisakha di wajahnya tidak membuat niat Kristo membela sang tuan surut.


γ€€


"Masih berani kamu bersuara". Dengan mata di buat melotot besar, Aisakha membentak Kristo.


γ€€


γ€€


"Paman, tadi itu hanya refleks. Saya tidak bermaksud demikian. Nia sangat tau itu, saya...seumur hidup saya, saya hanya bisa mencintai Nia, Paman. Bukan menyakitinya". Aisakha mencoba membuat Paman berhenti memanipulasi jalan pikiran Nia yang sedang kacau.


γ€€


"Nia, sekali lagi Paman tanya". Dengan sikap tegas Paman menatap pada Nia. "Benar kamu mencintai lelaki itu?" Tunjuk Paman pada Aisakha. "Ingat Nia, bagaimana dulu orang kaya mengusir kamu begitu saja. Dan sekarang, lihatlah apa yang mampu lelaki itu lakukan dengan tangannya".


γ€€


Nia hanya memandang Paman dengan tatapan bingung. Bayangan dirinya di dorong keras oleh Tante Sandara saat tengah bersimpuh di kedua kaki Ibu dari lelaki yang dicintainya pada masa lalu kembali hadir. Padahal saat itu, dirinya tengah bersimpuh dan memohon pada Tante Sandara untuk cinta yang dimiliknya pada Edo. Tapi balasannya, Tante Sandara mendorong Nia keras lengkap dengan kata makian.


γ€€


Nia kembali mundur satu langkah. Dia bingung, wajah marah Tante Sandara kembali hadir didepannya, kemudian wajah marah Aisakha dengan tamparan kerasnya tadi juga mengisi memorinya saat ini. Nia jelas takut, sangat takut, tapi benarkah dia takut pada Aisakha? Nia tidak bisa menjawab itu semua, tetapi sejujurnya Nia tidak pernah menduga kalau Aisakha mampu melakukan hal tadi.


γ€€


"Sayang, demi Tuhan. Aku sangat mencintaimu". Aisakha masih mencoba membujuk Nia.


γ€€

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa jadi begini? Kenapa Nia malah jadi takut padaku. Aisakha mengusapa kasar wajahnya.


γ€€


"Sudah tuan, cukup. Sikap Nia sudah memberikan jawaban buat saya". Paman menghentikan Aisakha yang masih mencoba menenangkan Nia.


γ€€


"Paman, demi Tuhan. Saya tidak akan pernah menyakiti Nia. Saya mohon percayalah". Aisakha terlihat sangat hancur saat ini.


γ€€


"Tuan, pergilah". Paman meminta Aisakha pergi. "Saya, saya tahu seumur hidup saya, saya tidak akan mampu membalas semua kebaikan tuan pada keluarga saya. Pada isteri saya tercinta. Tapi tuan, sudahi semua ini. Saya mohon tolong tinggalkan kami". Paman melipat kedua tangannya di depan wajah dan terlihat tulus mengajukan permohonan pada Aisakha.


γ€€


"Paman". Aisakha terlihat berkaca-kaca, hatinya hancur melihat wanita yang dicintainya malah menjauh darinya, pedih sekali rasa yang harus ditanggungnya saat tahu Nia malah menjadi takut kepada dirinya. Mata indah Nia yang tadi sempat memancarkan aura bintang kebahagiaan, sekarang beralih pancaran suram penuh ketidak berdayaan.


γ€€


"Pergilah, tinggalkan kami". Ucap Paman lirih dengan tangan yang masih menyatu di depan wajah tuanya.


γ€€


Aisakha menatap Nia, memastikan masih ada harapan di dalam bola mata coklat itu. Berharap masih ada sisa kebahagiaan dari Nia yang sesaat tadi berani jujur menyatakan cintanya pada dirinya. Sayang, Nia hanya menunduk diam bak patung lilin yang tidak berdaya. Membiarkan Aisakha dengan sangat terpaksa memilih pergi.


γ€€


Aisakha berbalik, siap melangkahkan kakinya keluar. Semua terasa sakit, sangat sakit sampai dia harus memegang dadanya sendiri.


γ€€


Kristo tidak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan saat ini. Yang jelas, dia merasa sangat bersalah atas rasa sakit yang tengah di tahan sang majikan. "Tuan". Hanya itu kata yang mampu diucapkannya.


γ€€


"Ayo". Aisakha mengajak Kristo pergi.


γ€€


Cepat Kristo berjalan di depan, membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Aisakha berjalan terlebih dahulu.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2