SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 87


__ADS_3

Ini Aku (1)


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia mulai merasa lelah, bayangan keadaan Bibi Ros yang menurun membuat dirinya semakin terpuruk. Ada rasa takut yang sangat besar, ada rasa sakit yang sangat dalam, menusuk relung hatinya. Sakit sangat sakit, hingga membuat seluruh tenaganya terkuras habis untuk menahan semuanya.


γ€€


Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Aku takut, sangat takut.


γ€€


Nia butuh penopang, lelah dihatinya telah turun hingga kekedua kakinya saat ini, pelan Nia bersandar pada ujung tembok kamar operasi. Mencoba meresap dinginnya dinding untuk menenangkan hatinya, sayang. Sepertinya itu tidak berhasil, perasaannya tetap tidak bisa nyaman, tidak ada perubahan. Sakit yang menusuk di relung hatinya terus saja berada di sana, semakin dalam.


γ€€


Tuhan, tolonglah Bibi..aku mohon. Aku sangat menyayangi Bibi, hanya Bibi orang tuaku. Tolonglah Tuhan, kasihanilah aku, aku mohon, sehatkan Bibi, aku mohonnnn.


γ€€


Kaki yang menopang berat badan Nia mulai goyah, mulai menyerah menahan beratnya duka yang tengah di tanggung gadis cantik itu. Pelan, tubuh Nia yang bersandar di tembok mulai sedikit demi sedikit turun, hingga dirinya berakhir di lantai. Terduduk di lantai.


γ€€


"Paaaakk, si non". Bibi panik, menguncang bahu Pakde sambil menunjuk pada Nia.


γ€€

__ADS_1


"Ya Tuhan, non". Pakde menarik tangan Bi Kartik, istrinya agar segera mendekat pada Nia.


γ€€


Bowo pun berjalan cepat di belakang pasangan suami istri yang bekerja pada Nia itu. Kaget, Bowo tidak menyangka pertahanan tameng kepura-puraan tegar seorang Syania akan runtuh juga.Β Kasihan kamu Nia.


γ€€


Kuat Nia, kuat...kasihan Alika kalau kamu kenapa-napa.Β Pandu hanya bisa menatap iba pada Nia, tidak tahu harus memberikan semangat terbaik jenis apa untuk sepupu isterinya itu. Tolonglah Mama, Tuhan. Aku mohon, tolong Mama. Kami semua butuh Mama, kami sangat sayang sama Mama.


γ€€


"Non, non". Bibi memegang erat kedua tangan Nia, mencoba melepaskan kedua tangan tersebut dari genggaman erat Nia pada lapisan kain yang melekat didadanya.


γ€€


γ€€


"Non". Sekarang Pakde yang mencoba memegang lengan Nia, berusaha untuk membuat Nia berdiri kembali.


γ€€


Nia diam, mengacuhkan Bibi dan Pakde. Menepis keras tangan mereka, dia tidak ingin di dekati siapa pun saat ini. Nia memejamkan matanya, menutup rapat kedua telinganya, sangat eratnya sampai-sampai jemari tangannya menjadi tegang.


γ€€


"Non, non, hiksss". Bi Kartik mulai menangis melihat Nia, dia benar-benar tidak tega melihat majikan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu berada dalam kondisi seperti ini.


γ€€

__ADS_1


Nia menggelengkan kepalanya, masih bertahan dengan memejamkan mata dan menutup rapat telinganya. Dirinya ingin sendiri, ingin merasakan semua perasaan sedih ini sendiri saja.


γ€€


Bibi menatap Pakde, memohon bantuan suaminya agar membujuk Nia. Tetapi sayang, Pakde sendiri tidak tahu harus apa. Dia hanya bisa menepuk pelan bahu istrinya agar berhenti menangis.


γ€€


Andai bisa, pindahkan saja Tuhan sakitnya Nyonya Ros pada saya, supaya si non enggak sesedih ini... Pakde begitu iba melihat kondisi terpuruk Nia.


γ€€


"Pak, hikss". Bibi neteskan air matanya, masih berusaha membujuk sang suami agar mencari cara membuat Nia tidak tengelam dalam dukanya.


γ€€


Semua hanya bisa menonton, memperhatikan Nia. Bowo, Bi kartik, Pakde dan Pandu, semua tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka kehabisan akal untuk membujuk Nia, untuk menghibur Nia, untuk menenangkan Nia, semua hanya bisa berdoa di dalam hati masing-masing demi kebaikan Nia.


γ€€


Di ujung lorong, tinggal meter lagi, langkah kaki Aisakha sudah akan memasuki ruang operasi. Hatinya semakin cemas, level kekhawatirannya telah sampai di angka 9, bayangan Nia yang terpuruk mulai memenuhi setiap inci matanya.


γ€€


Kristo berjalan di belakang Aisakha, berusaha mengimbangi langkah kaki sang majikan. "Tenang tuan". Kristo berujar di belakang bahu Aisakha.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2