
Makan Siang
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Waktu terus berjalan, berputar sebagaimana harusnya dan berlalu dengan cepatnya. Semua sedang menikmati aktivitas masing-masing di dalam laboratorium. Sedang tengelam dalam rutinitas masing-masing, namum dalam sekejam putaran waktu berhenti di angka penanda bahwa jam makan siang sudah tiba. Andai saja putaran waktu tidak berada di titik itu, mungkin Nia akan mengabaikan suara merontan dari dalam perutnya yang terdengar memohon agar segera di isi dan lebih memilih bertahan pada pekerjaan yang sedang digelutinya, berada pada dunia rumus dan angka hingga berakhir di takaran inovasi baru. Tetapi untuk kali ini, Nia memilih menyudahi dulu semua inovasinya. Bayangan akan makan siang bersama Aisakha, kekasih tercintanya dan para sahabat-sahabatnya sepertinya lebih mengoda hati Nia. Nia sangat antusia, dia ingin cepat-cepat memperkenalkan rekan seprofesinya sekaligus sahabat-sahabatnya itu pada Aisakha. Dalam khayalan Nia, suasananya pasti akan seru.
 
"Kita lanjutkan nanti ?" Bowo sudah berdiri di samping Nia.
 
"Nggak boleh bentar lagi ?" Nia memperhatikan sekelilingnya, ternyata Wulan, Resya, dan Anita sudah melepas jas lab mereka dan bersiap keluar laboratorium.
 
"Nanti lagi ya, kita makan dulu !" Bowo tersenyum pada Nia. "Lihat", tunjuk Bowo kearah Wulan, Resya dan Anita. "Sepertinya mereka sudah sangat kelaparan".
 
"Hahahaha". Nia tertawa geli. "Benarkah ?"
 
"Iya, mereka dari tadi manggill-manggil kamu loh. Tapi...?" Bowo mengangkat kedua bahunya. "Dari pada mereka pingsan dan menimbulkan kegemparan di sini. Bagus kita makan dulu. Ayo !" Bowo mengengam jemari Nia.
 
"Maaf Pak". Damar pengawal Nia berjalan cepat kerah Nia. "Tolong lepaskan tangan anda dari nona !" Damar memasang wajah tidak suka kepada Bowo. "Jangan pernah menyentuh nona !" Ada nada ancaman dari sorot mata Damar.
 
Sial..aku lupa pada pengawal ini. Heh, merusak suasana saja. Padahal akukan cuma pegang tangan saja, apa yang salah coba ? Heh, membuat kesal saja. Dengan berat hari Bowo pun melepas gengaman tangannya dari jemari Nia.
 
"Jangan marah sama Bowo". Nia mencoba menyudahi suasana yang mendadak aneh menurutnya. "Bowo hanya mau menjauhkan saya dari pekerjaan saja". Nia berusaha membela Bowo di depan pengawalnya.
 
"Maaf nona, saya hanya menjalankan tugas. Mari nona". Damar menunduk hormat dan mempersilahkan Nia berjalan duluan.
 
"Ayo Wo ". Sebelum berjalan Nia, menyempatkan diri mengajak Bowo. Bowo hanya mengangguk dan tersenyum pada Nia. Tapi di saat Nia telah berbalik membelakanginya, senyum manis Bowo langsung hilang berganti tatapan penuh permusuhan pada Damar.
 
"Mana hape saya ?" Tanya Nia pada Damar sambil berjalan menuju ruang kerjanya. "Saya mau menghubungi Presdir. Kami mau makan siang bersama". Nia terlihat bahagia.
 
"Ini nona". Dengan sopan Damar menyerahkan handphone Nia kembali pada si punya.
 
Nia menekan sebuah nama pada kontak di layar handphonenya sambil berjalan menjauh dari Damar. Damar sesaat terpaku pada Nia, wajah cantik yang terlihat tengah tersenyum bahagia dan bersahaja dengan makeup ala kadar. Justru menambah tingkat kecantikan Nia di mata Damar. Diam-diam Damar menggagumi Nia dengan segala tampilan pada dirinya.
 
__ADS_1
Ternyata sangat mudah membuat nona bahagia, hanya dengan kata makan siang bersama sudah membuat nona tersenyum secerah senja sore hari. Beruntungnya tuan Aisakha memiliki pendamping seperti nona, bersahaja, cantik dan pintar. Wajar tuan sangat marah saat tahu aku memandangi nona tadi. Hahahaha...nona, nona anda benar-benar bisa membuat orang gagal fokus.
 
"Ada yang salah ?" Nia menyadari kalau Damar tengah sibuk memperhatikan dirinya.
 
"Maaf nona". Damar langsung menunduk malu karena tertangkap basah oleh Nia tengah memperhatikannya. "Sudah meneleponnya nona ?" Damar mengalihkan perhatian Nia.
 
"Sudah, Presdir sedang jalan ke sini. Ooo, iya. Sudah beberapa jam kamu bersama saya, tetapi saya belum tahu nama kamu". Tanya Nia sambil berjalan ke dalam ruang kerjanya. Damar terlihat mengikuti langkah kaki Nia dari belakang.
 
"Nama saya Damar, nona".
 
"Kalian berduakan ?"
 
"Benar nona. Pengawal yang satu lagi namanya Satriyo, nona". Nia terlihat menganggukan kepalanya.
 
"Kalau gituh salam kenal ya. Saya Syania, biasa di panggil Nia". Nia tersenyum ramah pada Damar.
 
 
"Sebentar ya, saya ambil tas dulu". Nia meninggalkan Damar di pintu ruang kerjanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
 
"Akhirnya kamu lepas juga dari papan tulismu itu Nia". Wulan terlihat sudah bersiap.
 
"Hehehe, maaf". Nia pun mengarut pelan ujung keningnya. Walaupun sebenarnya tidak gatal sama sekali, tetapi entah kenapa Nia merasa perlu melakukan itu.
 
"Aku penasaran deh, saat kamu sudah menyandang status sebagai nyonya Presdir. Apakah kamu masih betah berlama-lama dengan papan tulis kamu itu ?" Resya duduk di kursi Nia.
 
"Iya juga ya Sya". Wulan terlihat seperti sedang berpikir. "Nia, kalau kamu udah nikah sama Presdir besok. Apakah kamu masih bekerja bareng kita ?" Pertanyaan Wulan membuat Nia berhenti dari kegiatan mengemas barang-barangnya ke dalam tas tangan.
 
Aku harus jawab apa ya ? Aku sendiri juga gak tahu seperti apa kelanjutan karirku setelah menikah nanti. Apa aku masih boleh kerja sama Mas ? Tapi kalau aku berkeras ingin kerja, bagaimana nasib pernikahan kami ? Masa iya aku pisah sama Mas hanya demi karirku saja ? Ah, aku bingung teman-teman.
 
"Hey..kok kamu diam ?" Resya menyentuh tangan Nia. "Ada apa ?"
 
__ADS_1
"Eh, enggak". Nia berpura-pura sibuk kembali dengan menyusun beberapa barang masuk ke dalam tas tangannya.
 
"Kamu belum membicarakan masalah kelanjutan kerjaan kamu sama Presdir ya Nia ?"
Deg......Nia kembali diam. Tiba-tiba saja Anita datang dan langsung mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tengah menganggu hati kecil Nia.
 
Wulan dan Resya menatap Nia yang hanya diam memandangi tas yang sudah di tutupnya rapi. "Benarkan, antara kamu dan Presdir belum membahas tentang apa yang kalian inginkan setelah menikah nanti ?"
Lagi, tebakkan Anita membuat Nia semakin terdiam.
 
Jawab sayang, jangan ragu. Jawab apa yang kamu inginkan ! Aku akan penuhi apapun itu buat kamu, sekalipun itu tidak masuk akal. Demi kamu, aku akan penuhi. Nia tidak menyadari bahwasanya Aisakha telah lama berdiri di pintu masuk ruangannya, bahkan saking lamanya, Aisakha telah mendengar semua pembicaraan antara Nia dan rekan-rekan seprofesinya.
 
"Jujur". Nia menarik nafas panjang, menatap ke arah Wulan, Resya, dan Anita secara bergantian. "Aku dan Presdir belum membahas sejauh itu". Sekali lagi Nia menarik nafas panjang. "Tapi aku yakin, apapun itu keputusan kami nanti untuk rumah tangga kami, maka itu adalah keputusan paling baik. Aku sangat mencintainya, aku ingin hidup berbahagia denganya". Ada pancaran ketenangan di mata Nia. Aisakha mendadak seakan terbang keudara, pengakuan Nia barusan benar-benar di luar dugaannya.
 
"Kalau begitu carilah waktu yang tepat. Bicarakanlah dengan Presdir semua yang ingin kalian bicarakan, jujur ungkapkan dari hati ke hati. Kami semua mendukung keputusan terbaik kamu Nia, kami selalu ada di belakangmu". Wulan memeluk Nia yang masih terduduk di kursinya dari belakang. "Semua yang terbaik buat kamu adalah yang paling baik buat kami. Kami hanya ingin kamu bahagia Nia". Resya dan Anita berjalan mendekat ke arah Nia, mereka pun beramai-ramai memeluk Nia, ingin memperlihatkan wujud dukungan mereka pada Nia.
 
"Terima kasih. Terima kasih ya". Nia merasa sangat tersentuh dengan ketulusan sahabat-sahabatnya itu. "Kalian memang yang terbaik. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti kalian".
 
"Eh, coba kalian dengar". Bowo berjalan mendekati Nia, Wulan, Resya, dan Anita. Membuat para sahabat wanitanya yang sedang berpelukan dalam suasana haru, mendadak menyudahi kegiatan haru biru mereka.
 
"Apa ?" Tanya Anita dengan malas.
 
"Misal nih ya, misalkan Nia berencana menetap di Jakarta setelah menikah nanti. Kenapa kita tidak minta Presdir pindahkan saja Lembaga Penelitian dan Holtikulturan ini ke Jakarta ? Jadi, Nia tetap bisa bekerja seperti biasa dan kita tetap menjadi rekan sekaligus sahabat seperti ini. Kita gak berpisahkan ?" Bowo memperhatikan Nia sedang berpikir, mencerna kata-kata Bowo barusan. Sementara Wulan, Resya dan Anita terlihat menerima ide yang baru di sampaikan Bowo. Mereka menganguk bersemangat sambil menatap bermohon pada Nia.
 
Darimana Bowo mendapat ide itu ? Apa yang ada di pikirannya? Aisakha masih bertahan di posisinya, masih terus mendengarkan apa yang tengah di bahas kekasihnya bersama sahabat-sahabatnya.
 
"Tentang itu, biarlah aku dan Presdir yang akan membahas. Seperti yang aku bilang tadi, aku ingin hidup bahagia bersamanya sekalipun hanya menjadi nyonya Aisakha dan bukan wanita karir. Asalkan bersamanya, itu sudah lebih dari cukup". Jawaban Nia membuat Bowo menjadi lesu, berbeda dengan 3 sahabat wanitanya. Mereka bersorak gembiran.
 
"Good job Nia". Ucap Wulan, Resya dan Anita bersamaan.
 
Betapa luar biasanya dirimu sayang, aku sungguh tidak sabar untuk segera meresmikan hubungan kita. Syania, Aku mencintaimu dan aku akan memberikan segala yang ada di duniaku untukmu. Dengan senyum mengembang, Aisakha melangkah masuk kedalam ruang kerja Nia di ikuti oleh Kristo dan Damar tepat di belakangnya.
 
 
__ADS_1