
Cerita (2)
πππππ
γ
"Sayang, Nia. Bisakah kamu bangun sebentar. Minum obat dulu ya". Sambil mengelus pipi Nia, Aisakha mencoba membangunkan Nia.
γ
"Niaaaa". Merasa tidak ada respon dari Nia, Aisakha mencoba membangunkan Nia sekali lagi.
γ
Pelan Nia membuka matanya, agak silau sehingga dia terpaksa mengerjabkan matanya berkali-kali. Berusaha menyesuaikan, agar matanya bisa terbiasa dengan pantulan cahaya yang berasal dari lampu. Nia pun hanya membuka sedikit matanya. Sepertinya dia tidak terlalu sadar sepenuhnya saat ini.
γ
Aisakha merubah posisi duduknya ke arah kepala Nia, merangkulnya dan membantu Nia memasukkan dua butir pil berwarna putih dan satu kapsul berwarna coklat kedalam mulut Nia. Hingga memastikan Nia telah menelan obat-obat tersebut dengan air hangat di dalam gelas yang di pegangnya.
γ
"Kepala saya pusing". Nia memegang erat kepalanya.
γ
Kok saya? Aisakha.
γ
"Sabar ya, bentar lagi kamu pasti sehat". Hibur Aisakha sambil merebahkan Nia kembali ke posisi awal. Setelah memastikan Nia nyaman dengan cara tidurnya, Aisakha mengerakkan jemarinya, memberi pijatan di kening Nia.
γ
"Saya mimpi ya?" Tanya Nia dengan mata terpejam. Entah sadar sepenuhnya entah tidak, yang jelas kepalanya memang sangat sakit saat ini.
γ
"Kenapa sayang, apa yang kamu rasakan?" Tanya Aisakha masih dengan memijat kening Nia.
γ
"Saya merasa kekasihku adalah kamu". Jawab Nia sambil mengangkat perlahan kepalanya, pindah ke pangkuan Aisakha.
γ
"Benarkah?" Tanya Aisakha heran melihat Nia yang telah menggunakan pahanya sebagai bantal.Β "Siapa dia?" Aisakha menatap wajah Nia yang terdiam di pangkuannya.
γ
"Ahhh, tapi pasti tidak mungkin. Suara kamu hanya mirip dia saja, karena kata Paman, dia telah pergi meninggalkan saya. Dia tidak menginginkan saya". Jawab Nia menceracau.
γ
Ya Tuhan...sayang, ini aku kekasihmu. Aku tidak pernah pergi, apa lagi meninggalkanmu.
γ
__ADS_1
"Tidurlah, aku akan selalu ada di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang". Ucap Aisakha sambil mengusap-usap rambut Nia.
γ
Bibi yang masih bertahan di kamar Nia setelah mengantarkan air hangat dan kompres yang di minta Aisakha, hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya. Mata Bibi terlihat berkaca-kaca, sepertinya Bibi merasa sangat iba pada Nia. Mungkin karena suhu tubuhnya yang sangat panas, sehingga dia sedikit berhalu. Merasa Aisakha hanyalah sebentuk kemiripan saja. Atau karena perasaan kecewanya yang terlalu mendalam, merasa telah di tinggalkan, sehingga membuat Nia tidak berani menyakinkan diri, bahwa Aisakha memang nyata. Aisakha tidak pernah meninggalkannya.
γ
"Tuan harus kuat". Bibi mencoba menyemangati Aisakha. "Kasihan si non, dia sangat butuh tuan".
γ
"Saya tidak habis pikir Bi, kenapa malah berakhir seperti ini". Jawab Aisakha sambil mengompres kening Nia.
γ
"Tuan tau, dulu si non pernah di paksa meninggalkan kekasihnya?" Ucap Bibi pelan. "Walaupun si non sudah bersimpuh memohon, tapi tetap di usir".
γ
"Ya", jawab Aisakha singkat. Hatinya marah, tahu bahwa dulu Nia pernah mencintai seorang lelaki yang begitu bodoh melepas Nia begitu saja. "Nia pernah cerita pada Bibi?"
γ
"Tidak tuan, Bibi tau ceritanya dari Mbok Nah, yang kerja di rumah Nyonya Ros. Si Mbok Nahlah yang memperkenalkan Bibi dan Pakde sama si non". Jawab Bibi.
γ
"Oo, iya..iya". Aisakha ingat data tentang Mbok Nah yang pernah diberikan Kristo padanya.
γ
γ
Siapa nama wanita itu? Oh..iya Sandara ya. Cih. Rutuk Aisakha kesal.
γ
"Padahal ya tuan, si non sama laki-laki itu sudah pacaran sejak di bangku kuliah. Si non mah, setia banget tuan. Sampe-sampe waktu di usir pergi, si non itu kayak orang kehilangan separuh jiwanya. Kayak apalah ya?" Bibi sedang berpikir.
γ
"Waktu itu, dulu Bi. Masa lalunya. Sekarang sayalah pemilik separuh jiwanya". Jawab Aisakha tegas.
γ
Bibi terlihat salah tingkah, merasa telah salah ucap dalam menceritakan kisah Nia pada Aisakha lengkap dengan asumsinya sendiri.Β Owallah, gomong apa aku tadi. Jadi takut aku lihat mata tuan tampan, mesti marah banget dia dengar ceritaku.
γ
"Maafkan Bibi, tuan. Yang Bibi ceritakan tadi hanyalah masa lalu si non. Kisah yang tidak berguna bagi non, tapi kalau masa depan non. Nah, baru Bibi suka. Karena tuanlah yang akan mengisi kisah masa depan non nanti bersama anak-anak yang lucu". Bibi terlihat tersenyum senang.
γ
Aamiin..semoga badai ini segera berlalu dan senja baru akan hadir mengantikan kesedihanmu sayang, aku ingin segera meminangmi Syania. Doa Aisakha sepenuh jiwa.
γ
__ADS_1
"Tidurlah Bi, sebentar lagi pagi. Pergilah beristirahat!" Perintah Aisakha pada Bibi.
γ
"Lah tuan gimana?"
γ
"Saya di sini saja". Jawab Aisakha sambil menganti kompres di kepala Nia.
γ
"Tuan". Entah sejak kapan Pakde telah hadir di pintu kamar Nia, tahu-tahu dia sudah memanggil Aisakha dari balik bahu isterinya.
γ
"Tuan istirahat saja dulu di kamar sebelah. Si non biar kami yang jaga". Pakde memberi sebuah usul pada Aisakha. "Tuan pasti lelah, dari pagi sudah sibuk dengan pekerjaan, siang berangkat ke sini dan setelah itu selalu menjaga si non". Pakde terlihat mengulang pendapat Kristo yang di sampaikan pada dirinya tadi. "Tuan juga butuh istirahat".
γ
"Saya tidak mau kalau Nia bangun saya tidak ada di sisinya". Tolak Aisakha pada Pakde.
γ
"Tuan enggak perlu kawatir. Tuan tidur bentaran saja. Nanti saat subuh, pakde bangunkan tuan. Jadi waktu si non bangun tuan ada di sini. Dan saat itu tuan sudah segaran, jadi bisa terus nemanin si non". Pakde mencoba membujuk Aisakha.
γ
Aisakha memandang wajah Nia. Wajah cantik itu terlihat teduh, tenang, tidak gelisah seperti beberapa jam yang lalu. Lama Aisakha membiarkan ibu jarinya membelai pipi Nia
γ
"Tuan, si non sangat butuh tuan. Jadi tuan harus sehat terus. Kalau tuan enggak istirahat, Pakde takut tuan malah yang tumbang setelah ini". Pakde mencoba mengajak Aisakha berpikir demi kebaikan Nia. "Lah, kalau tuan kenapa-napa. Si non gimana?" Satu pertanyaan telak dari Pakde itu, langsung membuat Aisakha menatap ke arah Pakde.
γ
"Ya, Pakde benar". Jawab Aisakha. Pelan, Aisakha merasa semua yang di sampaikan Pakde sangat masuk akal. Dia harus beristirahat, walaupun sesaat, dia harus beristirahat. Dia tidak mau terlihat kacau saat Nia bangun nanti.
γ
"Bagus". Jawab Bibi senang. "Si non biar bibi yang jaga. Tuan tidak perlu cemas". Bibi berusaha menyakinkan Aisakha.
γ
"Baiklah, tolong jaga Nia sebentar ya Bi!" Perintah Aisakha pada Bibi. "Ada apa-apa, cepat panggil saya!". Sebuah perintah baru kembali di sampaikan Aisakha kepada Bibi.
γ
"Mari tuan, Pakde antar ke kamar". Dan Pakde pun mempersilahkan Aisakha untuk beristirahat di kamar sebelah.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1