SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 43


__ADS_3

Menangis


🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Jangan menangis sayang, jangan buat langkahku menjadi sulit. Biarkan aku pergi dengan senyummu, kamu nggak maukan kalau sampe aku nggak bisa bekerja di sana, nggak bisa tidur karena merasa bersalah melihat air matamu ini?". Aisakha berusaha membuat Nia berhenti menangis.


 


Nia hanya diam, sesekali terdengar suara tangisnya. Padahal dia sudah berusaha keras menahan jangan sampai Aisakha mendengar suara tangisnya. Sedih, sedih sekali perasaannya saat ini.


 


Harus kuat, harus kuat, harus kuat..dia gak lama perginya. Dia akan kembali untukku, harus kuat Nia. Biarkan dia pergi, lepaskan dia. Belajarlah percaya padanya.


 


Nia melepaskan pelukannya dari Aisakha dan secepat kilat berusaha membersihkan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. Nia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, dia tengah berusaha tegar, kuat untuk melepaskan Aisakha. Nia berusaha memberikan senyum terbaiknya untuk Aisakha, walaupun Aisakha dapat melihat dengan jelas kalau senyum Nia sangat di paksakan.


 


"Maafkan aku, aku jadi cengeng". Ucap Nia sambil berusaha mempertahankan senyum manisnya buat Aisakha.


 


"Makasih ya". Ujar Aisakha kepada Nia.


 


"Loh, kok makasih sih?" Tanya Nia heran.


 


"Terima kasih karena sudah berani jujur pada perasaanmu sendiri". Ucap Aisakha sambil membantu Nia menghapus air matanya.

__ADS_1


 


"Apa?" Nia kembali bertanya dalam keheranannya.


 


"Air matamu bukti kalau kamu sebenarnya sayang padaku. Kamu sebenarnya berat melepaskan ku kan? Terima kasih kamu sudah jujur menunjukkannya padaku". Ucap Aisakha sambil memegang lembut pipi Nia dengan kedua tangannya.


 


Aisakha mencium kening Nia lembut dan lama, berusaha menguatkan dirinya sendiri agar bisa melepaskan wanita cantik yang sangat dicintainya itu. Akhirnya, Aisakha melepaskan Nia dan meminta Nia untuk segera masuk ke ruang kerjanya, sedang dia sendiri? Dia akan segera bersiap untuk berangkat. Kristo telah meminta pihak bandara mensiagakan pesawat pribadinya. Sehingga dia bisa segera berangkat.


 


Sekali lagi sebelum Nia benar-benar hilang di balik pintu, Aisakha menatap punggung wanita itu. Dia hanya ingin memastikan bahwa Nia baik-baik saja.


 


*************************


 


 


 


Sesaat setelah Nia selesai dari toilet ternyata Resya, Bowo dan Anita telah duduk di meja mereka masing-masing. Nia menarik nafas panjang, dia harus menyiapkan diri. Cepat atau lambat teman-temannya pasti tidak akan membiarkan kejadian kemaren berlalu begitu saja tanpa penjelasan darinya.


 


Dan benar saja, begitu ketiga temannya menyadari kalau Nia telah berdiri di depan meja kerjanya, ramai-ramai Resya dan Anita memberondong Nia dengan pertanyaan.


 


"Nia, kamu nggak papahkan? Presdir marah sama kamu? Kamu diapainnya?" Resya.

__ADS_1


 


"Niaaa...kamu dikasari ya sama presdir? Dia gak pecat kamu kan? Trus sekretarisnya itu, kamu, tas kamu kenapa dia yang jemput? Niaaaa?" Anita.


 


"Aduh, aku jawab yang mana ini?" Nia jadi bingung diberondong begitu banyak pertanyaan.


 


"Ya, terserah deh mau jawab yang mana! Yang pasti kamu harus jelaskan pada kami. Kamu tau enggak, kami kawatir banget sama kamu. Nia, presdir kenapa sih sebenarnya kemaren? Dia marahin kamu ya? Iya?" Kembali lagi Anita mendesak Nia dengan pertanyaannya.


 


"Duh Nit, kamu tuh pertanyaan banyak banget". Ujar Nia sambil geleng-geleng kepala.


 


"Nia, siapa kamu sebenarnya?" Tiba-tiba Bowo mengajukan pertanyaan yang sangat berbeda dari Resya dan Anita. Nia melonggo menatap Bowo, dia tidak percaya dengan jenis pertanyaan Bowo. Kalau yang lain masih berpikir tentang kejadian semalam hanya sebatas Nia kena marah sang presdir. Tetapi Bowo seakan bisa membaca bahwa situasi kemaren lebih dari itu.


 


Benar saja perasaan Nia selama ini, tingkat kepekaan Bowo padanya selalu beda dari teman-temannya yang lain.


 


"Hahahaha" tawa Resya dan Anita pecah setelah mendengar perrtanyaan Bowo. Kedua wanita itu merasa kalau pertanyaan Bowo tadi sangat konyol.


 


"Kamu tuh Wo, masa baru satu hari udah lupa sama Nia, hahahahaah, Bowo, Bowo". Ucap Resya sambil tetawa terbahak-bahak.


 


Sementata Nia, dia lebih memilih mendiamkan pertanyaan Bowo. Bagi Nia terlalu riskan, sekali jawab dia harus menjelaskan lengkap kalau tidak dia akan terjebak dalam pertanyaan Bowo. Bowo bukan tipe orang yang mudah di bohongi, salah berucap Bowo pasti akan merasa ada yang salah. Jadi Nia lebih memilih hanya tersenyum sambil melihat Resya dan Anita yang sibuk menahan tawa mereka.

__ADS_1


 


 


__ADS_2