SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 52


__ADS_3

Masih Bersama Mama


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Dengan tenang, Nia mengeluarkan satu persatu isi belanjaan si Ibu. Menyusunnya di meja kasir untuk mempermudah si kasir mentotal nominal belanjaan tersebut. Pentotalan nominal selesai, belanjaan pun telah di packing dalam tempat masing-masing sesuai jenis barang sehingga antara bahan non kimia dan kimiawi akan terpisah keranjangnya.


 


Cantiknya..


 


Diam-diam, sedari awal Nia berdiri di depan meja kasir,  si kasir terus berusaha mencuri pandang ke arah wajah Nia.


 


"Saya tunggu Mama di sana ya", ucap Nia sambil menunjuk ujung meja kasir.


 


"Iya, Mama bayar dulu ya nak". Jawab si Ibu yang sekarang mengantikan posisi Nia, berdiri di depan Meja kasir.


 


"Terima kasih telah mempercayakan kebutuhan sehari-hari nyonya di Mall kami", sapa si kasir ramah pada Ibu. "Ini adalah total belanja nyonya". Ucap si kasir sambil menunjukkan angka di layar kecil yang berada tepat di depan Ibu.


 


"Terima kasih". Ujar si Ibu sambil mengeluarkan kartu debitnya dari dalam dompet. Selanjutnya proses transaksi pun di bantu oleh si kasir.


 


Sambil si Ibu memasukkan pin kartunya, si kasir mengajukan pertanyaan yang sudah sedari tadi dipendamnya dalam hati. "Apakah gadis cantik tadi anak nyonya?"


 

__ADS_1


"Benar". Jawab Ibu sambil mengembalikan mesin pembayaran melalui kartu kepada kasir.


 


"Cantik sekali, sama seperti Ibu". Ujar si kasir.


 


"Tentu saja, tetapi dia sudah ada yang punya". Ujar Ibu bersemangat. Si Ibu merasa ada niat lain di balik pertanyaan si kasir. Sepertinya si kasir sangat kagum pada Nia saat pandangat pertama tadi. Jadi dari pada terlalu panjang menjelaskan pada si kasir, lebih bagus bagi si Ibu memupuskan harapan si kasir dengan segera pada Nia.


 


Setalah ini pasti pertanyaannya masih singelkah? Kalau iya, lebih baik buat anak lelakiku.


 


Si kasir hanya bisa diam, tidak tahu lagi cara terbaik menyusun kata-kata. Dengan senyum yang dipaksakan, si kasir berusaha menyelesaikan proses transaksi, hingga kemudian hanya bisa terdiam sambil memperhatikan Nia berlalu dengan di gandeng oleh si Ibu.


 


 


"Sudah selesai Ma, dimana parkirnya?" Tanya Nia yang masih setia dengan kantong belanjaan si Ibu.


 


"Sudah nak, tapi Mama belum berencana pulang. Mama lapar, maukah kamu menemani Mama makan?" Tanya Ibu sambil terus mengandeng tangan Nia.


 


"Boleh Ma", jawab Nia. "Mama mau makan apa?" Tanya Nia kemudian


 


"Sepertinya pindang patin dengan taburan nanas segar, enak. Apakah Syania suka makanan itu?" Tanya Ibu ingin memastikan apakah Nia suka atau tidak.


 

__ADS_1


"Iya Ma, saya suka. Mari Ma, kita turun kelantai satu". Ajak Nia ramah pada si Ibu.


 


Sepanjang jalan menuju lantai satu, tidak sekali pun Nia melepaskan tangan Ibu yang mengandengnya. Entah apa nama perasaan yang tengah menjalar jauh ke dalam lubuk hatinya. Tetapi yang jelas Nia sangat menyukai waktu yang dihabiskannya bersama si Ibu. Ibu yang baru ditemuinya beberapa saat lalu, tetapi rasanya sudah sangat dekat, sudah sangat akrab.


 


Setelah memastikan si Ibu duduk dengan nyaman, Nia pun pamit untuk memesan makanan ke arah antrian conter menu pindang patin seperti keinginan Ibu. Tidak butuh waktu lama, kemudian Nia telah kembali ke meja tempat si Ibu berada dengan baki di tangan yang berisi nasi pindang patin, pelecing kangkung, air mineral botol, dan sepiring penuh buah segar.


 


Nia menata isi bakinya di hadapan Ibu, membukakan botol air mineral dan mempersilahkan si Ibu makan. Ibu tersenyum bahagia dengan cara Nia memperlakukannya.


 


Baru bertemu, tapi dia sangat sabar melayaniku. Andai saja, Tuhan...andai saja. Ibu berguman dalam hati kecilnya.


 


"Terima kasih nak, ayo kita sama-sama makan". Ajak si Ibu pada Nia.


 


Nia tersenyum sambil menganggukan kepalanya, entah kenapa rasanya acara makan kali ini terasa berbeda bagi Nia. Berbeda bukan karena saat ini dia tengah makan bersama wanita paruh baya yang baru dikenalnya, tetapi rasanya memang berbeda. Sulit baginya untuk menjelaskan.


 


Seperti inikah rasanya makan satu meja bersama seorang Ibu? Hangat dan nyaman.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2