SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
148


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


“Gimana ?” Resya memegang tangan Nia. Telapak tangan Nia berkeringat, wajah Nia juga memucat.


“Udah enggak papah kok “, jawab Nia lemah. “Hanya agak pusing saja “.


“Kita batalin acara nyalonnya ya ? Kita pulang saja !” Resya membuka tasnya dan mengeluarkan tisu buat Nia.


“Iya “. Jawab Nia singkat.


“Berpeganganlah padaku “, Resya kembali menatap wajah Nia yang pucat itu.


“Kamu kenapa sebenarnya ?” Resya membawa Nia keluar toilet. Semua siaga, para pengawal heran melihat wajah sang nyonya sedikit memutih.


“Dan, sudah telepon tuan ?” Suara Nia pelan.


“Bayu sedang menghubungi tuan. Nona jangan khawatir ya “. Ucap Dani menyakinkan. “Sekarang kita ke Rumah Sakit saja ya nona ?” bujuk Dani.


“Enggak Dan, kita pulang saja ! Saya mau rebahan. Kepala saya pusing “. Dani terlihat enggan mengiyakan permintaan Nia.


Baru beberapa langkah meninggalkan toilet, mendadak Nia menepuk tangan Resya. Nia menutup mulutnya, membuat Resya kembali membawa Nia masuk ke dalam toilet.


***************

__ADS_1


"Pak, ada sedikit masalah ". Dani memulai kalimat pertamanya saat tahu Kristo telah menerima panggilan telepon darinya.


"Ada apa ? Cepat bilang !" Jantung Kristo berdegub tidak beraturan. Pikirannya langsung melayang ke nyonya muda mereka, istri terkasih sang tuan.


"Pak, ini tentang nona ". Suara Dani cukup takut.


"Ya, saya dengar ". Kristo melirik ke arah sang tuan. Berharap Aisakha tidak terlalu terpengaruh dengan telepon yang sedang di terimanya.


"Nona muntah dan sekarang masih di toilet di temani sama nona Resya. Kalau dari suara Nona Resya, sepertinya nona agak lemah ". Tanpa kurang, tanpa lebih. Dani melaporkan situasi Nia.


"Kalian bodoh ". Suara geram Kristo. "Kalian kasih makan apa nona ". Tiba-tiba dalam hatinya Kristo langsung mengutuki diri. Tanpa sengaja menyebut nama nona, bisa di pastikan Aisakha pasti sudah mendengar dari bangku belakang mobil.


"ADA APA ?" Benar tebakan Kristo. Telinga Aisakha langsung berdiri begitu mendengar kata nona. Suara Aisakha sangat keras, Dani yang berada di ujung telepon saja sampai terkaget-kaget. “ISTRIKU KENAPA, NIA KENAPA ?”


Sedang Aisakha, tangannya mencengkeram keras bahu Kristo. "KALAU KAU MASIH DIAM, AKU LEMPAR KAU KELUAR ". Teriak Aisakha penuh ancaman.


"Tuan, saya mohon tenang ". Kristo mencoba membujuk Aisakha. "Nona mengalami muntah di Mall sekarang. Menurut Dani, nona agak lemah ". Jelas Kristo persis seperti yang di sampaikan Dani. "Saya sudah perintahkan mereka segera membawa nona ke Rumah Sakit ! Kita akan susul ke sana ".


"Bagaimana bisa ?" Aisakha kembali duduk ke posisi awal. "Pecat pengawal Nia setelah ini ! Saya tidak mau ada orang bodoh yang menjaga Nia !" Suara Aisakha sangat marah. "Ahhh, apa yang mereka lakukan pada istriku ? Mereka kasih makan apa Nia ?" Suara masih marah.


"Tidak, jangan pecat meraka, itu terlalu baik. Kau hajar saja mereka !" Masih marah. Sedang Kristo memilih diam. Dirinya tahu Aisakha sedang marah dan sangat khawatir pada Nia.


****************


"Nia ". Resya menyibak rambut Nia ke belakang.

__ADS_1


"Gak enak ", jawab Nia yang sudah memuntahkan semua isi perutnya.


"Kita ke dokter saja ya ?" Resya merasa iba pada kondisi Nia.


"Iya Sya, tapi sebentar lagi ya.... huaaaak ". Kalimat Nia tidak selesai, dirinya kembali muntah.


"YaTuhan....kamu kenapa ?" Resya mengusap-usap punggung Nia.


Beberapa detik berlalu. Resya mengamati muka pucat Nia. Muntahnya sudah berhenti, mata Nia basah, ada air mata jatuh di sudut matanya. Sepertinya kondisi Nia memang kurang baik.


"Bisa berdiri ?" Resya menatap Nia. Nia pun mengangguk pelan.


"Ayo bergantung ditanganku !" Resya mengulurkan tangannya. "Ayo kita keluar, aku akan bawa kamu ke Rumah Sakit ". Dan lagi-lagi, Nia hanya mengangguk pelan.


Resya berhasil memapah Nia keluar dari toilet. Bayu dan Dani maju, pengawal yang lain bersiaga. Mereka sangat khawatir, wajah tegang dan sekaligus iba. Semua bisa melihat betapa pucat Nia.


"Tolong bantu nona kami !" Bayu menatap Resya sambil memberi jalan pada sahabat sang majikan.


Dengan langkah pelan Resya menuntun langkah Nia. Bayu dan Dani berjalan di sisi kanan kiri Nia dan Resya, serta 5 pengawal lainnya mengekor di belakang Nia.


Dan jangan lupakan lelaki berjaket merah dengan topi menutup separuh wajah, yang juga masih setia berdiri di tempat semula, mengamati sekitar dengan senyum yang lebar.


 


 

__ADS_1


__ADS_2