SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
110


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


"Apa kamu tahu Kristo, senja baru itu adalah milik saya ?" Bangga Nia pada si sekretaris suaminya ini saat mobil sedan Aisakha telah berjalan jauh.


 


Tanpa melihat ke arah Nia, Kristo hanya menganggukkan kepalannya sebagai jawaban.


 


"Dan apa kamu tahu juga, kalau tuan punya hadiah buat saya ?" Nia mencoba mencari informasi tentang hadiah pernikahan dari Aisakha untuknya. Nia terlalu penasaran karena sang suami tidak kunjung memberitahukan apa gerangan atau hanya sekedar memberi sedikit informasi ke mana tujuan mereka sekarang.


 


Kristo diam, hampir saja dia refleks mengerakkan kepalanya untuk mengangguk. Untungnya dia masih bisa mencerna semuanya, tahu kalau nyonya mudanya itu sedang coba menjebaknya.


 


"Hey...kenapa kamu diam ?" Nia merasa heran, perasaannya mengatakan baru beberapa detik tadi Kristo mengangguk, kenapa sekarang sudah diam ?


 


"Mungkin dia lelah dan tertidur, Nia ". Aisakha memeluk Nia.


 


"Padahal sedetik tadi dia masih gangguk loh sayang ". Rajuk Nia.


 


"Sudah, tidak usah menggangunya. Nanti kamu juga tahu apa hadiahku untukmu ". Aisakha mencium puncak kepala Nia.


 


"Apakah jauh ?" Tanya Nia sambil mainkan jarinya di dada Asiakha.


Aku suka detak jantung Mas, seperti alunan musik yang menenangkan.


 


"Emmm, sedikit ". Aisakha melihat sang isteri sibuk mengambar hati di dadanya dengan telunjuk lentiknya.


 


"Aku suka detak jantungmu ". Nia meletakkan telapak tangannya di tempat detak jantung Aisakha berbunyi tenang.


 


"Kenapa ?" Aisakha melihat Nia mulai menguap.


 


"Seperti bunyi musik relaksasi, sangat membuat tenang ". Aku Nia.


 


"Kalau begitu pejamkan matamu !" Aisakha mengerakkan telunjuk ya ke arah kening Nia, lalu turun perlahan ke hidungnya. Hingga membuat Nia memejamkam mata.


 


"Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu ". Nia terlihat sangat tenang dalam pelukan suaminya.


 


"Kamu hampir terjebak tadi ?" Suara pelan Aisakha pada Kristo saat nafas Nia sudah berhembus teratur, Nia sudah tertidur.


 


"Hampir tuan ". Kristo mengaruk kepalanya sesaat, sadar kalau sang tuan menyadari sikapnya yang hampir menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Nia.


 


"Kamu lihat, betapa penasarannya isteriku ?" Aisakha tampak senang.


 


"Dan nanti nona pasti langsung meleleh kalau tahu apa hadiah dari tuan ". Kristo sedang berkhayal.

__ADS_1


 


"Meleleh ? Hahaha ". Aisakha tertawa pelan.  "Bahasamu tinggi sekali ".


 


"Saya belajar dari tuan ". Jawab Kristo dengan wajah di buat selugu mungkin.


 


"Awas kau, mengejekku lagi akanku pecat !" Setengah berteriak, takut membangunkan Nia. "Aku bukan lelaki seperti yang kau pikirkan ". Terlihat menolak keras.


 


"Tapi kalau sama nona ?" Kristo bersikap tanpa dosa.


 


"Itu lain, bodoh ", masih dengan suara menahan teriak kesal karena tahu, si sekretaris terus meledek dirinya. "Sama isteri sendiri ya mesti seperti itu ! Huh, dasar jomblo tahu apa kamu ". Mendengus kesal.


 


Saya tahu tuan bucin, bucin parah, akut tingkat dewa sama nona. Ihhhhh, ngeri banget.


Menjawab, tapi cuma berani menjawab di dalam hati.


 


"Saat kau menemukan cinta sejatimu, belahan jiwamu. Saat itu kamu pasti akan sanggup melakukan apapun itu untuk dia, termasuk menjadi sosok terbaik untuknya meskipun itu terlihat aneh di mata orang lain ". Aisakha memandangi wajah teduh Nia. "Dan kamu tidak perduli itu, asalkan dia bahagia ".


 


"Dan tuan sangat beruntung ". Ucap Kristo tulus sambil tersenyum.


 


Laju mobil mewah Aisakha masih terlihat tenang membelah Kota Jakarta, membawa si empunya dan isterinya yang terlihat sangat damai di belakang sana. Hingga hitungan waktu berlalu. Sampailah mereka ke tempat tujuan.


 


Sopir kepercayaan Aisakha memarkir mobil di depan pintu pagar putih, pintu dengan model sederhana khas jaman dulu.


 


 


"Keluarlah dulu, aku akan membangunkan Nia !" Ucap Aisakha yang di jawab anggukan patuh oleh Kristo.


 


"Nia...", Aisakha meletakan tangannya di pipi sang isteri, mencoba membangunkan Nia yang belum terjaga.


 


"Nia, kita sudah sampai ". Sekali lagi Aisakha mengusap pipi sang isteri.


 


"Hemmm ", jawab Nia tanpa membuka mata.


 


"Kita sudah sampai ", Aisakha kembali mengusap sayang pipi Nia.


 


"Sudah sampai ?" Tanya Nia tetap tanpa membuka matanya.


 


"Iya, sudah sampai ". Aisakha memandang isterinya itu, sudah terjaga tetapi malas membuka matanya.


 


"Aku gendong ya !" Dan Nia hanya mengangguk setuju, matanya masih terpejam.


 


Kristo berdiri di dekat pintu mobil, membuka cepat saat tahu sang tuan akan segera turun.


 

__ADS_1


Dalam hati Kristo sangat penasaran, adegan apa yang akan terjadi selanjutnya kalau sang nyonya muda sudah membuka mata dan melihat hadiah yang telah di siapkan sang tuan padanya.


 


"Sayang ". Nia membuka matanya saat Aisakha telah melangkah menjauh dari mobil. "Kenapa jantungmu berdegub begitu keras ?" Nia merasa heran.


 


Dug, dug, dug...


Benar saja, jantung Aisakha sangat ribut. Mendadak ritmenya menjadi cepat, berdebar jelas, membuat Nia terheran-heran.


 


Karena aku sangat penasaran, apakah kamu akan suka hadiahku ini Nia ?


"Mungkin karena aku sangat mencintaimu ". Jawab Aisakha sambil tersenyum. Sedang Nia mengkerutkan keningnya tambah heran.


 


"Sayang, apa aku berat ?" Nia mencoba mencari tahu kemungkinan penyebab lain.


 


"Hahaha  ", tawa kecil Aisakha membuat Nia jadi bingung. "Kamu itu sangat ringan isteriku, apa kamu gak makan dengan baik ?" Aisakha malah bertanya, pertanyaan asal saja.


 


"Kamu kenapa sih ? Kok jawabnya ngasal aja ?" Nia memandang wajah Aisakha.


 


"Sudah sampai ". Bukan menjawab pertanyaan Nia, Aisakha malah memberitahukan sebuah informasi padanya.


 


"Sudah sampai ?" Nia masih memandangi wajah tampan suaminya.


 


"Aku turunkan kamu ya !" Ucap Aisakha yang segera diiyakan oleh Nia.


 


Perlahan Aisakha menurunkan Nia, membuat tubuh sang isteri menghadap persis ke arah jalan, membelakangi dirinya. Tangan Aisakha terlihat nyaman di pinggang Nia.


 


"Sayang ". Nia langsung takjub melihat 3 pot bunga angrek bulan yang sedang mekar sempurna, tidak berapa jauh dari posisi mereka berdiri. Cepat Nia berjalan ke arah angrek itu.


 


"Hallo ". Sapa Nia pada tanaman yang sudah lama tidak lihatnya. "Nama aku Syania ". Aisakha tersenyum, Nia sangat mengemaskan di pelupuk matanya.


 


"Sayang, dulu Ibu punya angrek bulan, 3 pot ". Nia mulai bersuara tetapi dengan mata yang fokus hanya ke angrek saja. "Mereka sama seperti ini ". Nia mengelus kelopak bunga putih di depannya dengan kagum. Sedang Aisakha, dengan tangan di dalam saku celana, senyum terus menghias wajahnya.


 


"Dulu Ibu juga punya tanaman bunga sedap malam, terus bunga kecil-kecil gituh, tapi cantik banget ". Nia mulai memandangi hamparan halaman di sekitarnya. "Seperti ini sayang ". Nia menyentuh bunga berwarna biru keunggu-ungguan.


 


"Aku pernah tanya sama Ibu, kata Ibu namanya bunga seribu satu malam. Soalnya, dia lama banget baru berbunga. Saking lamanya, diumpamakan seribu saru malam sekali baru deh keluar bunga ". Nia mengelus bunga itu dengan hati-hati.


 


"Terus Ibu juga punya bunga kembang sepatu kuning sama merah menyala ". Nia merasa ada yang aneh. Dia mulai berpikir. "Seperti ini bunganya ". Suara Nia sedikit pelan, tetapi Aisakha tetap bisa mendengar. "Dan Ibu juga punya bunga tristas putih ". Suara Nia tambah pelan, Nia kaget karena menemukan bunga itu di sebelah bunga kembang sepatu.


 


Nia berdiri tegak, melihat ke arah Kristo yang berdiri santai bersandar pada mobil di luar pagar.


 


Pagar itu ?


Jantung Nia mulai terpacu cepat. Sepertinya, dirinya sedang merangkai sesuatu untuk mencari tahu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2