
Salah Paham
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
Mama mau ngapain itu ? Kenapa tanganya diangkat ke arah Mas ? Nia masih tengelam dalam praduganya sendiri.
 
"Tidak". Nia menutup matanya dengan kedua tangan, dia tidak ingin melihat Mama yang bersiap akan memukul wajah Aisakha. Ya, kejadian itulah yang di prediksi Nia akan terjadi selanjutnya pada kekasihnya itu.
 
Suasana hening, Kristo yang sedari tadi hanya menjadi penonton terlihat tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Kristo maju sedikit kedepan, dia harus melihat dengan pasti apa yang telah terjadi pada Sang tuan. Apa lagi setelah mendengar suara Nia barusan, Kristo mulai gusar.
 
"Loh". Kristo melonggo melihat dua sosok manusia sedang berpelukan. "Kok bisa?" Kristo masih tidak percaya.
 
"Apa kamu lihat-lihat". Mama memandangi Kristo. "Tunggu hukumanmu nanti". Ancam Mama pada kristo dengan sorot mata yang tajam, setajam silet. Wkwkwkw, menurut Kristoloh ya.
 
Kristo mundur teratur sambil sibuk mengaruk kepalanya. Meskipun tidak gatal, tetapi entah kenapa Kristo malah melakukan hal tersebut, Kristo menjauh dari situasi yang terlihat kurang kondusif bagi keberlangsungan hidupnya. Maaf Bu, saya enggak ikut-ikutan. Itukan ulah tuan. Bukan saya, Bu. Hehehehe.
 
Nia masih bertahan diam, masih menutup matanya karena terlalu takut dengan bayangan dalam pikirannya sendiri. Satu detik berlalu, Nia mulai memasang telinganya lebih lebar.
 
Salah dengar atau memang benar ? Atau belum mulai, kok enggak ada suara ya? Apa Mama mukul Mas ya pelan, mangkanya enggak kedengaran?
 
Pelan Nia menurunkan tangannya, mencoba sedikit mengintip dari sela-sela jemarinya untuk mencari kepastian akan keadaan sekitar. Apa-apaan mereka berdua? Kenapa berpelukan, kenapa Mama dan Mas Sakha malah berpelukan? Eh, kok Mama malah terlihat sangat bahagia?
 
Nia menurunkan tangannya, dirinya bingung tidak percaya. Jelas terlihat Mama sedang memeluk Aisakha, lelaki itu begitu terlihat biasa saja saat Mama memeluknya erat, bukan-bukan Nia meralat. Bukan terlihat biasa, tetapi terlihat Aisakha menyukai ada dalam pelukan Mama.
 
"Ada apa ini?" Nia menatap penuh tanda tanya.
__ADS_1
 
"Nia". Aisakha melepaskan pelukakan Mama, tersenyum secerah mentari. "Kemarilah". Aisakha memberi tanganya pada Nia.
 
Nia mengeleng, dia merasa bingung.
 
Aisakha berjalan ke arah Nia, menarik tangan wanita itu agar mau berjalan ke arah Mama.
 
"Kamu dan Mama, apa-apaan itu?"Â Nia masih belum bisa mencerna apa arti semuanya
 
"Sayang perkenalkan, ini Mama. Ma, perkenalkan ini Syania Fira Sujoko. Nianya aku Ma, Nia yang sudah aku cari selama 3 tahun ini". Aisakha memperkenalkan antara Mama dan Nia.
 
"Apa arti semua ini?" Nia masih belum bisa memahami semuanya.
 
"Nia, ini adalah Mama kandung aku. Ibu aku". Aisakha membentangkan kedua tangannya di depan Mama. Aisakha ingin memberitahu Nia tentang itu.
 
 
"Jangan bercanda?" Ni menatap curiga pada Aisakha.
 
"Kemarilah nak, beri Mama pelukan !" Sepertinya Mama sangat senang. "Jangan takut". Nia menatap Aisakha dan Mama secara bergantian.
 
Mata mereka sama, warna kulitnya juga sama, bentuk hidung sama, dan warna rambut mereka sama, mereka mirip. Ini seriuskan?
 
"Jadi, jadi Mama adalah?" Nia mengerjabkan matanya beberapa kali. Masih ada sedikit rasa tidak percaya.
 
"Mama adalah Ibu dari lelaki yang kamu bela mati-matian ini". Tunjuk Mama pada Aisakha. "Lelaki yang kamu bilang sangat kamu cintai".
__ADS_1
 
"Bagaimana bisa? Lantas apa artinya tadi itu? Kenapa Mama memarahinya kalau memang dia adalah anak Mama? Apa, apa jangan-jangan kalian mau mengerjai aku?" Nia bersikap waspada.
 
"Hahahaha". Mama tertawa sendiri. "Kemarilah nak". Mama mencoba mengapai tangan Nia. Tapi Nia sengaja menghindar, dia masih bersikap waspada.
 
"Loh, kok begitu sama mama mertuanya?"
 
Nia lebih memilih diam dibandingkan menjawab pertanyaan Mama.
 
"Kenapa bersikap seperti itu sama Mama?" Aisakha tidak habis pikir melihat kediaman Nia.
 
"Kamu sengajakan mau ngerjain aku, iyakan?" Nia menatap serius pada Aisakha. "Kamu mau ngetes aku, kamu ragu sama aku? Padahal sedari awal aku sudah bilang tolong bersabar terhadap hatiku. Dan sekarang, saat aku sudah percaya padamu, pada cintamu. Kamu malah mengetes keseriusan aku?" Nada suara Nia terdengar dalam, sepertinya Nia marah. "Apa kamu mikir perasaan aku, ha? Aku takut sekali tadi".
 
Spontan Aisakha mengeleng, waduh...ini kenapa jadi salah paham?
Aisakha meraih tangan Nia, menarik paksa Nia dan memeluknya. Nia mencoba memberontak, dia terlihat sedang mendorong tubuh kekar Aisakha agar menjauh darinya.
 
"Kamu jahat". Nia sudah kehabisan tenaga. Percuma dia mendorong Aisakha agar menjauh darinya, dia tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Akhirnya Nia membiarkan saja dirinya ada dalam pelukan Aisakha. "Aku sangat takut, aku pikir akan kehilangan kamu".
 
"Sheeeeettttt", Aisakha mencoba menenangkan Nia. "Kamu enggak akan kehilangan aku. Aku hanya milikmu sayang, lelakimu seorang. Maaf ya sudah buat kamu takut. Sekarang cobalah tenang, aku akan jelaskan semua".
 
"Ma", Aisakha terlihat memberi tatapan bermohon pada Mama, bermohon bala bantuan Mama untuk menjelaskan semuanya agar tidak ada kesalahah pahaman yang terjadi. Jelas dari segala sudut pandang, Aisakha juga tidak pernah menyangka semua berjalan seperti ini. Tadinya dia hanya ingin melindungi Nia dari seorang Ibu yang menurut Aisakha punya maksud tersembunyi dari kebaikannya terhadap Nia. Tapi setelah mengetahui siapa gerangan si Ibu tersebut, Aisakha malah di buat berkali-kali lipat tidak percaya. Ternyata Tuhan punya cara terbaik untuk memberikan kebahagiaan bagi hamba-NYA.
 
"Nia". Mama mendekati kearah Nia dan Aisakha. Nia masih bertahan dalam pelukan Aisakha. "Maaf nak, kamu jadi salah paham".
 
"Sekarang kita duduk dulu, ada yang perlu Mama luruskan". Nia menatap Aisakha, dan Aisakha mengangguk pelan melepaskan pelukannya pada Nia, membawa Nia duduk di kursi awal Nia dan Mama tadi berada.
__ADS_1