SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
9


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Mama mengetuk pintu ruang kerja Edo, beliau ingin masuk tapi takut menganggu anak lelaki kesayangannya. "Ini mama, nak ". Suara Mama memberitahu Edo dari luar pintu.


γ€€


"Masuk Ma ". Jawab Edo cepat.


γ€€


"Sibuk ?" Tanya Mama sambil berjalan mendekat ke meja kerja Edo. "Sudah lewat jam 12 malam loh".


γ€€


"Tanggung Ma, dikit lagi ". Jawab Edo tanpa melihat ke arah Mama.


γ€€


"Mama sendiri kenapa gak tidur ?" Tanya Edo dengan mata yang tetap fokus pada pekerjaannya.


γ€€


Mama diam, sibuk memandangi sebuah lemari yang penuh dengan deretan buku-buku koleksi Edo. Kasihan semua buku-buku ini, tidak pernah tersentuh lagi. Padahal dulu Edo bercita-cita menjadikan ruangan ini perpustakaan mininya. Sekarang lihatlah semua, sia-sia dan tidak terawat. Ah, sayang sekali rasanya.Β Mama menarik nafas panjang.


γ€€


Semenjak kejadian 3 tahun lalu, Edo benar-benar berubah. Kadang aku rindu sisi lembut anakku ini. Semua karena wanita pembawa sial itu. Susah payah aku mengusirnya, tapi kepergiaannya malah membawa sebagian diri Edo. Aku benar-benar membenci wanita itu. Jangan sampai aku bertemu lagi dengannya. Jangan sampai.


γ€€


Merasa tidak mendapat jawaban dari sang Mama, Edo menghentikan aktivitas jarinya di atas keyboard dan beralih menatap Mama. "Ma, Mama ?" Panggil Edo. Sang Mama masih terdiam, tengelam dalam lamunannya. "Ma ?" Panggil Edo sekali lagi.


γ€€


"Oooh, iya.. kenapa nak ?" Mama agak terkejut. Suara Edo membawanya kembali ke dunia nyata.


γ€€


"Mama melamun, kenapa ?" Tanya Edo masih melihat kearah sang Mama.


γ€€


"Enggak, Mama hanya ngebayangin aja apa kamu enggak capek Do. Dari pagi sampai tengah malam gini masih saja sibuk dengan pekerjaanmu ?" Mama tidak mau jujur mengungkapkan apa yang sebenarnya menganggu pikirannya tadi.


γ€€


"Sudah jadi tanggung jawab aku Ma. Aku mau buktikan sama Papa kalau aku bisa diandalkan untuk menjalankan bisnis keluarga kita Ma ". Jawab Edo sambil melanjutkan pekerjaannya.


γ€€


"Tapi jaga kesehatanmu ya nak, bentar lagi kamukan mau jadi manten ". Mama memperhatikan Edo sudah sibuk lagi menatap layar laptopnya.


γ€€


"Iya Ma ". Jawab Edo malas.


γ€€


Edo melanjutkan kegiatannya, masih terus asyik dengan semua pekerjaannya. Mama masih berdiri di dekat meja kerja Edo, sepertinya Mama belum berniat meninggalkan anak lelaki kesayangannya itu.


γ€€


Edo berhenti menatap layar laptopnya, ada rasa penasaran karena Mama sepertinya masih diam mematung, berdiri di depan mejanya.


γ€€


"Kenapa Ma ?" Tanya Edo melihat sang Mama yang sepertinya tengah menatap ke arah lemari berisi koleksi buku-bukunya dulu sama seperti tadi.


γ€€


"Kasihan mereka semua Do, mereka terabaikan sekarang ". Tunjuk Mama pada lemari buku milik Edo.


γ€€

__ADS_1


"Aku sibuk Ma, tidak ada waktu untuk itu ". Edo terlihat sangat tidak bersemangat menanggapi semua perkataan Mama.


γ€€


"Mama belum jawab pertanyaanku tadi ". Edo sengaja mencari bahan obrolan baru, mengalihkan permbicaraan.


γ€€


"Apa nak ?" Mama sepertinya tidak ingat kalau Edo mengajukan pertanyaan padanya.


γ€€


"Aku tanya, kenapa Mama belum tidur ?" Edo mengulang pertanyaannya di awal.


γ€€


"Ooo, Mama tadi sudah tidur. Terus kebangun karena haus. Jadi Mama ambil minum kebawah ".


γ€€


"Mama masih sering haus ya ".


γ€€


"Iya, masih seperti itu juga nak ".


γ€€


"Obat Mama sudah di minum tadi ?" Tanya Edo sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya kembali ke dalam map file masing-masing.


γ€€


"Mama minum teratur Do, diet makannya juga masih sama. Jangan khawatir ".


γ€€


"Yang penting Mama ikuti semua petunjuk dokter aja. Minum obat teratur, dietnya tetap di lakukan sama jangan banyak pikiran ". Edo masih menyusun semua lembar kertas-kertas kembali ke tempatnya. "Rasa haus yang Mama rasa itu wajar kok, kan memang seperti itu katanya bagi penderita diabetes".


γ€€


γ€€


"Berhentilah memikirkan aku, Ma. Aku sudah dewasa, Mama jangan mencemaskan aku lagi !"


γ€€


"Tunggulah sampai kamu menjadi orang tua nanti nak, kamu akan tahu kenapa Mama seperti ini. Mama sanggup melakukan apa saja demi kebahagiaan kamu Do, anak Mama ". Jawab Mama tegas.


γ€€


Edo menatap Mama sesaat, hanya sesaat, kemudian kembali lagi menyusun semua kertas-kertas yang tadi dilakukannya.


γ€€


"Setidaknya kurang 2 minggu lagi kamu akan menikah. Akan ada yang mengurus kamu Do. Mama bisa lebih tenang ".


γ€€


"Boleh aku tanya satu hal Ma ?"Β  Edo menghentikan aktivitas tangannya, padahal tinggal beberapa lembar kertas saja lagi.


γ€€


"Tentu saja, apa nak ?" Mama menatap Edo.


γ€€


"Kenapa Mama menjodohkan aku dengan Kemala ?" Edo langsung menatap mata sang Mama, berharap ada jawaban yang bisa menenangkan hatinya.


γ€€


"Karena Kemala tulus mencintaimu, sejak kalian masih SMA. Kemala sudah jatuh cinta padamu, sejak sekian lama dan cintanya pada tanpa pamrih Do, tanpa embel-embel apapun ". Mama dan Edo bersitatap.


γ€€


"Kemala berasal dari keluarga terpandang, sederajat dengan kita, berpendidikan juga cantik. Dia sangat pantas mendampingi kamu, kalian sangat serasi. Tidak seperti wanita pembawa sial itu ". Rahang Edo mengeras, tangan kanannya mengepal. Cepat Edo membuang muka dari sang Mama. Ada rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


γ€€


"Jangan bandingkan Kemala dengannya Ma ". Suara Edo terdengar dingin.


γ€€


"Kenapa ? Apa kamu terlihat tidak suka kalau Mama membandingkan Kemala dengannya ? Kemala itu jauh seribu kali lebih baik dari wanita pembawa sial itu ". Ucap Mama tegas. "Atau jangan-jangan kamu ?" Mama lebih mendekat ke meja kerja Edo. Edo terlihat kembali menyusun sisa kertas di atas meja kerjanya.


γ€€


"Setelah apa yang dilakukannya padamu, nak ? Kamu masih memiliki rasa padanya, iya Do ?" Suara Mama terdengar getir. "Mama bersimpuh dihadapannya Do, Mama mohon pada wanita pembawa sial itu jangan tinggalkan kamu. Oke, oke, Mama akui ". Mama sudah berdiri persis di depan meja kerja Edo, melihat Edo yang berpura-pura sibuk dengan membolak-balik kertas yang telah tersusun rapi.


γ€€


"Mama akui, Mama sempat marah padanya. Karena dia, kamu sampai nekat memanjat tebing terjal hingga musibah itu terjadi. Tapi setelah itu, setelah itu Mama minta maaf padanya nak. Mama bersimpuh di hadapannya memohon agar dia tidak meninggalkan kamu. Saat itu kamu baru saja masuk ruang operasi, kamu masih koma ". Mama memegang keras lembaran kain yang melekat di depan dadanya.


γ€€


"Dia mendorong Mama keras Do dan memaki Mama, dia bilang kamu sudah tidak berguna. Dia tidak sudi melihat lelaki yang belum tentu akan selamat dari maut. Dia memilih meninggalkan kamu dan mencari lelaki lain, lelaki kaya lain yang bisa dimanfaatkannya ". Mama menangis.


γ€€


Cepat Edo mematikan laptopnya dan berjalan kearah Mama. Edo merangkul Mama, hatinya terasa kian sakit.


γ€€


"Mama jangan mengungkit cerita itu lagi. Sudahlah ". Mendadak, meliihat sang Mama menangis sedemikian rupa. Edo merasa tingkat kebenciannya pada Nia semakin bertambah.Β Betapa aku membencimu, sudah bertahun-tahun berlalu, kau masih saja membuat hatiku sakit. Kau memang wanita sialan.


γ€€


Edo menuntun sang Mama menuju kamar tidurnya dan setelah Mama menutup pintu kamarnya, barulah Edo masuk ke kamar tidurnya sendiri.


γ€€


Mama berjalan ke arah ranjang, dan memilih duduk di ujung ranjang. Ingatannya kembali pada sosok gadis cantik yang sangat di puja anak lelaki satu-satunya di masa lalu. Gadis cantik yatim piatu, bukan dari keluarga berada. Sangat tidak cocok dengan dirinya, dengan keluarga mereka.Β Bahkan setelah hitungan tahun, kau masih saja membawa sial bagi anakku. Kau masih saja membuat dia tidak melupakanmu, padahal aku sudah habis-habisan menjelekkanmu. Kau memang berpengaruh buruk bagi Edo. Dasar wanita pembawa sial.


γ€€


"Dari mana Ma ?" Sang suami menyadari kalau isterinya hanya duduk di tepi ranjang. "Ayo sini, kembali tidur ".


γ€€


Mama naik keatas tempat tidur, kembali berbaring dan masuk ke dalam selimut sambil memandangi wajah suaminya.


γ€€


"Ada apa ?"


γ€€


"Edo masih mengingat wanita pembawa sial itu Pa ".


γ€€


"Nia, Ma. Namanya Nia. Dan berhentilah meracuni pikiran Edo. Saat Edo tahu kebenarannya suatu hari nanti, Edo akan membenci Mama, sangat membenci Mama. Mama camkan itu ". Papa berbalik badan membelakangi sang isteri. Dirinya terlalu malas mendengar keluh kesah sang isteri tentang Nia. Setelah semua yang dilakukan keluarga merek pada Nia, Papa merasa sangat berdosa. Membiarkan gadis yang dicintai anak tunggal mereka hilang entah kemana karena isterinya sendiri.


γ€€


Mama kesal mendapati sang suami bersikap demikian padanya, rasanya dia ingin menyebutkan semua isi kebun binatang untuk mewakilkan sumpah serapahnya pada Nia, wanita yang menurut Mama tidak akan pernah pantas masuk dalam keluarga mereka.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Edo masih menatap langit-langit kamarnya, rasa sakit di dadanya masih bertahan dalam kadar yang sama. "Semua ini karena kau ". Guman Edo marah. "Kau entah dimana, tapi kau tinggalkan rasa sakit ini untukku ". Edo mengacak rambutnya asal. "Kenapa aku tidak mati saja 3 tahun yang lalu ? Buat apa aku hidup hanya untuk kau buang, ha ? Kau kejam Nia, kau sangat kejam ". Tanpa di sadarinya, air mata jatuh di sudut matanya. Hal sama yang nyaris terjadi di setiap malamnya selama 3 tahun ini. Sendiri meratapi cintanya yang di buang oleh wanita pujaannya sendiri.


γ€€


Edo meratapi diri atas kekejaman cinta masa lalunya, betapa besar rasa sakit yang tertanam kuat di hatinya dan semua itu, karena seorang wanita bernama Syania.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2